Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 40



Pulang sekolah Yaya langsung balik ke kosan murah yang dia sewa. Gadis itu menghitung uangnya yang tersisa dari hasil menjual beberapa barang berharganya yang dia bawa dari rumah. Sudah hampir sebulan ia tinggal di kos-kosan murah ini dengan uang tersebut. Setelah keluar dari rumah dirinya belum pernah kembali ke rumah orangtuanya. Papanya juga tidak pernah mencarinya. Ia merasa pria tua itu memang sudah benar-benar tidak peduli padanya lagi.


Yaya pun tidak peduli. Sekarang ini yang ia rindukan dari rumah besar itu hanyalah ruangan rahasianya. Ruang yang penuh dengan curahan hatinya. Gadis itu menyadarkan dirinya dan kembali fokus menghitung uang.


Ia mendesah pelan. Uangnya tidak banyak lagi. Barang-barangnya yang berharga pun sudah habis terjual. Apa ia harus cari kerja? Sebenarnya dia bisa menghasilkan uang dengan melukis. Tapi bagaimana mau melukis coba kalau peralatan lukisnya saja tidak ada. Ia tidak mampu membelinya.


Tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel. Ia beralih menatap ponselnya sebentar.


Dokter Laska...


Gadis itu menghela nafas lelah.


Sudah berkali-kali ia menolak panggilan dokter itu tapi sang dokter sepertinya tidak pernah lelah. Pria itu terus-menerus menerornya dengan panggilan-panggilan yang tidak ada habisnya. Tanpa pikir panjang Yaya menolak panggilan itu.


Selanjutnya bunyi pesan masuk. Dari orang yang sama. Gadis itu memilih membacanya.


"Kalau kau tidak menemuiku, aku yang akan mencarimu."


Yaya berdecak kesal. Ia tahu dokter Laska sungguh-sungguh tulus mau membantunya, tapi dirinya sendiri yang tidak siap. Entahlah. Ia tidak tahu. Ia sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan hidupnya. Gadis itu hanya membaca pesan dokter Laska tanpa berniat membalasnya.


                                 ***


Gosip tentang Yaya yang sudah tidak pernah mengejar Gavin lagi telah tersebar di seluruh kelas XI. Banyak yang bilang kalau gadis itu sudah bosan dengan Gavin dan jadian dengan kakak kelas mereka Savaro. Gavin yang mendengarnya tidak peduli. Meski sebenarnya ia merasa sangat terganggu ketika mendengar Yaya di gosipkan pacaran dengan kakak kelas mereka itu.


"Ya, katanya lo cinta mati sama Gavin, kok nggak ngejar lagi sih?"


"Cintanya bukan ke Gavin kali tapi ke wajah ganteng sama uangnya."


"Bener, makanya gak dibales sama Gavin. Hahah, kasian banget deh."


"Tapi udah dapat yang kaya juga tuh dia, sih kakak kelas. Nggak kalah ganteng juga."


Gelak tawa yang sengaja menghina Yaya terdengar di seluruh ruang kelas itu. Yaya sendiri tampak biasa saja. Ia sudah kebal dengan semua perkataan yang merendahkan dirinya. Biar saja mereka melakukan apa yang mereka suka sampai mereka puas.


Berbeda dengan Bintang yang langsung melemparkan tatapan penuh peringatan ke siswi-siswi kelas mereka. Ia tidak suka mendengar mereka yang sengaja mengolok-olok Yaya. Pria itu memang jarang marah, tapi sekali ia mempertegas sikap tidak sukanya, bahkan hanya dengan sebuah tatapan mampu membuat mereka semua terdiam.


Bintang pernah mencoba bicara dengannya sekedar basa-basi, tapi gadis itu sengaja menenggelamkan kepalanya di meja untuk menghindari pembicaraan. Pria itu menarik nafas berat. Aneh rasanya melihat gadis yang biasanya ribut dan bawel itu tiba-tiba menjadi sangat tenang begini.


Tak lama kemudian, suasana kelas yang mulai tenang tiba-tiba berubah riuh ketika beberapa kakak kelas masuk dengan gaya sok berkuasa mereka.


Ternyata Sara dan teman-temannya. Ekspresinya terlihat marah. Matanya mencari-cari sekeliling kelas. Ketika ia menemukan sosok yang dia cari, ia cepat-cepat berjalan kearahnya dan tanpa aba-aba langsung menjambak rambut gadis itu membuat suasana kelas mendadak heboh. Banyak yang mulai merekam kejadian itu.


Gavin dan Bintang cepat-cepat berdiri dari bangku saat melihat Yaya di jambak kakak kelas mereka.


Yaya yang mendapat serangan tiba-tiba berdiri santai sambil merapikan rambutnya. Ia menatap Sara dan mendengus pelan. Ia tidak tahu kenapa dengan gadis itu sampai tiba-tiba menyerangnya begini.


"Lo, minta maaf ke Sara sekarang." ucap sih gadis berambut pendek. Namanya Rina.


Alis Yaya berkerut tidak mengerti. Apa salahnya? Ia bahkan belum pernah melihat Sara sejak pergi dari rumah.


"Dia jadi nggak bisa lagi ikut pertandingan basket karena ulah lo. Posisinya sebagai kapten di copot." tambah sih gadis pirang bernama Marwah.


Sinting.


Satu kata yang di ucapkan Yaya dalam pikirannya. Sepertinya Sara tidak pernah berhenti mencari cara untuk menyudutkannya. Gadis itu menatap saudara tirinya itu lalu tersenyum sinis. Ia tidak mau meladeni orang gila. Lebih baik ia keluar saja.


Namun sebuah tamparan keras mengenai pipi mulus Yaya sebelum gadis itu melangkah. Sara ingin menampar lagi tapi sebelum melayang ke pipi Yaya, tangannya sudah dihempas kasar oleh Gavin. Wajah pria itu merah padam menahan emosi. Dia tidak suka melihat orang lain menyakiti Yaya. Walau dia sadar mungkin dirinyalah yang paling banyak menyakiti gadis itu.


Yaya sendiri yang sejak tadi bersikap tidak peduli, kini tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia menahan napasnya dalam-dalam. Tangannya terkepal kuat. Ia diam bukan berarti dirinya tidak bisa apa-apa. Sepertinya Sara memang harus diberi pelajaran.


Tiba-tiba sebuah tendangan secepat kilat mengenai wajah Sara. Membuat semua orang membelalak menatap Yaya tidak percaya.


Sara terlempar beberapa meter, mengenai tembok dan langsung tak sadarkan diri. Rina dan Marwah berlari panik ke gadis itu, sedang Yaya malah terlihat biasa saja. Ia tidak takut atau merasa bersalah sedikitpun, gadis jahat itu pantas mendapatkannya. Itu setimpal dengan apa yang dilakukan gadis itu padanya selama ini.


"APA-APAAN INI?!"


suara yang riuh berubah hening saat salah seorang guru memasuki ruangan kelas mereka.