Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 71



Semenjak bertemu dengan Yaya lagi, perubahan yang terjadi pada diri Gavin memang sangat besar. Pria itu jadi sering tersenyum sendiri, jarang ke pub lagi, bahkan hampir tidak pernah minum lagi seperti yang dia lakukan dulu. Tiap hari wajahnya yang bertahun-tahun ini terus kusut dan tak terlihat tak ada gairah hidup sama sekali berubah drastis.


Bintang dan Putra sampai heran. Mereka pikir Gavin sudah gila. Tapi, pria itu lebih kelihatan gila ketika dirinya terus-terusan mencari Yaya. Entah apa yang terjadi pada Gavin sekarang, yang pasti keadaaannya sekarang ini jauh lebih baik dari beberapa waktu yang lalu.


Memang Gavin tidak cerita pada Putra dan Bintang perihal pria itu telah menemukan Yaya. Jadi mereka tidak tahu sama sekali dan heran dengan perubahan drastisnya.


"Katakan ada denganmu? Apa yang terjadi akhir-akhir ini? Sepertinya kau sangat senang." ujar Bintang yang masuk ke ruangan Gavin. Dia kesulitan sekali mencari pria itu akhir-akhir ini selain di kantor. Karena di jam kosong, atau jam makan, Gavin selalu menghilang entah kemana.


Kadang Bintang curiga jangan-jangan pria itu tiba-tiba bertemu dengan seorang wanita yang mampu membuatnya melupakan seorang Yaya. Namun tampaknya itu mustahil. Sembilan tahu Gavin terus mencari Yaya seperti orang gila, tidak mungkin seorang perempuan baru akan bisa mengubahnya dalam jarak waktu yang sangat singkat. Itu mustahil.


Jadi apa? Yang membuat pria itu berubah. Bintang makin curiga karena Gavin terus fokus dengan ponselnya. Bahkan tidak menghiraukan keberadaan dan pertanyaannya. Pria itu serius mengetik dan terkadang senyum-senyum sendiri.


"Apa katamu tadi?" tanya Gavin usai mengetik pesan balasan pada seseorang yang entah siapa itu.


"Aku bertanya-tanya apa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini." ucap Bintang lagi. Gavin tersenyum. Dia sangat murah senyum beberapa hari terakhir ini. Telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kerja sambil menatap Bintang. Ia menimbang-nimbang apakah dia beritahu pria itu atau tidak, tentang dirinya yang telah menemukan Yaya.


Setelah berpikir lama, akhirnya dia berhasil mengambil keputusan.


"Aku telah menemukan Yaya." katanya. Tidak perlu ia tutupi dari Bintang, karena pria itu pasti akan tahu dengan sendirinya. Bintang yang mendengar tampak kaget.


"Kau menemukan Yaya? Di mana?" serunya seolah masih tidak percaya. Akhirnya ia menemukan jawaban atas perubahan Gavin. Karena obat pria itu  sudah ditemukan. Siapa lagi coba kalau bukan Yaya.


"Kami bertemu tidak sengaja, di kantor Raxel. Yaya kerja di sana." jelas Gavin.


Bintang tercengang. Ini adalah berita bahagia. Dia turut senang. Juga ingin bertemu dengan mantan teman lamanya tersebut.


"Kapan kau akan menemuinya lagi? Bawa aku juga." kata Bintang semangat. Ia penasaran bagaimana penampilan seorang Yaya sekarang.


"Aku berencana mendatangi tempat tinggalnya nanti malam."


"Kau bahkan tahu tempat tinggalnya? Jelaskan, apa kalian sudah resmi menjadi pasangan kekasih?"


"Belum, Yaya masih menolakku. Tapi hubungan kami sudah lebih membaik dibanding dulu." katanya.


Betul. Bintang adalah saksi perlakuan kejam Gavin terhadap gadis itu dulu. Tidak heran kenapa gadis itu masih menolaknya sekarang. Karena dulu mereka terlalu kejam padanya.


"Aku ingat Yaya pernah bilang padaku, sampai mati pun cintanya padamu tidak akan pernah hilang, bahkan sampai kau menikah dan memiliki anak dengan wanita lain dia tetap akan menyimpan cinta untukmu dihatinya." Gavin menahan napas panjang mendengar ucapan Bintang.


"Awalnya aku berpikir itu hanyalah pernyataan berlebihan yang keluar dari mulutnya saat itu, tapi setelah mengetahui apa saja yang sudah dia lewati dan itu akhirnya menjadi alasan dirinya untuk terus mengejarmu dulu, aku yakin apa yang Yaya katakan saat itu adalah perkataan yang benar-benar tulus dari hatinya." laki-laki itu menambahkan. Lalu tersenyum menatap Gavin.


"Jadi aku yakin dengan hubungan kalian di masa depan, kau tunggu saja. Yaya pasti akan memilihmu." ucap Bintang pasti. Dan kalimat itu seolah memberi Gavin kekuatan.


Bertahun-tahun ini Bintang telah menjadi sangat dewasa. Gavin balas tersenyum menatap sahabatnya tersebut.


                                   ***


Seperti katanya siang tadi, sepulang kerja, Gavin mendatangi Yaya. Yaya memang tidak memberitahunya di mana gadis itu tinggal saat ini, tapi Gavin sempat mengikutinya beberapa hari yang lalu. Mungkin itu salah, tapi Gavin tidak bisa menahan diri.


"Kenapa Yaya tinggal jauh dari tempat kerjanya?" Bintang sedikit bingung mengetahui tempat tinggal Yaya yang letaknya berada dipinggiran kota. Padahal Gavin bilang gadis itu bekerja di perusahaan Raxel.


"Untuk menghindari bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya." balas Gavin. Dia saja langsung tahu. Itu sebabnya waktu bertemu Yaya lagi, dirinya tidak langsung bilang apa-apa ke Bintang. Terutama Putra. Ia takut Putra akan langsung cerita ke Tama perihal dirinya yang telah menemukan Yaya.


"Bu... Bukankah itu Garrel?" tunjuk Bintang ketika melihat sebuah mobil berhenti didepan gedung apartemen tempat tinggal Yaya dan Garrel keluar dari mobil. Gavin turut memperhatikan dengan saksama. Lalu seseorang yang lain turun dari mobil yang sama.


Ketika melihat siapa yang turun setelah Garrel, napas Gavin tercekat. Yaya? Selama ini Garrel tahu keberadaan Yaya? Dua orang didepan sana terlihat berbincang-bincang seru dan Yaya terus tertawa didepan Garrel. Hati Gavin makin panas melihat kedekatan mereka. Apalagi ketika...


"Mereka berpelukan." gumam Bintang tak berhenti-berhenti merasa heran. Detik itu juga Gavin keluar dari mobil, membanting keras pintu mobil tersebut dan berlari secepat kilat ke arah Yaya dan Garrel. Hatinya bercampur aduk antara kecewa, marah dan cemburu.


Sesampainya di sana, pria itu menarik Yaya menjauh dari Garrel dan langsung meninju lelaki tersebut sekuat tenaga.


"Argh!!" teriak Yaya panik. Ia kaget bukan main melihat Gavin yang tiba-tiba muncul, bahkan menonjok Garrel hingga pria itu terkapar di tanah.