Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 101



Lini bolak-balik gelisah dalam kamarnya. Ia sudah kembali ke rumahnya. Tapi dia tidak tenang. Ia takut Putra sadar cepat dan langsung menyuruh orang menyelidikinya. Tadi saja pria itu sudah curiga padanya. Yang berujung keduanya bertengkar hebat tadi. Sampai-sampai Lini dengan terpaksa menyuruh anak buahnya mencelakai Putra dengan memotong kabel rem mobil pria itu.


Harapannya Putra akan meninggal dalam kecelakaan, tapi ternyata Tuhan masih memeliharan nyawa pria itu. Putra beruntung bisa selamat. Tapi keselamatannya tentu membuat Lini tidak tenang. Lini berpikir keras. Dia sudah merencanakan semuanya sampai sejauh ini. Walau dia tidak mendapatkan Gavin, setidaknya dirinya harus mendapatkan harta Putra. Tinggal selangkah lagi dan saham pria itu akan berpindah menjadi miliknya. Dan dengan kekayaan itu, ia bisa melakukan apa saja. Wanita itu lalu menelpon seseorang.


"Halo,"


"Kau di mana?" tanya pada seseorang diseberang.


"Tempat biasa." sahut orang itu.


"Dengar, aku memerintahkan pergi ke rumah sakit sekarang. Bagaimanapun caranya, kau harus selesaikan pekerjaanmu. Buat pria itu menghilang selamanya dari dunia ini. Dengan begitu rencanaku aman dan kau akan langsung mendapatkan bagianmu. Kau mengerti?"


"Kau ingin aku beraksi malam ini?" ujar sosok yang berdiri dalam kegelapan itu dengan nada suara yang  menakutkan. Dia adalah pelaku pemutusan kabel rem mobil Putra.


"Ya, lebih cepat lebih baik. Tunjukkan bahwa kau benar-benar pembunuh bayaran nomor satu. Ingat, lakukan dengan teliti. Jangan sampai meninggalkan jejak." kata Lini lagi tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Padahal Putra adalah pacarnya.


"Baiklah. Tepati janjimu, aku akan memberi kabar baik padamu." lalu pembicaraan mereka terputus.


Lini tertawa jahat. Ia tahu benar siapa   sosok laki-laki yang berbicara dengannya ditelpon. Namanya Rusli. Sang pembunuh bayaran nomor satu yang tidak pernah menghilangkan jejak saat ia membunuh seseorang. Lini yakin kalau lelaki itu akan berhasil. Dengan begitu, besok dia akan melakukan transaksi dengan lancar, tanpa ada yang curiga.


"Maafkan aku Putra, kau memang baik. Tapi aku sungguh butuh hartamu." gumamnya pada dirinya sendiri.


                                  ***


Gavin mengecup singkat kening Yaya


Gadis itu masih larut dalam tidurnya. Kali ini paha pria itu menjadi bantalnya. Pria itu tersenyum. Sungguh pemandangan yang indah melihat kekasihnya terlelap dengan raut wajah yang begitu nyaman.


Lalu pandangannya berpindah ke sang kakak. Hampir dua jam dia berada di kamar ini, dan selama itu pula Putra menutup matanya. Belum sadarkan diri. Ia sempat bertanya pada dokter yang datang memeriksa tadi, dan perasaannya sedikit lega ketika mendengar dokter berkata kakaknya hanya tertidur karena kelelahan.


Gavin menguap lebar. Pria itu mulai merasa mengantuk, tapi dia tidak boleh tertidur. Bagaimana kalau Putra tiba-tiba bangun dan membutuhkan sesuatu? Tak lama kemudian ia mendengar pintu kamar di buka perlahan. Amat perlahan dan berhati-hati. Berbeda jauh dengan cara Lini membuka pintu itu tadi.


Bintang menghentikan langkahnya didepan Gavin. Menatap Putra sebentar, berpindah ke Yaya yang terlelap, dan berhenti pada Gavin.


"Bagaimana, apa kata polisi?" tanya Gavin penasaran. Bintang menarik napas panjang.


