Dear, Gavin

Dear, Gavin
108



Setelah enam hari dirawat di rumah sakit, Yaya akhirnya diijinkan pulang oleh dokter yang bertugas. Kak Putra sudah lebih dulu pulang karena kondisinya pulih lebih cepat. Sementara Yaya masih harus menjalani beberapa kali pemeriksaan karena dirinya pernah menderita kanker otak sebelumnya. Untung hasil ronsen gadis itu menyatakan kondisinya baik-baik saja. Dan hari ini dia bebas. Ya, berada di rumah sakit berhari-hari membuatnya bosan setengah mati.


"Pelan-pelan," gumam Gavin membantu Yaya berbaring di tempat tidur. Mereka sudah di rumah Yaya. Di sambut oleh pembantu rumah itu tadi dan langsung ke kamar.


"Kamu nganterin mama kamu ke bandara? Aku bisa sendiri," tanya Yaya di sela-sela Gavin mengatur selimut ditubuhnya. Tadi siang tante Anggi pamit padanya, wanita itu sudah mau balik ke Singapura. Gavin dan kak Putra ternyata masih ada adik kecil berumur enam tahun. Anak dari pernikahan wanita itu dengan sih pria bule. Dan tante Anggi tidak bisa meninggalkan bocah itu lama-lama. Jadi hari ini wanita paruh baya itu pulang. Jadwal keberangkatannya jam sepuluh malam, jadi Yaya rasa Gavin masih bisa ikut mengantar. Karena sekarang ini jam baru menunjukkan pukul tujuh malam.


"Nggak, biar kak Putra aja. Aku temenin kamu. Mama udah tahu." sahut Gavin. Selama ini pun dia memang jarang mengantar mamanya ke bandara.


Gavin duduk di tepi ranjang. Terus menatap Yaya. Ia bersyukur karena gadis itu sudah sehat. Meski masih tersisa beberapa lebam di bagian wajahnya.


"Mulai sekarang, aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu," ucapnya. Tangannya terangkat membelai pipi Yaya lembut. Yaya tersenyum. Lalu mereka saling menatap lama.


Lama-lama tatapan Gavin makin intens. Membangkitkan keinginan yang berlebihan dihatinya. Jantungnya berdetak makin cepat lebih dari biasanya. Dan dia merasakan bagian bawahnya, dibalik celananya mengeras ...


Demi Tuhan, Gavin benar-benar menginginkan Yaya. Itu sebabnya kenapa dia ingin cepat-cepat hubungan mereka berubah dan status mereka secepatnya menjadi suami istri. Karena ia takut dirinya tidak tahan dan langsung menerkam Yaya.


"Gavin?" Yaya menatap kekasihnya bingung. Pria itu tiba-tiba berkeringat. Padahal tidak sedang melakukan apa-apa dan AC di kamar ini pun sedang menyala. Kenapa Gavin tiba-tiba berkeringat dan menatapnya sebegitunya?


"Gavin, ada apa? Kamu sakit?" Yaya yang duduk bersandar di dinding kasur memajukan kepala dan meletakan telapak tangannya di dahi Gavin, memeriksa keadaannya. Tapi tidak ada apa-apa. Suhunya normal. Jadi, kenapa dengan pria itu?


Gavin menelan ludah. Ia menutup matanya dalam-dalam. Mencoba menahan hasrat yang makin menguasai dirinya. Sialan. Ia benar-benar merasa tak berdaya. Dirinya tidak bisa menahan hormon kelaki-lakiannya. Lalu dengan gerakan cepat ia menarik Yaya mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu.


Gavin masih sadar dan tidak mau langsung memberi ciuman kasar. Ia mengawalinya dengan lembut, takut menakuti Yaya. Namun makin lama ciuman tersebut makin bergairah.


Lidah Gavin menggeliat pelan di dalam mulut Yaya. Makin lama makin panas, dan Yaya kaget. Biasanya Gavin tidak seberani ini menciumnya sampai sepanas ini tapi kali ini .... Namun entah kenapa Yaya menikmatinya.


Dunia mereka terhenti sejenak. Terbuai dalam kenikmatan masing-masing. Yaya membiarkan Gavin mengambil alih dirinya. Ingin pria itu benar-benar merasa bahagia saat bersamanya.


Lalu Gavin melepaskan ciumannya. Lelaki itu menatap Yaya yang mulai sayu, dalam jarak yang sangat dekat. Napas panas keduanya saling menerpa dan memburu. Dada-dada yang naik turun dan jantung yang terus saja berkerenyut semakin cepat.


"Aku ...," desis Yaya.


"Sssttt ..."


Gavin menempelkan hidungnya pada hidung Yaya. Lalu dengan perlahan ia mulai membelai pipi gadisnya. Jari-jarinya yang putih dan panjang itu melesak ke sela-sela rambut Yaya. Gadis itu memejamkan mata, merasakan belaian lembut sang kekasih. Isi kepalanya kosong. Benar-benar kosong. Dan dia hanya mengikuti naluri yang telah menghanyutkan perasaannya selama ini. Sudah lama sekali ia bermimpi akan memiliki hubungan sedekat ini dengan Gavin, dan mimpinya kini terkabul.


Gavin tersenyum melihat penerimaan Yaya. Dan tanpa banyak bicara lagi lelaki itu kembali memagut bibir Yaya. Kali ini lebih panas dan bergairah. Segala sesuatu yang telah dipendamnya selama ini akhirnya meledak.


Gavin mendorong Yaya hingga terbaring di ranjang dan menindih gadis itu. Menghujaninya dengan ciuman-ciuman panas yang berlangsung lama. Tangannya sudah gatal ingin menyentuh bagian tubuh Yaya yang lain. Tapi pria itu berusaha menahan diri. Ia masih sadar.


Sekarang belum waktunya. Sekalipun mereka sudah sama-sama dewasa dan kegiatan semacam itu sudah wajar dan biasa terjadi pada orang-orang di usia matang seperti mereka, tapi Gavin terus menahan diri. Ia ingin memperlakukan Yaya dengan spesial. Sampai gadis itu benar-benar menjadi  miliknya seutuhnya.


Hampir lima belas menit ciuman itu berlangsung sampai Gavin berhenti.


"Aku ingin sekali memilikimu, tapi aku harus menahan diri. Kita akan sama-sama saling memiliki ketika menikah." gumam Gavin mengusap-usap pipi Yaya lembut. Yaya tersenyum. Ini sebabnya ia mencintai Gavin, karena ia percaya pria itu akan menjaganya dengan baik.


"Sekarang tidurlah, aku akan pulang setelah kamu tidur." ucap Gavin lagi.