
Kelas berubah hening saat kedatangan seorang guru. Semua murid balik duduk di bangku mereka masing-masing. Hanya Gavin, Yaya dan Bintang yang tetap berdiri berdekatan juga Rina dan Marwah yang panik berusaha membangunkan Sara. Tak ada satupun murid laki-laki dikelas itu yang berinisiatif membawa Sara ke UKS. Bahkan Garrel sih ketua kelas. Sejujurnya ia berada di pihak Yaya. Siapa suruh mereka masuk sembarangan dan menindas adik kelas sesuka hati. Jangan salahin Yaya kalau melawan.
"Kenapa dengannya?" tanya guru yang ternyata pak Dino itu. Nadanya khawatir. Seisi kelas hanya diam.
"GARREL?" teriak pak Dino memanggil nama sang ketua kelas.
Garrel mau tak mau berdiri dari bangkunya.
"Iya pak?" sahutnya dengan nada malas.
"Kamu dan Fiko bawa Sara ke UKS." perintah pak Dino. Garrel mengangguk saja meski malas. Ia melirik Fiko yang berdiri dengan berat hati.
Pandangan pak Dino pindah ke lima murid lainnya yang masih berdiri. Ia terlihat marah.
"Kalian berlima ikut saya!" katanya tegas.
Sebelum keluar, Yaya menatap Gavin sekilas tapi ketika pria itu balas menatapnya, ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bintang mendesah pelan menatap Gavin yang mulai berjalan ke pintu keluar. Ia bersiap mengekor dari belakang tapi terhenti karena melihat Yaya masih diam di tempatnya.
"Ayo." katanya menarik gadis itu. Gadis itu adalah sumber utamanya yang membuat mereka ikut terlibat.
\*\*\*
Gavin, Bintang dan Yaya duduk bersebelah-sebelahan di sofa ruang BP dengan posisi Yaya berada di tengah-tengah antara kedua pria itu. Kedua kakak kelas perempuan mereka, Rina dan Marwah duduk di sofa yang lain didepan mereka. Pak Dino menyuruh ke lima murid tersebut menunggu setelah mendengar penjelasan tentang penyebab pingsannya Sara.
Selama menunggu, tak ada satu pun yang bersuara di antara kelimanya. Mereka malah sibuk bertatap-tatapan tidak suka. Lebih tepatnya, Rina dan Marwah saat ini tengah menatap Yaya tidak suka dan penuh dengan permusuhan.
Sesaat kemudian terdengar dering ponsel berbunyi. Mereka serentak menatap Yaya karena bunyi itu berasal dari arahnya.
Sedang Yaya sendiri menatap mereka bergantian lalu merogoh ponselnya dari saku dan langsung menjawab telponnya tanpa melihat terlebih dulu siapa yang menelpon.
"Halo?"
Gavin disebelahnya terus mengamati Yaya. Ia melihat gadis itu sesekali mendesah dan menyandarkan dirinya di dinding sofa. Siapa yang menelponnya? Kali ini Gavin Yaya tampak malas mendengarkan orang diseberang sana.
"Aku tidak janji, hari ini aku sibuk. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti saja." setelah kalimat terakhir itu, Yaya langsung menutup telponnya.
"Siapa?" tanya Bintang mewakili Gavin. Dia juga penasaran.
Yaya menoleh ke arahnya.
"Seseorang." sahutnya pendek dan tak jelas.
Tak lama selang itu, pak Dino masuk bersama kepala sekolah. Bintang mengernyit bingung, wajah kedua guru mereka itu tampak tidak bahagia.
"Ehemm.." pak kepsek berdeham.
Guru paruh baya itu menatap kelima muridnya bergantian dan berhenti di Yaya.
"Yaya." gumamnya
Yaya menatap lurus ke arah kepala sekolah.
"Bapak dengar kamu sering bolos dan tidur-tiduran dikelas akhir-akhir ini. Nilai kamu juga merah di semua mata pelajaran."
Yaya langsung melemparkan tatapan menusuk ke pak Dino. Dasar guru tukang lapor.
"Dan tadi kesalahan fatal kamu adalah menendang anak orang sampai pingsan."
"Apa kamu tidak diajarkan di rumah bagaimana bersikap lembut pada orang?' Itu ucapan pak Dino. Jelas sekali guru itu tidak menyukainya. Yaya tersenyum sinis menatap guru tua itu.
Gavin dan Bintang ikut merasa kesal karena Yaya disudutkan begitu oleh pak Dino. Sayangnya mereka tidak bisa membela. Hari ini memang gadis itu yang salah.
"Yaya," ucap kepala sekolah lagi.
"Dengan berat hati kami memutuskan untuk menskors kamu selama dua minggu." tambahnya.
Gavin dan Bintang cukup terkejut mendengar hal itu, berbeda dengan Rina dan Marwah yang saling menatap senang penuh kemenangan. Lalu perkataan Yaya kemudian sukses membuat keadaan ruangan berubah hening.
"Keluarkan saja aku dari sekolah ini."
balas Yaya enteng. Ia sudah capek dengan perlakuan orang-orang itu. Lebih baik berhenti sekolah saja sekalian.
Semua terkejut mendengarnya.
"Yaya."
itu suara Gavin. Ia menatap Yaya dalam-dalam. Satu kata saja yang ia ucapkan namun bisa berarti banyak. Jujur ia tidak mau gadis itu di DO dari sekolah. Mungkin ini terlambat, tapi dia akhirnya sadar ternyata dirinya memang sudah menyukai gadis itu. Ia tidak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh, yang ia tahu dirinya merasa cemburu dan marah tiap kali melihat gadis itu tersenyum pada pria lain.
Jujur Gavin amat menyesali kata-kata kasarnya pada gadis itu beberapa waktu yang lalu. Waktu itu ia sangat marah sampai-sampai tidak bisa menahan emosi. Dia ingin minta maaf tapi emosinya kembali memuncak ketika melihat gadis itu terlihat ceria bersama pria lain. Ia baru menyadari dan merasa kehilangan gadis itu saat Yaya mulai menjauh dan tidak pernah lagi tersenyum, bersikap manja bahkan memanggil namanya. Apa ini karma?
Saat kepala sekolah mau bicara, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan menampakan sosok pria tua yang dikenal mereka semua sebagai salah satu penyandang dana terbesar di sekolah tersebut. Semua pandangan beralih ke pria tua itu.
"Tidak usah diskors, anak saya akan segera pindah dari sekolah ini dan menetap diluar negeri."