
"Bagaimana dia?" Gavin menyeruak di antara kerumunan perawat
itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di
lengannya belum selesai di balut. Tadi ia tidak sadar kalau dirinya terluka oleh pisau laki-laki yang menyakiti Yaya dan kakaknya.
Dokter dan perawat yang menangani Yaya menoleh serentak dan
sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat
darurat itu, berdiri sosok lelaki yang luar biasa tampan, mengenakan
kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.
"Bagaimana dia?!" sekali lagi Gavin bertanya, dengan nada sedikit
berteriak. Dia masih emosi karena mereka tidak membiarkannya menemani Yaya tadi, malah memaksa mengobati luka kecil ditangannya.
Dokter Muran, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi
Gavin yang cepat naik darah. Dia pernah menangani pria itu beberapa kali di rumahnya. Waktu keluarga Gavin memintanya memeriksa kondisi pria itu. Waktu itu Gavin mengalami penyakit mental, rasa sakit akibat kehilangan seseorang yang sangat berharga. Mungkin gadis yang terluka ini adalah gadis yang meninggalkan pria itu dulu. Dokter Muran bisa lihat perubahan besar di mata Gavin ketika melihat gadis ini.
Dokter itu lalu menghampiri Gavin dan mencoba menjelaskan.
"Dia baik-baik saja, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat..."
"Apa golongan darahnya?" tanya Gavin. Pria itu sudah lebih tenang dari yang tadi. Ia ingin tahu agar supaya bisa membantu mencari darah yang mereka butuhkan untuk kekasihnya.
"AB." dokter Muran menjawab cepat, Gavin tertegun sejenak,
"Ambil darahku saja, aku juga AB."
"Maaf Gavin, tapi kami tidak bisa mengambil darahmu, kondisimu saat ini tidak memungkinkan." kata dokter itu.
Gavin mengepalkan tangannya marah,
"Dengar, ini hanya luka lecet
kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan kekasihku! Dan kalau..." Gavin terengah, matanya melirik ke arah tubuh Yaya yang terkulai lemas tak sadarkan diri di sana,
"Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepada calon istriku, aku akan membuat kalian semua menerima
ganjarannya." gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan. Tidak peduli mereka semua memandangnya sebagai orang jahat. Ia hanya ingin Yaya cepat cepat mendapatkan perawatan yang terbaik.
Gavin duduk di pinggir ranjang dan menatap Yaya yang masih
tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan
dan kondisi Yaya berangsur membaik.
Kali ini barulah Gavin merasakan sedikit pusing dan sakit
"Kondisinya sudah membaik," Garrel yang berdiri di sana berusaha
memecah keheningan. Ia langsung ke sini setelah mendapat telpon dari Bintang. Untung ketika tidur, hapenya tetap dia aktifkan. Semalam dirinya seperti memiliki firasat buruk, jadi ia tidak mematikan hape. Lalu sekitaran jam dua dini hari, ia mendapatkan telpon dari Bintang. Untung dia terbangun. Ketika Bintang cerita sesuatu yang buruk menimpa sahabat terbaiknya, Garrel segera ke rumah sakit dengan tampang khawatir.
"Aku dengar Raxel sudah menyelidiki pelakunya."
"Namanya Rusli, orang suruhan Lini." Gavin menggeram, dia tidak sengaja mendengar Raxel bicara pada Garrel dan Bintang tadi. Perempuan busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dan orang suruhannya, laki-laki yang berani menyakiti Yaya didepan matanya. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Gavin pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur.
"Kau dengar di mana keberadaan Lini sekarang? Aku dengar dia berencana mengambil alih saham bang Putra. Rem mobil kakakku juga sengaja di rusak oleh orang suruhannya. Polisi sudah menyelidikinya." kata Gavin dengan nada suara rendah.
"Aku tidak tahu. Tapi yang aku dengar, ketika dia sadar
bahwa anak buahnya gagal membunuh bang Putra, wanita itu langsung melarikan diri entah kemana."
mendengar perkataan Garrel, Gavin lalu menelpon seseorang. Ia sudah menahan diri selama ini, tapi perempuan itu benar-benar membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Ketika orang yang ditelpon pria mengangkat panggilannya, Gavin mulai bicara.
"Kau lihat gambar yang aku kirim? Cari wanita itu, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup." suara
Gavin terdengar mengerikan dan Garrel tahu pria itu sedang sangat
marah, saat ini seharusnya Lini berdoa supaya dia ditangkap lebih dulu oleh pihak kepolisian, karena kalau Gavin yang menemukannya lebih dulu, Garrel tidak berani membayangkan bagaimana
jadinya.
"Kondisi Yaya tidak mengkhawatirkan lagi. Aku dengar bang Putra sudah sadar, sebaiknya kau temui dia dulu. Biar Yaya aku yang jaga."
Ah benar. Saking terlalu fokus ke Yaya, Gavin jadi lupa kalau kakaknya juga sedang di rawat di rumah sakit ini. Ia mengamati Yaya sebentar lalu membelai lembut wajah gadis itu.
"Segera panggil aku kalau dia bangun." ujar Gavin lalu berdiri, siap-siap pergi dari situ.
Garrel menjawab dengan anggukan. Setelah kepergian Gavin, pria itu menatap Yaya lagi. Mengatur selimut yang agak melorot ke bawah, lalu menghembuskan nafas panjang. Dia harap setelah ini tidak ada lagi yang mencelakai sahabatnya ini. Kalau tidak, dia akan menjadi lebih kejam melebihi Gavin.