Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 61



Karena merasa sudah terlalu larut malam, Laska tidak mengijinkan Yaya pulang. Sekalipun Garrel siap mengantarnya. Apalagi malam ini hujan, Laska takut terjadi sesuatu. Biar Yaya bersikeras pun Laska tidak akan mengijinkan. Alhasil, Garrel membawa Yaya pulang ke rumah keluarganya. Letaknya tak begitu jauh dari hotel tempat pernikahan Laska. Pasangan baru tersebut menginap di hotel. Ya, mereka kan masih akan melewati malam pertama.


Paginya sekitar jam delapan, Garrel mengantar Yaya. Keduanya mampir sebentar untuk mengantar lukisan ke alamat yang diberikan Yaya. Ada orang yang membeli lukisan yang dia pasarkan lewat platform jualan online. Sebenarnya dia bisa pakai lewat jasa kirim, namun karena kebetulan dia mau ke kota, sekalian saja dibawa.


Sehabis mengantar lukisan, mereka mampir untuk sarapan di sebuah garden cafe.


"Gimana menurut lo kota ini? Setelah bertahun-tahun mengurung diri di desa terpencil?"


Yaya terkekeh. Perkataan Garrel sudah seperti dirinya tidak keluar-keluar dari hutan saja. Padahal belum selama itu dirinya tinggal di desa terpencil.


"Semakin baik, dan... Panas?" sahut Yaya lalu menyesap segelas cappucino miliknya. Dibanding dengan desa yang dia tinggali, kota ini memang jauh lebih panas. Desa yang dia tinggali sangat suasana lingkungannya sangat nyaman dan sejuk. Itulah kelebihan tinggal di desa.  Meski perkembangannya lebih lambat dari kota, Yaya sangat menikmatinya.


Garrel mengangguk setuju. Beberapa tahun ini cuaca di kota ini memang jadi jauh lebih panas, kadang juga dinginnya bisa datang tiba-tiba kalau sedang musim hujan. Pria itu lalu mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan disodorkan ke Yaya.


"Apa ini?" tanya Yaya mengambil barang yang disodorkan Garrel. Itu sebuah kartu nama. Tapi ia masih tidak mengerti kenapa Garrel memberinya kartu nama itu.


"Kartu nama temanku. Pendiri Rax Corporation. Kau pasti tahu perusahaan itu bukan? Saat ini dia sedang mencari desainer perhiasan untuk perusahaan mereka. Aku pikir kau cocok." 


Yaya tampak berpikir. Jelas dia tahu Rax Corporation. Perusahaan itu termasuk dalam lima besar perusahaan terbaik dan terkenal di Asia. Memiliki beberapa cabang di luar negeri. Yaya tahu apa saja ke lima perusahaan itu. Salah satunya termasuk perusahaan yang dibangun oleh kakaknya dan perusahaan keluarga Gavin. Bahkan dia dengar kedua perusahaan tersebut memiliki ikatan kerja sama. Banyak media yang memberitakannya. Pasti karena kakaknya dan kak Putra bersahabat jadi mereka berniat menyatukan perusahaan mereka.


Rax Corporation memang termasuk perusahaan baru yang menjanjikan. Yaya sempat berpikir melamar kerja di sana ketika kembali ke dalam negeri. Namun semenjak lulus dan akhirnya kembali, gadis itu malah memilih membangun bisnisnya sendiri lewat internet, dan berdiam diri di desa terpencil. Mungkin saat ini sudah waktunya dia menampakan diri pada dunia luar. Sudah cukup dia menghabiskan waktu berleha-leha dua tahun ini. Sepertinya dia memang membutuhkan pekerjaan yang bisa membuatnya bersosialisasi dengan orang-orang baru. Yaya lalu mengambil kartu nama yang diberikan Garrel dan memasukan ke dalam tasnya.


"Sebaiknya kau pikirkan dengan matang. Jangan sia-siakan kesempatan. Ingat, kau masih punya hutang padaku dan bang Laska." bukannya menghitung-hitung, Garrel hanya merasa Yaya sudah menyia-nyiakan kesempatan selama dua tahun ini. Padahal gadis itu adalah lulusan terbaik dari salah satu kampus ternama di Perancis. Saat lulus dulu ada beberapa perusahaan besar yang menawarinya pekerjaan di negara itu, tapi dia tolak. Jadi kali ini Garrel benar-benar memakai ancamannya.


Yaya tergelak.


"Baik bos." kekehnya.


Habis sarapan mereka meneruskan perjalanan kembali ke desa. Mobil yang dikendarai Garrel berhenti sebentar di lampu merah. Dua sahabat itu sangat asyik berbincang sampai tidak menyadari ada seseorang yang melihat mereka dari arah kiri. Lebih tepatnya menatap ke arah Yaya.


Seorang pria. Pria tampan berwajah oriental dengan ekspresi dingin tak tersentuhnya terus menatap Yaya dengan ekspresi kaget. Ia tidak pernah berhenti mencari-cari gadis itu selama sembilan tahun ini. Namun belum ada hasil. Dan sekarang, dengan sendirinya gadis itu muncul didepannya.


Yaya...


Gumam pria itu. Raut wajahnya senang bercampur haru. Yaya memang terlihat lebih dewasa jika dibandingkan dengan dulu, tapi wajah itu masih sama. Masih begitu cantik dan menawan, apalagi ketika dia tersenyum. Pria itu tersenyum lagi. Akhirnya dia menemukan gadis yang dia cari bertahun-tahun ini. Senyuman di wajah pria itu memudar ketika mobil yang membawa Yaya melaju dengan cepat.


Pria itu mendadak panik. Dia tidak boleh kehilangan jejak mereka. Dengan cepat ia melajukan mobilnya mengikuti mobil Yaya. Dahi lelaki itu mengernyit ketika menyadari mobil yang dikendarai Yaya berbelok ke arah luar kota.


Mereka mau kemana? Apa ke tempat tinggal Yaya yang sekarang? Betul. Firasatnya pasti benar. Karena bertahun-tahun dia sudah mencari d setiap pelosok kota Jakarta tapi tidak pernah menemukan Yaya. Ia pikir gadis itu bersembunyi di negara lain, rupanya dia salah. Pria itu sangat berhati-hati agar Yaya dan pria yang mengendarai mobil tidak curiga kalau-kalau ada yang mengikuti mereka.


Akan pria itu pastikan dirinya menemukan tempat persembunyian Yaya hari ini.