Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 83



"Kalian tidak keberatan?"


"Keberatan apa?


"Karyawan baru bernama Yaya itu  datang dan pergi sesuka hatinya di kantor ini. Pak Raxel bahkan tidak mengambil pusing tentangnya. Mulai dari hari pertama dia sudah mengacau, sering absen, bekerja tidak becus, tapi pak Raxel tidak memberinya peringatan apa pun apalagi memarahinya. Dia masih bisa bergerak dengan bebas sesukanya di sini. Bukannya ini tidak adil?" kata Shinta tidak senang. Ia sudah menandai Yaya sejak hari pertama gadis itu masuk kerja.


Shinta tidak suka karena merasa perempuan itu mendapatkan semuanya secara instan. Padahal dulu waktu dirinya masuk ke kantor ini, ia melakukannya dengan kerja keras. Bahkan sampai tidak makan sekalipun demi mendapatkan  apa yang ingin dia capai.


Tapi karyawan baru bernama Yaya ini, dia baru masuk beberapa hari saja, kerja tidak becus, eh malah dapat perlakuan khusus. Terutama oleh bos mereka, Raxel. Padahal ia saja dulu tidak pernah dianggap ada oleh pemilik perusahaan ini. Bahkan sampai sekarang Raxel mungkin tidak menyadari ada pekerja ulet dan tekun sepertinya di kantor ini. Itu sebabnya dia merasa tidak adil.


"Aku juga keberatan, tapi apa boleh buat, Yaya itu ternyata bukan perempuan sembarangan. Keknya ada hubungan sama pak Raxel," ujar Rilly karyawan SDM.


"Aku dengar-dengar, dia adalah kekasihnya pak Gavin yang sudah lama menghilang. Kalian nggak sadar apa selama dia kerja di sini, pak Gavin sering sekali mampir ke sini. Alasannya tentu saja karena ada dia."


"Benar. Latar Belakangnya nggak main-main. Aku sendiri dengar Tama, pemilik perusahaan ELUX itu adalah kakak kandungnya. Kalau kita mau bertahan di sini, mending diam saja. Pak Raxel aja diam, apalagi kita." timpal Mia.


bukannya mendapat pembelaan, Shinta malah tambah tidak merasa senang. Memangnya kenapa kalau latar belakang keluarganya kuat? Bukan berarti mereka itu Tuhan yang harus ditakuti kan? Yang dia tahu, dia tidak suka pada Yaya yang mendapat semuanya dengan instan.


"Kalian semua jangan bergosip lagi, ayo kerja." Ria sang sekretaris tiba-tiba muncul di pantry. Membuat semuanya bubar. Wanita itu menghela napas. Sepertinya dia memang harus bilang ke pak Raxel masalah ini. Meminta pendapat sang bos.


             ***


"Jadi kamu akan pindah?" Gavin menatap Yaya yang asyik mengunyah makanannya. Mereka berada di restoran dekat kantor Yaya. Sekarang jam makan siang jadi Gavin mendatanginya.


Gavin senang mendengar cerita Yaya. Gadis itu terlihat lebih ceria setelah hubungannya dengan keluarganya membaik. Tentu saja sebagai pacar, Gavin senang.


Yaya mengangguk.


"Mm, aku juga akan bantuin kak Tama jagain papa." katanya. "Oh ya, apa kamu cerita semua tentang aku sama pak Raxel?" gadis itu tiba-tiba mengganti topik. Rasanya sih rada aneh sih panggil bosnya itu pak, karena Raxel masih kelihatan muda. Tapi mau bagaimana lagi, rata-rata karyawan dikantornya panggil pak, masa dia hanya Raxel doang. Terkesan tidak sopan.


Yaya penasaran karena merasa bosnya, sih Raxel itu tahu sekali tentang dirinya. Mereka sempat berbincang-bincang lama pagi tadi di ruangannya Raxel.


"Kamu sampai nyuruh detektif cari aku?" ya ampun, Yaya baru tahu. Padahal dia bukan tercatat sebagai orang yang hilang karena diculik atau apalah.


"Makanya jangan menghilang lagi, aku benar-benar bisa gila." balas Gavin. Yaya tergelak. Sembilan tahun memang lama untuk ukuran orang yang setia menunggu seperti Gavin.


Yaya memang tidak pernah melupakan Gavin, tidak pernah berhenti mencintai pria itu. Tapi dia memiliki sebuah rahasia yang masih dia tutupi dari pria itu, saat dirinya hidup jauh dari lelaki itu, dia pernah membuat sebuah keputusan. Sesaat terpikir dalam benaknya apa Gavin masih akan menerima dan mencintainya kalau tahu dia ....


Tiba-tiba hpnya bergetar. Ada pesan yang masuk. Yaya menahan napas. Akhirnya dia tidak bisa menghindar lagi. Ia membuka pesan itu.


"Aku ada di Indonesia, kapan kita bisa bertemu?"


Yaya menelan ludahnya. Ketika Gavin menatapnya, ia berusaha tersenyum agar pria itu tidak curiga.


"Ada apa?" Gavin bertanya. Yaya menggeleng-geleng cepat.


"Tidak ada apa-apa. Hanya teman lama dari kampusku. Katanya dia ada di Indonesia dan ingin bertemu,"


mendengar itu Gavin mengangkat kepalanya menatap Yaya.


"Laki-laki?" Yaya menggeleng cepat.


"Tidak, perempuan." ia berbohong dan merutuki kebohongannya. Astaga Yaya, kenapa harus berbohong. Cerita saja semuanya pada Gavin. Mungkin pria itu akan menerima. Lagipula dia dan orang itu sudah ....


"Mommy!"


seorang bocah laki-laki kira-kira berumur enam tahun berteriak dan menghambur ke pelukan Yaya. Dibelakang berdiri seorang pria berwajah mandarin yang usianya mungkin sebaya mereka.


Detik itu juga Gavin tertegun. Dan Yaya merasa lututnya kaku. Badannya panas dingin dan jantungnya berdebar-debar keras. Ia melihat raut wajah Gavin yang merah padam karena menahan emosi. Harusnya dia cerita semuanya kek Gavin, sebelum menerima pria itu sebagai kekasihnya.