
Putra terbaring di tempat tidur dengan tangan kiri dibebat rapat dan kepala diperban. Gavin dan Yaya
berdiri diam di tepi ranjang, tidak mau membangunkan laki-laki itu. Kelihatannya Putra baik-baik saja. Napasnya teratur dan tidak ada luka mengerikan di wajah dan tubuhnya.
"Syukurlah bang Tama sudah melewati masa kritisnya," gumam Yaya pada menyandarkan kepala di bahu Gavin dengan wajah lurus kedepan menatap Putra yang sedang tertidur.
"Kenapa bisa sampai kecelakaan?" tanyanya kali ini menatap Gavin.
"Masih diperiksa. Kata Bintang kemungkinan besar mobilnya blong. Kita akan segera tahu," Yaya mengangguk mengerti. Ia berharap kak Putra cepat sadar.
Mereka terus mengamati Putra yang terbaring dengan mata terpejam. Dadanya turun-naik dengan
teratur seiring dengan napasnya. Kelihatannya tenang dan damai. Gavin merasa sangat lega. Itu tandanya Putra baik-baik saja.
"Apakah tidak apa-apa kak Putra belum sadarkan diri?" tanya Yaya tanpa mengalihkan tatapannya
dari Putra. Gavin menggeleng-geleng sambil mengusap punggung tangan Yaya. Pria itu baru sadar Yaya menggenakan gaun tanpa lengan. Ya, mereka sebenarnya akan makan berdua di restoran tadi dan Gavin berencana akan melamar Yaya. Tapi semuanya batal karena kabar Putra kecelakaan.
Alhasil, keduanya ke rumah sakit dengan gaya seperti sekarang. Gavin lalu cepat-cepat membuka jasnya dan menyampirkannya ke tubuh Yaya. Takut gadisnya kedinginan dan masuk angin. Apalagi AC dalam ruangan ini cukup kuat.
"Jangan sampai kamu juga jatuh sakit," gumamnya setelah membantu Yaya mengenakan jas miliknya. Yaya tersenyum.
Pandangan Gavin turun ke sang kakak. Pria itu menarik nafas panjang. Kalau benar kata Bintang, kenapa rem mobilnya sampai blong? Gavin tahu jelas kalau Putra adalah jenis laki-laki yang sangat berhati-hati dengan keselamatannya. Bahkan membawa kendaraan saja pria itu sangat berhati-hati. Masa tidak sadar ada yang aneh sama mobilnya.
"Kita duduk dulu, biarin kak Putra istirahat dulu." ucap Yaya. Gavin mengangguk. Lalu keduanya berjalan ke bagian tengah dan duduk di sofa. Itu adalah kamar VIP jadi ruangannya besar, ada sofa, tv bahkan kulkas sampai buah-buahan sudah memang tersedia di sana.
Yaya duduk bersandar di dada Gavin. Itu sudah menjadi kebiasaanya setelah mereka berpacaran. Dan biasanya dalam posisi itu, Gavin akan mengusap-usap rambut dan membelai wajah gadis itu penuh cinta. Bahkan tak tanggung-tanggung menghujaninya dengan ciuman. Tapi malam ini pria itu tahu tempat. Tidak mungkin ia mencium kekasihnya didepan sang kakak yang terbaring lemah.
"Maaf ya, hari ini rencana kita batal." gumam Gavin.
Yaya menggeleng. Tangannya sibuk bermain dengan jemari Gavin. Menautkan jari-jari keduanya. Ia paling suka bermain-main dengan jari-jari Gavin yang besar-besar dan panjang itu. Jari yang indah.
Keduanya menikmati waktu bersama sambil menunggu Putra sadar. Tapi sudah lewat dari satu tajam, pria yang terbaring dengan mata terpejam di atas kasur tersebut belum bangun-bangun juga. Dan belum ada dokter atau perawat yang datang memeriksa. Mungkin sebentar lagi. Yaya menguap. Ia mulai mengantuk.
Ketika Gavin menunduk menatapnya, gadis itu sudah tertidur sambil bersandar di dada bidang pria itu. Gavin tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Yaya dan membelai-belai pipi gadis itu lembut. Dia paling suka Yaya bersandar seperti ini padanya. Karena dia merasa dengan seperti ini hubungan mereka terasa jauh lebih dekat.
Tak lama kemudian pintu kamar itu tiba-tiba dibuka dengan keras oleh seseorang, sontak Gavin merasa terusik. Kasar sekali orang yang membukanya. Kakaknya bisa kaget, begitupun dengan kekasihnya. Lihatkan, Yaya bergerak dan matanya tampak terusik dalam tidurnya, untung tidak sampai terbangun. Siapa sih yang mengganggu?
"Putra!"
Ternyata Lini.
Gavin menahan kekesalannya. Kasar sekali wanita itu. Ia ingin sekali menegur wanita itu, tapi pria itu menahan diri.
Lini sendiri tampak kaget dan terdiam sebentar saat menyadari keberadaan Gavin dan Yaya. Posisi Yaya yang tertidur menempel pada Gavin sempat membuat Lini cemburu buta. Emosi? Tentu saja. Karena harusnya dia yang berada di posisi itu.
"Ga ... Gavin, keadaan kakak kamu gimana?" tanya Lini kemudian dengan nada suara seperti ingin menangis. Ekspresinya dibuat sesedih mungkin. Padahal dalam hati ia tidak sedih sama sekali. Dalam hatinya ia malah berharap kondisi Putra parah, ia bahkan ingin laki-laki itu tidak akan bangun lagi. Karena tadi mereka sempat bertengkar hebat, sebab Putra sepertinya mulai curiga padanya. Tentu saja Lini harus cepat bergerak melaksanakan rencananya sebelum Putra sadar. Tapi didepan Gavin, dia harus pura-pura sedih.
"Sudah lewat masa kritis," jawab Gavin seadanya. Lini mengangguk lalu menarik kursi dan duduk di tepi ranjang.
"Kamu sama Yaya pulang saja, biar Putra aku yang jaga." katanya kemudian. Tapi Gavin menggeleng. Ia ingat kata Bintang tadi Putra memanggil-manggil namanya. Artinya kakaknya pasti lebih suka dia yang berada di sini. Dan entah kenapa Gavin selalu merasa ada sesuatu dengan Lini. Batinnya mengatakan ia tidak boleh meninggalkan Putra berdua saja dengan wanita itu.
"Aku dan Yaya akan tetap di sini. Biar kami saja yang jagain bang Putra. Kau tidak perlu menginap." kata Gavin memutuskan.
"Kau yakin? Aku tidak apa-apa di sini semalaman. Atau kau antar Yaya dulu, kasihan dia. Pasti kelelahan. Setelah itu kau bisa balik lagi, kita jagain Putra bersama."
Gavin mendengus dalam hati. Perempuan ini benar-benar. Gavin langsung bisa membaca niatnya.
"Tidak perlu. Aku ingin kekasihku tetap di sini menemaniku. Kau saja yang pulang." balasnya langsung. Lini tersenyum paksa.
"B ... Baiklah kalau begitu, aku akan pulang sebentar lagi." ucapnya kemudian. Sulit sekali mempengaruhi Gavin. Dia harus mencari cara untuk menghancurkan hubungan Gavin dan Yaya. Gavin harus menjadi miliknya. Dengan cara apapun. Tapi saat ini, dia harus cari cara dulu bagaimana menyingkirkan Putra. Semua rencana yang sudah ia siapkan dengan matang bisa-bisa hancur semua kalau dirinya tidak cepat-cepat bertindak.