Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 58



Di sebuah desa kecil, yang cukup terpencil dan jauh dari perkotaan. Terlihat seorang gadis kira-kira berumur dua puluh enam tahun tengah duduk sendirian di tepi pantai. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Sesekali ia memejamkan matanya, merasakan angin sejuk yang menusuk kulitnya.


Ya. Gadis itu adalah Yaya. Sudah lebih dari dua tahun ini ia tinggal di desa ini. Sebelum datang ke desa kecil ini, Yaya menetap di Perancis. Ia mengambil kuliah jurusan desain perhiasan di salah satu kampus negara tersebut. Setelah selesai kuliah, gadis itu pulang ke negaranya. Awalnya dia datang ke desa ini hanya untuk menemani seorang teman yang kebetulan punya usaha penginapan di sini, namun suasana desa yang begitu nyaman dan sejuk membuatnya memutuskan untuk tinggal lebih lama. Sampai tak terasa dia di tempat ini sudah lebih dari dua tahun.


Yaya ingat dulu, setelah keadaannya benar-benar pulih, dia memutuskan pergi jauh-jauh dari kehidupan ibu kota yang beberapa tahun lalu sangat menyesakan hatinya. Bukan karena kehidupan kotanya, atau penduduknya yang terlalu banyak, namun karena orang-orang yang dia sayangi. Mereka semua mendorongnya untuk pergi menjauh.


Dan mereka berhasil.


Sembilan tahun lalu Yaya sungguh-sungguh pergi. Karena awalnya memang itulah yang mereka mau. Meski begitu sampai sekarang Yaya tidak memungkiri bahwa dirinya masih merindukan mereka. Disaat dirinya sedang menyendiri begini, ia akan teringat keluarganya, dan pria yang dia cintai tentu saja. Namun dirinya tidak berani berharap. Dia hanya berharap mereka semua hidup bahagia.


"Yaya," sebuah panggilan menghentikan lamunan Yaya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati seorang gadis berambut panjang berdiri kira-kira tiga meter dibelakangnya. Namanya Indah. Indah adalah salah satu gadis yang bekerja di penginapan dekat situ. Satu-satunya penginapan yang berada di desa tersebut. Pemiliknya adalah keluarga Garrel. Mereka dulu tinggal di desa ini, sebelum akhirnya seluruh keluarganya pindah ke kota.


"Garrel nyariin kamu." katanya lagi.


"Dia sudah ada?" Yaya berdiri dan cepat-cepat kembali ke penginapan.


"Aku tahu bukan aku yang kau cari." ujar Garrel saat melihat Yaya masuk penginapan tersebut dengan setengah  berlari.


Yaya tertawa kecil. Memang yang selalu dia tunggu dari Garrel adalah barang yang pria itu bawa. Peralatan melukis. Beberapa tahun ini selain bantu-bantu di penginapan ini dan berkutat dengan pekerjaan lainnya didepan komputer, Yaya menggunakan sela-sela waktu kosongnya dengan melukis. Kadang ia merasa bosan, namun melukis akan menghilangkan rasa bosannya. Karena semua yang dia rasakan akan ia tuangkan ke dalam lukisannya.


"Ini yang terbaru?" tanya Yaya mengangkat satu set peralatan lukis yang di bawa oleh Garrel. Pria itu mengangguk.


"Kamu nggak perlu habisin uang kamu sebanyak itu. Aku bisa pakai yang bekas kok."


"Oh, jadi kamu pengen aku tukar lagi sama yang bekas? Baik. Ayo sini aku tukarin." canda Garrel hendak mengambil lagi barang ditangan Yaya namun cepat-cepat dijauhkan oleh gadis itu.


"Nggak perlu. Nggak baik loh kalo udah beli terus di kembaliin lagi." ujar Yaya membuat Garrel terkekeh. Mereka berdua saling berpandangan lalu tertawa.


"Makasih ya Rel." kata Yaya kemudian. Garrel adalah sahabat yang paling baik dan paling paham apa yang dia mau.


