
Gavin menatap Tama tajam. Ia memang belum tahu apa hubungan Yaya dengan sahabat abangnya itu. Tapi ia cukup yakin kalau hubungan mereka bukan sekedar kenal saja. Kalau tidak, kenapa waktu itu Yaya seperti mati-matian ingin tinggal bersamanya?
"Memangnya Yaya nggak ada di sekolah?" tanya Putra balik. Ia melirik Tama sekilas.
"Sudah hampir sebulan dia nggak masuk." Bintang yang menjawab.
Tama nampak biasa saja. Ia masih tidak peduli. Lagian kalau adiknya itu tidak mau sekolah biarkan saja dia. Toh dia sendiri yang rugi.
"Lo ada alamat rumahnya?" tanya Gavin dengan wajah temboknya. Ia melihat abangnya itu menatap Tama seolah meminta persetujuan.
Interaksi kedua pria itu tak lepas dari perhatian Gavin dan Bintang. Sekarang Bintanglah yang merasa bodoh karena merasa tidak tahu apa-apa. Dirinya merasa penasaran kenapa Gavin menanyakan Yaya pada mereka. Memangnya mereka punya hubungan apa? Mereka saling kenal? Berarti dirinya sudah ketinggalan berita terlalu banyak.
Sebelum Gavin mendapat jawaban, tiba-tiba pintu apartemen Tama berbunyi. Tama menggertakan giginya merasa geram. Hari apa ini? Kenapa semua orang sepertinya ingin sekali bertamu ke tempat tinggalnya itu. Kali ini pria itu sendiri yang buka pintu.
Ia mengernyit heran saat melihat seorang pria yang kira-kira dia tahu dua tahun lebih tua darinya itu sudah berdiri didepan apartemennya lengkap dengan seragam rumah sakitnya. Raut wajahnya terlihat kurang baik. Tama kenal pria itu. Laska, dokter pribadi adiknya.
Yang membuat Tama heran adalah, kenapa dokter pribadi Yaya itu datang menemuinya.
"Kita perlu bicara." ucap Laska dengan wajah serius.
Satu jam yang lalu...
Laska mondar-mandir tak karuan di ruangannya. Ia baru habis bicara dengan Yaya ditelpon. Awalnya ia pikir Yaya akan membahas tentang operasinya, ternyata dugaannya salah.
Gadis itu malah bicara ngawur, bertanya-tanya tidak jelas dan bicara tentang bagaimana rasanya mati. Laska mendengar beberapa kali gadis itu merintih kesakitan ditelpon. Saat ditanya, Yaya akan membalas bahwa dia tidak apa-apa.
Laska makin merasa aneh, gadis itu seperti sedang mengucapkan selamat tinggal padanya. Saat Laska ingin bertanya dimana gadis itu, telponnya malah ditutup sepihak. Dan ketika ia balik menelpon, ponsel Yaya sudah tidak aktif, membuatnya panik.
Laska tidak tinggal diam. Secepat mungkin ia menyambar kunci mobilnya dan berlari keparkiran.
Dokter tampan itu menghentikan mobilnya didepan rumah Yaya. Sejujurnya ia tidak tahu di mana keberadaan gadis itu. Ia hanya berharap bisa menemukan Yaya di rumahnya dan menyeretnya ke RS tidak peduli gadis itu bersikeras menolaknya atau tidak. Pokoknya ia akan tetap menyeretnya.
Yaya tidak menemukan satu pun keluarga Yaya di rumahnya. Hanya ada pembantu. Ia menanyakan keberadaan gadis itu, tapi semua pembantu rumah yang ditanyainya berkata majikan mereka pergi dari rumah dan belum pulang-pulang sampai sekarang. Karena masih tidak percaya, pria itu memeriksa sampai ke kamar gadis yang sedang dicarinya tersebut tapi nihil. Kamar itu kosong.
Laska berpikir keras. Kemana ia harus mencari Yaya? Gadis itu sendirian. Yang dia takutkan adalah bagaimana kalau kondisi Yaya tiba-tiba drop dan tak ada seorangpun di sisinya.
Dokter itu mengacak-acak rambutnya kasar. Ia harus menemukan Yaya secepatnya. Ia mendes ah pelan mencoba menenangkan pikirannya. Tiba-tiba ia terpikir Tama. Benar. Lebih baik mencari kakaknya saja, mungkin ia akan dapat petunjuk dari pria itu. Dan disinilah pria itu sekarang, di apartemen Tama.
"Kita perlu bicara."
Ulah apalagi yang dilakukan adiknya itu sampai-sampai dokter pribadinya datang menemuinya sendiri. Bunuh diri lagi? Mau cari perhatian lagi? Dulu kan Yaya memang terus mencoba bunuh diri untuk mendapatkan perhatian mereka.
"Masuklah." ucapnya singkat lalu berbalik masuk.
Laska mengikutinya dari belakang.
Hal pertama yang dilihat dokter itu ketika masuk adalah ada tiga pria lainnya di dalam apartemen itu, yang sekarang sama-sama sedang menatapnya. Dua diantaranya masih pakai seragam sekolah.
"Bicaralah." kata Tama menatap Laska.
Sang dokter menggaruk batang lehernya terlihat canggung. Ia tidak ingin bicara masalah pribadi pasiennya didepan orang lain selain keluarga gadis itu. Tapi sepertinya Tama tidak menyadari gelagatnya.
Disamping itu, Gavin dan Bintang saling menatap. Mereka masih ingat pria itu. Mereka cukup penasaran kenapa pria itu, yang mereka ketahui sebagai dokter pribadi Yaya datang menemui Tama.
Ingin rasanya Laska menonjok Tama sekarang juga karena tidak peka dengan keadaan. Baiklah, ia tidak peduli lagi. Menemukan Yaya secepatnya lebih penting sekarang.
"Ini soal adikmu. Aku tidak bisa menemukannya."
Tuhkan. Tama tidak tahu ada apa dengan semua orang hari ini. Kenapa mereka semua mencari adiknya.
"Kau tahu di mana biasanya dia pergi?" tanya Laska lagi.
Tama mendes ah malas.
"Tidak tahu." jawabnya acuh tak acuh.
Dokter Laska menahan emosinya melihat tanggapan Tama yang seolah tidak peduli dengan apapun yang dilakukan adiknya itu. Pria itu menahan emosinya dan mencoba tetap profesional. Ia ingin tahu bagaimana sikap pria sombong itu ketika tahu adiknya sekarat.
"Aku rasa kau perlu tahu." suaranya terdengar tegas. Kali ini Tama menatapnya serius. Menurut dokter Laska, jauh dalam lubuk hati Tama, pasti masih tersimpan rasa sayangnya pada Yaya. Biar bagaimanapun mereka memiliki ikatan darah. Dan dulu hubungan mereka sangat baik. Kalau tahu Yaya sakit dan pria itu masih tidak peduli, dia benar-benar keterlaluan.
"Yaya tidak dalam kondisi yang baik, kesehatannya makin hari semakin menurun, aku sarankan dia di rawat di rumah sakit."