
"Jelaskan padaku apa maksud perkataan Yaya tadi? Kau sengaja menemui Gavin di apartemennya? Aku ingin kau jujur Lini. Siapa yang kau temui hari itu. Ibumu, atau adikku," suara Putra datar, tak lembut seperti biasanya ia bicara pada Lini. Sedang wanita didepannya berusaha memutar otaknya.
Lini masih percaya diri kalau Putra pasti tidak akan menaruh curiga padanya seperti sebelum-sebelumnya. Putra mencintainya, tidak mungkin pria itu akan memutuskannya hanya karena ucapan Yaya dan kebohongan kecilnya pada pria itu. Ya, walau menyukai Gavin, Lini tidak mau putus dari Putra. Karena Putra bisa ia manfaatkan baik untuk mendekati Gavin atau bergaul dengan orang-orang kelas atas. Apalagi sekarang dia tengah melakukan sebuah bisnis besar. Pokoknya dia akan berusaha keras agar Putra terus bersamanya.
"Dengarkan dulu penjelasanku Putra. Aku ..."
"Jawab saja pertanyaanku. Yang kau temui hari itu adikku atau ibumu." potong Putra tegas.
"Aku,"
"Jawab aku Lini!"
"Baiklah. Aku menemui keduanya. Gavin dan ibuku." jawab Lini kemudian mulai mengarang alasan dengan fasihnya.
"Maaf. Aku takut kau marah, jadi aku tidak bilang. Waktu itu semuanya terjadi begitu mendadak. Kau tahu kan aku menganggap Gavin seperti adik kandungku sendiri. Makanya aku khawatir ketika mendengar adikmu sakit." Putra memicingkan mata mencari kebohongan di mata Lini.
"Maafkan aku ya sayang, aku janji tidak akan berbohong lagi." ucap Lini lagi kali ini memeluk lengan Putra dengan wajah memelas. Dalam hati perempuan itu menyumpahi Yaya yang sengaja mau memprovokasi Putra. Hah! Jangan harap perempuan itu akan berhasil. Dia lebih tahu bagaimana mengendalikan laki-laki seperti Putra. Tinggal Gavin yang harus dia rebut. Berani main-main sama Lini? Wanita itu tertawa licik.
"Aku akan memaafkanmu sekarang, tapi aku harap kau tidak mengganggu Gavin lagi. Jangan pernah menemuinya seorang diri dengan alasan apapun. Kau mungkin menganggapnya adik, tapi dia berpikiran lain. Sekarang dia juga sudah punya pacar. Jangan sampai mereka saling salah paham hanya karena tindakan gegabahmu seperti tadi. Kau tahu kan adikku sudah menunggu Yaya bertahun-tahun. Sebagai kakak aku tidak ingin hubungan mereka rusak karena salah paham." Lini masih diam saja. Menjauhi Gavin? Jangan harap.
"Kau paham maksudku kan?" Putra menunggu jawaban wanita itu. Lini menunjukkan senyum terpaksanya.
"Baiklah aku janji," jawabnya. Tapi dalam hati ia malah mulai menyusun rencana lain.
"Kau belum mau masuk?" tanya wanita kemudian.
"Ayo masuk bersama." ujar Putra tapi Lini menolak.
"Kau duluan saja. Aku mau ke toilet sebentar." katanya kemudian pergi dari situ. Putra menatap kepergian Lini dengan saksama. Ekspresinya datar. Ia masih tidak yakin sepenuhnya pada wanita itu. Setelah berpikir berulang kali, Putra merasa ada banyak sekali hal yang tidak dia ketahui tentang Lini. Laki-laki lalu merogoh ponsel dari sakunya dan menelpon seseorang.
"Aku ingin kau menyelidiki seseorang, secepatnya." kata Putra pada seseorang yang bicara dengannya ditelpon. Saat telpon mereka terputus, pria itu menghembuskan napas panjang dan masuk.
***
"Mereka sudah baikan? Nggak jadi bertengkar hebat? Kak Putra maafin dia begitu saja?" Yaya bicara pelan di dekat Gavin yang duduk di sebelahnya. Mereka sedang duduk berduaan di tepi kolam. Sedang Lini dan Putra juga tengah berduaan di pondokan dekat situ. Putra sesekali tersenyum ke Lini. Seperti tidak ada apa-apa.
"Sudahlah, jangan pikirin tentang mereka dulu. Tidak penting. Aku hanya ingin menikmati waktu berdua denganmu sekarang," ucap Gavin tampak tidak peduli.
"Kau bisa berenang?" tanya pria itu kemudian. Yaya menggeleng.
"Nggak," Gavin tersenyum, tampak bersemangat.
"Bagaimana kalau aku mengajarimu?"
"Tapi aku nggak pake pakaian renang. Masa mau belajar renang dengan penampilan begini, argh!" tanpa aba-aba Gavin malah melompat ke air, hingga Yaya yang masih duduk di tepi kolam harus menahan kesal karena terciprat air kolam.
"Gavin!" serunya jengkel. Gavin tertawa dari dalam air.
"Ayo," tangannya terulur ke Yaya. Gadis itu tampak ragu sesaat.
"Aku takut tenggelam," gumamnya.
"Tidak apa-apa, ada aku."
"Tapi,"
Gavin berdecak pelan. Kalau begini terus ujung-ujungnya Yaya tidak akan turun-turun.
"Jangan takut sayang, percaya padaku." pria itu lalu meraih pinggang Yaya dan membuatnya turun pelan-pelan masuk ke dalam kolam. Airnya hangat jadi Yaya merasa lebih tenang. Gavin membawanya makin ke tengah, sehingga Yaya harus menahan napas dalam-dalam. Ia memeluk leher Gavin kencang saking tegangnya, sampai Gavin terbatuk-batuk.
"Uhuk ... Uhuk ...,
"Kamu bisa bikin aku mati sayang," kata Gavin ditengah batuknya. Yaya terkekeh. Tangannya pun berpindah ke pundak Gavin sementara sang kekasih masih setia memeluk pinggangnya.
"Rileks, nggak bakalan tenggelam. Dengar arahanku ya," gumam Gavin pelan. Ia lalu mulai mengajari Yaya perlahan-lahan, dengan lembut. Tanpa mereka sadar, Lini sudah kebakaran jenggot diujung sana. Wanita itu cemburu luar biasa.
"Ckckck, lihat mereka. Astaga, mataku sampai sakit," kata Bintang julid karena keromantisan Gavin dan Yaya. Pria itu asyik tidur-tiduran di kursi dekat kolam bersama Garrel dan Tama. Tiga laki-laki lajang yang kasihan. Garrel dan Tama sendiri malah menertawai aksi julid Bintang.
"Makanya cari pacar," ledek Garrel. Padahal dia sendiri jomblo juga.