Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 72



Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Gavin seolah-olah membeku. Tanpa berpikir lagi, ia mencengkeram kerah kemeja Garrel, menariknya dengan satu sentakan keras, lalu meninju wajahnya.


Begitu Garrel tersungkur di


lantai, Gavin langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar sampai pria itu terhuyung dan jatuh lagi. Ia tak mempedulikan teriakan Yaya yang menyuruhnya berhenti.


Bintang ikut turun dari mobil, berlari ke arah mereka untuk menghentikan Gavin. Saat itu Gavin benar-benar


kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu besar terhadap Garrel. Bukan karena pria itu memeluk Yaya. Kemarahan paling utama yang dirasakan Gavin adalah kenyataan Garrel menyembunyikan keberadaan Yaya darinya.


Jelas-jelas selama ini pria itu tahu dirinya frustasi karena tidak bisa menemukan Yaya. Garrel adalah  salah satu orang yang selalu mendengar keluh kesahnya tentang gadis itu, bahkan sering memberinya kekuatan. Gavin sudah menganggapnya sebagai sahabat, seseorang yang paling dia percaya. Tapi malam ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri pria itu bersama Yaya.


Artinya selama ini Garrel tahu keberadaan Yaya dan menyembunyikannya dari dia. Jelaslah dia marah dan amat kecewa. Ia merasa dikhianati.


Gavin masih belum puas. Ia kembali bersiap-siap menarik Garrel untuk meninjunya lagi. Tapi teriakan keras Yaya membuat gerakannya terhenti seketika.


"GAVIN! Kalau kau berani memukulnya lagi, aku bersumpah kau tidak akan pernah melihatku lagi." seru Yaya dengan suara kencang. Ia tampak tidak main-main. Apalagi Garrel sekarang sudah babak belur begitu. Memang belum tergolong sangat parah, tapi tetap saja tindakan Gavin tidak dapat dibenarkan.


Gavin melepaskan Garrel dan menatap wajah Yaya lekat-lekat.


"Jangan meninggalkanku, aku mohon. Aku akan melakukan apapun yang kau mau." gumamnya dengan suara yang sangat rendah, penuh permohonan dan wajah yang terlihat frustasi. Sekarang gadis itu adalah satu-satunya kelemahannya. Ia tidak mampu kehilangannya lagi. Suasana hening sesaat sehingga rasanya begitu mencekam. Dia dan Yaya terus bertatapan.


"Sebaiknya kita bawa dia ke dalam. Yaya, kau ada obat lebam kan?" Bintang angkat suara, mencoba menghilangkan keheningan. Dirinya memapah Garrel yang agak kesulitan berdiri. Pukulan Gavin sudah seperti orang ahli saja, sampai dirinya betul-betul merasa tidak berdaya.


"Garrel, kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya khawatir. Garrel tersenyum tipis kemudian menggeleng. Yaya mendelik tajam ke Gavin. Dasar emosian. Apa-apa main tonjok. Belum dengar penjelasan juga.


Mereka lalu masuk ke dalam. Keadaan Garrel sudah terlanjur babak belur seperti ini. Yaya juga tidak mungkin mengusir Gavin dan Bintang yang sepertinya tidak mau pergi. Apalagi Gavin. Yaya yakin pria itu bisa membuat heboh semua penghuni apartemen kalau dirinya mengusirnya pergi. Bisa-bisa dirinya yang kena amukan penghuni gedung itu.


Sampai di dalam, Yaya buru-buru masuk ke kamarnya buat ambil kotak p3k.


"Biar aku saja." kata Bintang mengambil kotak p3k di tangan Yaya dan mulai mengobati Garrel. Bintang sampai sekarang masih tidak habis pikir, kenapa Yaya bisa bersama Garrel. Apa mereka pacaran? Apa dulu orang yang membantu Yaya menghilang adalah pria itu? Ini betul-betul di luar dugaan. Sama sekali tidak terpikir olehnya.


"Kau benar-benar cari masalah." bisik Bintang pelan didepan wajah Garrel. Sambil mengobati lebam-lebam di wajah lelaki itu.


"Aku tahu." balas Garrel tersenyum. Walau dia dipukul seperti tadi, itu sekali tidak membuatnya marah. Ia memang pantas mendapatkannya, dan dia tahu suatu hari nanti Gavin pasti akan meninjunya kalau tahu dirinya menyembunyikan fakta keberadaan Yaya. Sangat bagus Gavin meninjunya, dengan begitu dia tidak berhutang pada pria itu lagi.


Sementara itu Gavin dan Yaya duduk bersebelahan, tak saling bicara sejak tadi. Yaya lebih fokus ke Garrel yang masih di obati oleh Bintang. Gavin sendiri masih berusaha menenangkan pikirannya. Dia masih marah memang pada Garrel, tapi takut jika memukul pria itu lagi ancaman Yaya tadi langsung berlaku. Emosinya memang sudah lebih reda setelah meninju Garrel tadi. Siapa suruh laki-laki itu berani mempermainkannya seperti ini.


"Kalian mau teh?" entah kenapa, Yaya malah menawarkan mereka minum. Lucu memang di suasana menegangkan begini malah menawari mereka minum teh. Tapi dia tidak tahu mau bicara apa, akhirnya hanya hal itu yang terpikir di kepalanya.


"Mm." sahut Gavin menghadap Yaya. Ekspresinya melembut. Tatapannya membuat Yaya salah tingkah. Gadis itu lalu cepat-cepat berdiri menuju dapur.


Sepeninggalnya Yaya, perhatian Gavinlangsung beralih ke Garrel dengan tatapan kini berubah amat tajam seolah sangat memusuhi pria itu. Meski sebenarnya dalam hatinya ia tidak membenci pria itu, bukan berarti dia tidak marah. Gavin baru bicara saat Bintang sudah selesai mengobatinya.


"Jelaskan semuanya tentang hubunganmu dan Yaya. Jangan berani menipuku lagi." katanya dengan nada sangat rendah, sangat serius dan terdengar begitu mencekam.