"Kita bicara di luar saja. Aku pikir tidak terlalu baik bicara di sini. Tapi kalau kau tidak keberatan." ujar Bintang. Wajahnya sangat serius sehingga menambah rasa penasaran Gavin.


"Baiklah," gumam Gavin. Pria itu kemudian menurunkan kepala Yaya perlahan-lahan dari pahanya dan mengganti dengan bantal sofa. Ia melakukannya dengan amat sangat berhati-hati, takut membangunkan sang kekasih. Setelah di rasa Yaya sudah berada dalam posisinya nyamannya, Gavin melangkah mengikuti Bintang keluar.


Dua pria itu sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang mengamati gerak-gerik mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Sosok yang memakai topeng itu terus mengamati dalam diam. Lalu setelah dua pria tersebut berhenti dan berbicara di koridor sebelah, laki-laki itu dengan gesit memasuki kamar rawat Putra. Gayanya beraksi memang pantas disebut sebagai pembunuh bayaran. Ia bahkan tidak membuat suara sedikitpun. Laki-laki itu mengunci pintu dari dalam untuk melancarkan aksinya.


Ketika ia berbalik, pandangannya jatuh ke Yaya yang tertidur di sofa. Gadis itu tertidur pulas seperti orang tak tahu diri. Pasti tidak akan sadar sampai dia membunuh lelaki yang tengah berbaring di atas kasur ini. Pria jahat itu mendekat ke tepi ranjang. Ia tersenyum evil sambil menatap Putra lama.


Pria itu sama sekali tidak sadar Yaya telah membuka matanya. Seakan mendapatkan alarm ada bahaya, Yaya hanya diam. Tak bersuara sedikitpun. Awalnya ia pikir sosok yang berdiri di sana adalah Gavin kekasihnya, ternyata bukan. Laki-laki itu memakai topeng jadi wajahnya tidak kelihatan.


Yaya makin tegang saat melihat laki-laki tersebut mengambil bantal dibawah kepala kak Putra dengan kasar dan tanpa aba-aba menindih wajah calon kakak iparnya dengan bantal tersebut. Bermaksud menghentikan pernapasan kak Putra tentu saja. Yaya yang panik secara refleks langsung bangkit dari sofa dan berlari secepat kilat ke arah laki-laki itu.


"Lepasin kak Putra!" sekuat tenaga gadis itu berusaha menyelamatkan kak Putra dengan menggigit tangan pria itu kuat-kuat. Sampai akhirnya pria itu meringis kesakitan dan bantal yang dia pakai menindih wajah Putra terjatuh ke lantai. Pria itu menatap Yaya marah. Lalu dengan sekali sentak ia menampar keras wajah Yaya hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Kepalanya terbentur tempat tidur, untungnya tidak apa-apa meski dia merasa agak pening.


"Jal a ng sialan!" maki pria itu emosi.


Putra yang terbangun akibat sesak napas tadi menyaksikan semuanya. Yaya berusaha menyelamatkannya tapi dia sendiri tidak berdaya. Tidak ada kekuatan sama sekali sekeras apapun dia mencoba. Seluruh tubuhnya terasa kaku, bahkan suaranya tidak bisa keluar. Putra makin panik saat laki-laki jahat itu kini menyeret tubuh Yaya dan membenturkan kepala gadis itu berkali-kali ke dinding.


Tak sampai di situ saja, sekarang laki-laki itu mencekik leher Yaya tanpa belas kasihan. Sengaja mau mematikannya. Demi Tuhan, Putra tidak bisa membiarkannya. Dia tidak akan bisa hidup lagi kalau Yaya sampai mati.


"Ya .. ya ..." Putra berusaha sekuat tenaga untuk bangun, airmatanya terjatuh membasahi pipinya, sekuat tenaga ia berusaha, tapi pria itu malah terjatuh dari ranjang. Bersamaan dengan itu pintu ruangan itu terbuka dengan kerasnya.


Yang dilihat Putra sebelum ia tidak sadarkan diri adalah Raxel. Mengikuti dari belakang pria itu ada adiknya dan Bintang, juga dokter dan beberapa perawat.