
Dokter Laska dan Yaya kini duduk berhadapan dengannya saling menatap. Sudah hampir sepuluh menit mereka seperti itu tanpa ada yang memulai pembicaraan. Keduanya sama-sama tidak ada mau mau buka suara lebih dulu.
Laska mengamati gadis manis itu.
Gadis itu tampak lebih kurus dari sebelumnya. Ia penasaran apa saja yang sudah dilakukan Yaya selama beberapa minggu ini. Pria itu terus mengamat-amati. Yaya yang melihatnya jadi kesal sendiri.
"Katakan sesuatu dok, aku nggak bisa lama-lama di sini." ucapnya karena sih dokter tampan itu tidak bicara juga dan hanya menatapnya.
Laska berdehem pelan. Kali ini ekspresinya berubah serius.
"Kau tahu kondisimu sekarang tidak main-main kan?" katanya tegas. "Kau harus di operasi secepatnya."
Yaya mencibir mendengar perkataan sang dokter. Ia balik menatap Laska.
"Dokter yakin aku bisa bangun lagi setelah operasi?" tanyanya lebih ke basa-basi karena ia sendiri tidak peduli dengan jawaban apapun yang akan didengarnya nanti. Dirinya terlalu lelah, ia bahkan tidak peduli lagi pada hidupnya. Kalau memang harus mati, mati saja sekalian. Lagipula tidak ada seorangpun yang peduli dengan keberadaannya sekarang. Keluarganya bahkan ingin membuangnya jauh-jauh dari kehidupan mereka.
Pria berjas putih didepannya itu mendes*h pelan. Menghadapi pasien seperti Yaya memang butuh usaha lebih keras lagi jika mau meyakinkannya. Tapi Laska akan terus meyakinkan gadis itu. Umurnya masih sangat mudah, terus terang saja ia ingin melihat gadis itu sukses dan hidup bahagia.
"Aku yakin kamu bisa melewatinya Yaya. Kamu tahu sekarang belum terlambat." balas sang dokter. Ia berharap gadis itu akan setuju.
"Sekali lagi aku nggak mau mati konyol dokter." balas Yaya masih basa-basi.
"Yaya..,"
Yaya tiba-tiba berdiri, membuat perkataan dokter Laska terhenti dan mendongak menatap gadis itu.
"Dokter, aku mohon jangan paksa aku." ucap gadis itu lirih.
"Tapi..."
Yaya menghembuskan napas panjang, lalu menatap dokter Laska dengan raut wajah serius.
"Aku tahu kau sangat baik padaku, kau memperlakukanku lebih baik dari semua pasienmu, kau juga sedih ketika tahu aku sakit dan kau telah mencari banyak sekali cara agar aku bisa sembuh. Karena itu aku sungguh berterimakasih padamu. Tapi..."
ucapan Yaya tertahan. Kepalanya tertunduk. Ia menahan diri untuk tidak menangis.
"Beri aku waktu." katanya lagi. "Aku akan menemuimu di saat aku siap. Saat itu aku akan mengambil keputusan." tambahnya sebelum berbalik pergi.
Laska menghembuskan nafas berat. Ia terus menatap ke pintu keluar. Gadis yang berbicara dengannya tadi sudah tidak terlihat lagi. Entah kenapa hatinya merasa dilema. Ia tahu gadis itu membutuhkan waktu, tapi ia juga tahu penyakit dalam tubuhnya tidak menunggu waktunya. Seiring berjalannya hari, kondisinya akan bertambah buruk. Laska hanya bisa berdoa semoga penyakit Yaya tidak memburuk dengan cepat.
\*\*\*
Dua minggu berlalu...
Gadis itu menatap lurus ke cermin, semakin hari tubuhnya makin kurus. Wajahnya pucat pasi. Apa penyakitnya sudah menyebar ke organ tubuh lainnya? Tapi akhir-akhir ini ia belum merasakan sakit di kepalanya lagi. Meski kadang sering pusing. Tapi rasa sakitnya tidak separah beberapa waktu lalu. Yaya terus menerus menatap dirinya yang terlihat menyedihkan itu.