Beberapa pekerja di penginapan itu yang melihat keakraban bos mereka dengan Yaya merasa iri. Dimata mereka Yaya memang sangat beruntung.


"Ayo ke dalam aja." ucap Garrel. Ia tidak terlalu suka mereka menjadi perhatian yang lain.


                                    ***


Yaya membuka kotak tersebut dan tercengang melihat apa isinya. Satu set pakaian. Jelaslah dia bingung kenapa dokter Laska memberinya pakaian lengkap dengan heels-nya lagi. Gadis itu mendongak ke Garrel.


"Kenapa kasih aku ini?" tanyanya. Pasti Garrel tahu. Pria itu memegang bahunya dengan sedikit menunduk karena perbedaan tinggi badan mereka.


"Bang Laska minggu depan mau nikah. Dia pengen kamu hadir di pesta pernikahannya." sahut Garrel menjelaskan.


Yaya berubah senang saat mendengar dokter sekaligus kakak kandung dari Garrel itu akan menikah. Sudah lama dia mendoakan kebahagiaan pria yang terus membantunya sampai sekarang.


Ia masih ingat ketika dirinya memohon pada dokter Laska agar mau membantunya pergi dari rumah sakit sembilan tahun lalu. Pria itu bahkan rela berbohong tidak tahu apa-apa dan ikut berakting didepan keluarga Yaya. Jika dihitung-hitung, Yaya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikannya dokter Laska. Dokter Laska bahkan membiayai kuliah dan tempat tinggalnya di Perancis. Sampai biaya makan.


"Bagaimana, kau akan pergi kan?" tanya Garrel. Yaya memiringkan kepala menatap pria itu.


Gadis itu berpikir sebentar. Sudah dua tahun ini dirinya tidak pernah menginjakan kakinya di kota kelahirannya itu. Kebetulan juga dokter Laska akan menikah, jadi sekalian saja pergi. Lagian, ibu kota sangat besar. Kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang di masa lalunya hanya kecil. Tapi bagaimana kalau secara kebetulan ia bertemu dengan salah satu di antara mereka? Gadis itu masih ragu.


"Yaya, aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Ijinkan aku mengatakan ini." gumam Garrel pelan. Ia menatap Yaya serius dan lanjut bicara.


"Sejauh mana pun kamu lari, selama apapun kamu bersembunyi. Kenyataannya kamu tidak bisa menghindar selamanya. Kau harus menghadapinya suatu saat nanti. Masalah yang belum selesai, tetap harus diselesaikan." kata pria itu panjang lebar.


dulu ketika kakaknya meminta bantuannya menyembunyikan pasien pria itu, ia sama sekali tidak menyangka ternyata pasien kakaknya adalah Yaya.


Garrel adalah salah satu orang yang ada dalam masa-masa sulit Yaya. Dan kebersamaan mereka sembilan tahun ini mampu membuat seorang Garrel sangat mengenal sifat Yaya. Dan dia tahu pasti, Yaya tidak pernah benar-benar bisa melupakan masa lalunya. Meski Yaya selalu ceria didepannya beberapa tahun terakhir ini, Garrel tahu kalau sebenarnya gadis itu tidak benar-benar bahagia. Gadis itu masih memiliki masalah di hatinya.


"Tapi aku..."


"Aku tahu. Lagipula belum tentu kau bertemu dengan mereka. Aku hanya ingin kamu tahu. Entah kapan waktunya, kau tidak bisa menghindar dari mereka lagi."


Garrel betul-betul dewasa dan pintar. Pantas saja waktu sekolah dulu, lelaki itu selalu ditunjuk menjadi ketua kelas.


"Baiklah. Aku akan pergi. Mana tega aku sama dokter Laska." putus Yaya kemudian. Kedua kakak beradik itu sudah membantunya tanpa mengharapkan balasan apapun, namun Yaya selalu berjanji dalam hatinya untuk membalas kebaikan mereka. Karena tanpa mereka, tidak akan ada Yaya yang sekarang. Yaya tersenyum.


"Kalau begitu aku akan datang menjemputmu." kata Garrel.