
Yaya terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka
mata dan bertatapan dengan wajah pria berkacamata yang ramah.
"Maaf, aku membangunkanmu," lelaki tua itu tersenyum ramah, "Aku
sedang menyuntikan obat untuk lukamu, aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira." Yaya mengamati lelaki itu dari jas putih yang
dikenakannya, dia adalah dokter.
Lelaki berjas putih itu mengikuti arah pandangan Yaya dan tersenyum.
"Perkenalkan, aku dokter Muray, dokter yang merawatmu semalam ketika kau di bawah ke sini, kepalamu masih sakit? Kau terbentur cukup keras di dinding. Semalam ada laki-laki jahat yang mencelakaimu.
"Dicelakai?" Yaya berusaha mengingat semuanya. Benar. Ia ingat sekarang. Semalam ia melihat sih laki-laki bertopeng yang ingin membunuh kak Putra. Dan dia berusaha menolong hingga akhirnya dirinya yang balik diserang. Tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada kedatangan Raxel, Gavin dan Bintang, sebelum semuanya menjadi gelap.
"Ya, aku dengar kau dan kakak dari kekasihmu dicelakai orang jahat. kata polisi mobil kakak iparmu di sabotase dan remnya blong. Kemungkinan besar penjahat itu tidak puas mengetahui kakak iparmu tidak mati, jadi dia kembali dan mencoba menghabisi nyawanya, untung teman-teman dan kekasihmu dapat menyelamatkan kalian." jelas sang dokter.
"Bagaimana dengan kak Putra?" Yaya bertanya cepat, siapa yang tega melakukan itu pada orang sebaik kak Putra? Apakah kak Putra terluka?
"Bang Putra baik-baik aja. Jangan khawatir, pikirkan dulu kesehatan kamu," suara khas itu terdengar dari
pintu. "Aku bisa gila kalau terjadi apa-apa padamu,"
Yaya menoleh dan melihat Gavin berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja dongker dan penampilan yang tampak kusut karena kurang tidur.
"Bagaimana kondisinya dokter?" Gavin mengalihkan tatapan matanya dan menatap dokter Muray yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Yaya.
Senyum diwajah dokter Muray tak pernah pudar hingga Yaya menyadari dua lelaki di depannya ini begitu bertolak belakang, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum.
"Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini, aku belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang hari ini," ekspresi dokter Muray berubah serius meskipun masih penuh senyum,
"Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan, kau tentu tidak ingin hal itu terjadi kepada kekasihmu bukan?"
Rahang Gavin mengeras. Lihat saja bagaimana dia memberi perhitungan dengan Lini saat anak buahnya menemukan perempuan gila itu.
"Berapa hari sampai dia bisa normal kembali?" tanya pria itu lagi. Yaya hanya menjadi pendengar yang baik. Dokter Muray tampak menghitung.
"Maksimal satu minggu, tetapi tidak
menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah." Gavin menarik napas panjang. Ia akan menyuruh Bintang mengambil alih pekerjaannya dulu, agar dia bisa menjaga Yaya sampai gadis itu benar-benar pulih.
Lini masih dalam pengejaran, berada entah dimana sekarang. Bukan tidak mungkin wanita gila itu kembali menyuruh orang mencelakai Yaya dan kakaknya. Gavin harus menjaga Gavin dengan ekstra hati-hati.
"Baiklah, terimakasih dokter." ujar Gavin.
Dokter Muray mengangguk, dan tersenyum pada Gavin dan Yaya bergantian.
"Baiklah kalau begitu, aku harus kembali bertugas." senyumnya lalu keluar dari situ, memberikan waktu berdua buat pasangan kekasih tersebut.
Gavin duduk di kursi sebelah Yaya dan menatap gadis lurus, mengamati setiap luka lebam dan perban di kepalanya. Pria itu menyentuh pipi tembem itu dengan sangat berhati-hati, takut menyakiti Yaya.
"Masih sakit?" tanyanya lembut.
"Tidak terlalu," sahut Yaya. "Kak Putra?" gadis itu balas bertanya. kali ini Gavin mengambil jemari Yaya dan menggenggamnya erat lalu menyentuhkan dagunya ke jemari sang kekasih.
"Bang Putra baik-baik aja, nggak usah khawatir," gumamnya.
"Aku menyuruh Garrel menemanimu tadi, entah kemana dia sekarang." katanya lagi karena tidak menemukan keberadaan Garrel sejak masuk tadi.
"Gavin,"
"Mm?"
"Jangan bilang ke kak Tama soal kondisi aku ya?" pinta Yaya. Ia tidak mau kakaknya terganggu dan jadi banyak pikiran sekarang. Biar saja kakaknya menemani papa mereka berobat dengan tenang.
"Mm, aku mengerti." gumam Gavin penuh pengertian. Lalu berpindah duduk ke ranjang dan memeluk sang kekasih. Hampir lima belas menit mereka berduaan sampai telpon dari seseorang membuat Gavin mau tak mau harus melepaskan pelukannya dari Yaya.
Yang menelpon adalah anak buahnya. Pasti berhubungan dengan keberadaan Lini. Berarti penting, ia tidak boleh mengabaikannya begitu saja.
"Bentar ya sayang, ada telpon." gumamnya lalu berdiri dari ranjang dan menggeser tanda hijau di layar hapenya.
"Bagaimana, kau menemukannya?" tanya Gavin dengan nada berbisik.
"Iya bos, kami menemukannya di stasiun kereta menuju luar kota. Wanita itu hendak kabur tapi berhasil kami tangkap." sahut salah satu anak buahnya dari seberang. Gavin tersenyum puas. Tidak sia-sia ia mengerjakan anak buah terbaik dan berpengalaman. Buktinya ia mereka bisa menemukan Lini lebih cepat dari polisi dan anak buah Raxel.
"Bagus, bawah dia di tempat yang aku bilang. Pastikan kalian tidak meninggalkan bukti apapun," perintahnya lalu mengakhiri pembicaraan ditelpon dan tersenyum miring.
Saatnya pembalasan. Siapa suruh wanita itu berani membangkitkan singa tidur.