Ingatannya kembali pada perkataan papanya beberapa minggu lalu. Ia sadar dan mulai menerima kenyataan dengan semua nasib buruk yang terjadi padanya. Gadis itu tersenyum kecut. Sepertinya dia memang harus pergi, menghilang dari kehidupan mereka. Mungkin itu yang terbaik. Dia tidak akan pernah lagi mengemis-ngemis kasih sayang dari orang-orang yang tidak menginginkannya.
Yaya lalu berdiri, merapikan pakaiannya dan memoles wajahnya dengan makeup tebal untuk menutupi kulit pucatnya. Dia ingin menemui kakaknya.
\*\*\*
Sementara itu di apartemen Tama, ia dan Putra sedang sibuk membahas pekerjaan ketika terdengar bunyi bel. Keduanya saling menatap. Lalu Putra berinisiatif pergi membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
Ia berubah canggung ketika melihat Yaya sudah berdiri didepan pintu masuk. Ekpresinya sedikit heran karena makeup tebal gadis itu. Biasanya Yaya tidak pernah memoles wajahnya, apalagi setebal yang dilihatnya sekarang ini. Seperti bukan gadis itu saja. Tapi Putra tidak berani berkomentar.
Namun ada yang berbeda. Yaya yang biasanya selalu ketus padanya hari ini tersenyum manis dan menyapanya dengan sopan, membuatnya tertegun. Ini pertama kalinya seorang Yaya bersikap sopan padanya bahkan tidak melihatnya sebagai musuh lagi, apalagi berteriak. Sungguh perubahan yang luar biasa, batin Putra.
"Aku ingin bicara dengan kakakku." ucap gadis itu tanpa banyak basa-basi.
Putra menimbang-nimbang, ia tidak enak menolak Yaya tapi pasti Tama akan mengusir gadis itu lagi.
"Kak Putra tenang aja, ini terakhir kalinya aku datang."
Eh?
Putra mengernyit bingung. Ia sampai tidak sadar Yaya sudah masuk dan melewatinya begitu saja.
"Kakak."
Tama menoleh mendengar panggilan itu. Ia menutup matanya dalam-dalam, merasa kesal saat mengetahui siapa yang datang. matanya menatap Putra tajam. Sahabatnya itu hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
Ada rasa sedih di hati Yaya. Jelas sekali dalam pandangannya kalau kakaknya sama sekali tidak senang dengan keberadaannya. Meski hatinya hancur, Yaya berusaha tetap tersenyum.
"Aku ingin bicara berdua." katanya kemudian setelah mengumpulkan seluruh kekuatannya. Yaya melirik Putra seolah memberi kode supaya pria itu pergi. Putra mengangguk mengerti tapi ketika ia hendak berbalik pergi, suara Tama menghentikannya.
"Kamu ingin pergi sekarang atau aku sendiri yang menyeretmu keluar." kata-kata pedas itu begitu dingin sehingga membuat langkah Putra terhenti. Putra tahu perkataan itu ditujukan ke Yaya, akhirnya dia memilih untuk tidak pergi dari situ. Putra takut Tama dan Yaya akan bertengkar lagi. Emosi Tama selalu tidak terkontrol kalau marah, bagaimana kalau pria itu sampai memukuli adiknya sendiri.
Yaya tersenyum kecut. Hatinya seperti di tusuk-tusuk jarum berkali-kali. Dadanya sesak.
"Bisakan kakak dengerin aku sekali ini aja?" ucapnya mencoba terlihat kuat dan tegar.
Tapi Tama sama sekali tidak peduli dengan perkataannya. Hati pria itu seperti sudah beku, dan itu amat menyakiti Yaya.