
Karena tidak ada kesempatan bahkan cela sedikitpun untuk mendekati Gavin, Lini jadi kesal sendiri. Wanita itu akhirnya memilih masuk daripada menyaksikan sikap bucin Gavin pada Yaya. Lini jengkel, apa bagusnya gadis itu. Harusnya gadis itu tidak pernah kembali. Merusak rencana besarnya saja.
"Lini kemana?" Tama bertanya ke Putra. Pria itu duduk di sebelah sang sahabat yang tengah menyendiri.
"Sudah masuk. Dia sudah kelelahan, katanya mau istirahat." sahut Putra. Cowok itu tidak terlalu bersemangat. Tama memang sudah memperhatikannya sejak tadi. Dan menurutnya hari Putra sedikit berbeda dengan hari-hari kemarin.
"Kalian ada masalah?" tanyanya kemudian. Putra yang sejak tadi pandangannya fokus ke depan, mengamati Gavin, Yaya, Bintang beserta Garrel yang tengah membakar daging sambil bersendau gurau melirik Tama. Pria itu memang selalu yang paling peka. Putra tidak bisa menyembunyikannya.
"Tidak apa-apa. Hanya masalah kecil, sudah selesai." ucapnya tersenyum. Tama memandanginya cukup lama. Ia tahu Putra sedang menyimpan sesuatu dihati pria itu.
"Aku senang melihat Yaya yang sekarang, dia terlihat bahagia." ujar Putra kemudian, menunjuk Yaya dengan dagunya. Tama ikut menatap ke sana. Pria itu tersenyum mengiyakan.
"Ya. Lihat adikmu, tatapannya tak pernah lepas dari adikku." kata Tama.
"Kak Tama, kak Putra!" lalu Yaya berteriak dari depan sana sambil melambai ke arah mereka.
"Ayo cepat ke sini, dagingnya sudah matang." seru Yaya lagi. Tak sampai semenit, kedua pria yang paling dewasa di antara mereka itu sudah ikut bergabung.
"Hemmm, baunya sangat harum." kata Tama mencium bau harum daging bercampur saus. Yaya membagikan sumpit pada keduanya.
"Kak Lini kemana?" tanyanya dengan pandangan menengok ke kanan kiri, mencari keberadaan wanita itu. Yaya memang tidak suka pada Lini yang selalu mencoba mendekati Gavin, namun bukan berarti membenci wanita itu. Sisi kemanusiaannya masih ada. Apalagi hanya wanita itu yang tidak terlihat.
"Sudah masuk. Katanya kelelahan." jawab Putra.
"Gavin, yang itu punyaku." cetus Yaya mendelik tajam ke Gavin karena sudah kali ini daging yang mau dia ambil sudah lebih dulu di ambil sama pria itu.
"Memangnya di situ ditulis nama kamu?" balas Gavin langsung memasukkan sepotong daging yang diklaim milik Yaya ke mulutnya. Pria itu memang sengaja mau berbuah jahil pada sang kekasih. Yaya yang jengkel mencubit pinggang lelaki itu.
"Auww, Yaya!" giliran pria itu yang kesal. Yaya memeletkan lidahnya dan mengambil lagi daging yang lain dan mengunyahnya kuat-kuat didepan Gavin dengan raut wajah meledek.
"Bisakan kalian berdua jangan bikin rusuh di sini. Makan saja, jangan ada drama." kata Garrel. Yang lain ikut menertawai mereka.
"Ya, kamu nggak ada niat mundur dari pekerjaan kamu yang sekarang dan bergabung di perusahaannya bang Tama?" Bintang bertanya kemudian. Gavin, Tama dan Putra kini melirik Yaya bersamaan.
Gadis itu menggeleng.
"Perusahaan yang sekarang lebih cocok denganku." sahutnya langsung. Tama sendiri memang sudah tahu. Perusahaan gamesnya memang tidak terlalu menarik bagi sang adik.
"Memangnya kamu yakin bisa bertahan di perusahaan itu? Saat aku mampir ke sana beberapa hari lalu, aku dengar banyak yang bergosip tentangmu." kata Bintang lagi.
"Gosip apa?" kali ini Gavin yang bertanya. Ia menatap Bintang serius. Kalau itu gosip yang sengaja menjatuhkan kekasihnya, dia akan segera mendatangi Raxel.
"Gosip biasa. Mungkin karena aku terlalu banyak absen di hari-hari pertama masuk tapi nggak ada potongan gaji. Aku rasa mereka keberatan karena itu." sahut Yaya. Sebenarnya masih ada lagi. Tapi dengan sifat Gavin, sebaiknya Gavin tidak perlu tahu. Yaya juga menatap Bintang dengan tatapan seolah memberi peringatan jangan bicara apa-apa lagi. Heran, padahal Gavin yang paling sering kelihatan datang di tempat kerjanya, tapi malah Bintang yang lebih tahu gosip di kantor itu.
"Sudahlah, jangan bicara pekerjaan dulu. Ayo makan dulu," ujar Garrel.