
Yaya memasuki sebuah apartemen sedang yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Ia sengaja meminta Garrel mencarikan tempat tinggal yang cukup jauh dari perkotaan. Alasan utamanya adalah karena dia ingin menghindari orang-orang di masa lalunya dahulu. Tinggal di dalam kota memang beresiko tinggi bertemu dengan beberapa orang yang belum ingin ia temui, seperti papa dan kakaknya. Dua orang yang paling ingin dia hindari sampai saat ini. Karena terlalu banyak luka yang mereka taruh dihatinya. Yaya masih kecewa pada mereka.
Yaya meringis pelan. Ia mengingatkan pertemuan tak terduganya dengan Gavin tadi. Ia berharap Gavin tidak bercerita pada siapa-siapa tentang pertemuan mereka. Gadis itu berjalan masuk ke ruang depan dengan tampang kusut dan sesekali mendes ah berat.
"Kamu kenapa? Jalan kok kayak mayat hidup begitu." suara tersebut menyadarkan Yaya. Ia mengangkat kepala dan memandangi Garrel yang juga sedang menatapnya dengan raut wajah heran.
Oh iya! Dia lupa kalau Garrel masih ada di sini. Pria itu sedang membantu mengatur-atur barangnya. Garrel memang sengaja mengambil cuti hari ini agar bisa membantu Yaya pindahan. Gadis itu tersenyum kusut lalu membanting diri ke sofa. Garrel menghentikan pekerjaannya sebentar lalu ikut duduk disebelah Yaya.
"Kenapa? Ada masalah dengan pekerjaan barumu?" tanyanya. Apalagi sekarang masih siang, seharusnya sedikit tidak masuk akal dia pulang cepat hari pertamanya masuk kerja, bukannya karyawan baru akan dapat tugas cukup banyak? Apalagi itu adalah perusaahan Rax. Ia kenal sekali dengan tipe pria seperti Raxel. Walau mereka jarang ketemu setelah laki-laki itu balik ke Indonesia, tapi Raxel adalah pria yang terkenal dengan sosok yang gila kerja.
"Kamu mau tahu apa yang aku alami hari ini?" ucap Yaya menatap Garrel. Semenjak keduanya menjadi sahabat, tidak pernah ada yang ditutup-tutupi Yaya dari Garrel. Ia sangat percaya pada pria itu. Apalagi Garrel adalah sosok pendengar yang baik bahkan terkadang akan memberinya arahan yang bisa dia terima.
"Apa?" balas Garrel. Penasaran juga.
"Aku bertemu Gavin di kantor itu, sepertinya dia dan sih bos perusahaan itu saling kenal. Bukan, bukan sepertinya, mereka memang saling kenal." Yaya mendengus pelan mengingat kejadian tadi. Ia lalu teringat sesuatu.
"Bukankah kau bilang pria itu adalah temanmu? Kau tidak tahu dia dan Gavin berteman?" tanyanya ketika mengingat perkataan Garrel waktu itu. Matanya menyipit curiga. Jangan-jangan Garrel sengaja lagi membuatnya melamar kerja di perusahaan tersebut karena alasan lain. Tapi masa Garrel setega itu sih. Pria itu kan yang paling tahu tentang dia sekarang. Tapi kalau memang benar, awas saja. Yaya akan menyebutnya pengkhianat, karena berkhianat terhadap sahabat sendiri.
"Jangan lihat aku begitu. Kali ini betul-betul bukan rencanaku. Aku tidak tahu Raxel dan Gavin saling kenal, dia tidak pernah cerita. Apalagi kami pun jarang sekali bertemu setelah pria itu balik ke Jakarta." ucap Garrel jujur. Karena dirinya memang tidak tahu. Dia malah baru tahu dari mulut Yaya barusan.
"Kali ini? Maksud kamu, kamu pernah merencanakan sesuatu dibelakangku? Rencana apa? Jujur padaku" tuntut Yaya. Garrel tidak sadar kalau dirinya malah mengatakan perkataan yang membuat Yaya makin curiga. Pria itu tersenyum ke gadis yang terus menatapnya tajam. Apa sebaiknya dia mengaku saja? Daripada nanti Yaya tahu sendiri dan marah padanya.
"Apa katamu? Garrel, kamu benar-benar pengkhianat..." cetus Yaya ketika Garrel mengaku padanya. Gadis itu jelas merasa kesal sampai mencubit lengan pria itu yang berotot.
"Aww, sakit Yaya." balas Garrel mengusap-usap bagian lengan yang kena cubitan Yaya. Dia mengaku tentang rencana yang dia buat di hari pernikahan Laska. Bahwa dia sengaja mengundang Gavin dengan harapan pria itu dan Yaya akan bertemu tanpa sengaja. Sayangnya waktu itu Gavin tidak datang. Garrel juga mengaku tentang dirinya yang selama ini sering menemui Gavin di sebuah pub. Awalnya mereka bertemu karena tidak sengaja, tapi lama-lama ia mulai merasa kasihan dan malah menjadi pendengar yang baik tiap kali pria itu bercerita. Semua yang dia cerita selalu tentang penyesalannya terhadap Yaya. Bagaimana Garrel bisa tega coba kalau melihat seorang Gavin jatuh seperti itu.
Yaya sendiri nampak terkejut dengan cerita yang baru dia dengar. Benarkah Gavin berubah sedrastis itu karena dirinya? Bahkan sampai bertahun-tahun ini? Rasanya seperti tidak bisa di percaya.
"Aku bicara jujur Ya," ucap Garrel lagi. Ia bisa lihat kalau Yaya tampak ragu dengan ceritanya.
"Menurutku, walau kamu masih marah, jangan terlalu keras padanya. Beri dia kesempatan." Yaya tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Kepalanya terlalu pusing.
"Aku mau istirahat sebentar. Tidak mau memikirkan sesuatu yang membuat kepalaku pusing." ujarnya mengalihkan pembicaraan. Garrel terkekeh. Terserah, itu hak gadis itu. Setidaknya ia sudah merasa lega sekarang karena tidak ada lagi yang perlu dia sembunyikan dari sahabatnya tersebut.