
"Kamu kenapa semarah ini hanya karena adik kamu pingsan?" balas papanya merasa aneh.
Tama tersenyum kecut. Pingsan? Pingsan sampai harus di operasi berjam-jam?
"Harusnya papa sadar kita yang sudah buat Yaya sakit. Putri papa udah kayak gini, tapi papa masih nuduh dia macam-macam." ucapnya pelan. Ia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.
"Sakit?" tanya Erwin tidak mengerti. Tama membuang muka sehingga pria tua itu memilih menatap Putra meminta penjelasan.
"Yaya... Dokter mengatakan Yaya terkena kanker om."
ucap Putra mewakili Tama. Erwin tercenung. Sementara air mata Tama terjatuh tanpa sadar. Ia cepat-cepat membalik badan dan menghapus buliran air yang keluar dari matanya. Didepan sana Gavin mengepal tangannya kuat-kuat. Tama balik menatap papanya setelah sudah bisa menenangkan diri.
"Itu yang papa bilang cuma pingsan?" katanya lagi dengan nada tinggi. Papanya mundur beberapa langkah. Pikirannya masih melayang-layang, kaget dengan berita yang baru saja di dengarnya. Yaya sakit? Sejak kapan?
Tama ingin bicara lagi namun pintu ruangan operasi tiba-tiba terbuka memperlihatkan beberapa dokter yang keluar dari ruangan tersebut termasuk Laska. Gavin cepat-cepat berdiri menghadap para dokter itu di ikuti Tama dari belakang.
"Bagaimana?" pertanyaan itu keluar dari mulut Tama dengan mata sembab. Ia menatap Laska penuh harap. Gavin tidak bicara apa-apa hanya menunggu penjelasan.
Laska menatap serius ke mereka. Ia melirik papa Tama yang berdiri dibelakang sebentar, lalu kembali menatap Tama dan Gavin bergantian.
"Kondisi Yaya saat ini sudah stabil. Ia akan segera dipindahkan ke kamar pasien."
perkataan itu membuat mereka semua bernafas lega.
"Mengenai penyakitnya..." Laska melanjutkan sambil menatap beberapa teman dokternya yang lain. Gavin dan Tama serius mendengar.
"Saat ini kondisinya stabil tapi sel kanker dalam tubuhnya bisa berkembang sewaktu-waktu." mereka semua menatap Laska serius. "Kami menyarankan Yaya segera di operasi lagi saat dia sadar. Meski tidak bisa memastikan keselamatannya, tapi kalau operasi itu berhasil, beberapa dokter dari luar negeri mengatakan kemungkinan sembuh total hampir sembilan puluh persen. Hanya saja..," dokter Laska menggantung ucapannya lalu menatap Tama dan Erwin bergantian.
"Kami membutuhkan persetujuan keluarga." lanjutnya.
"Tentu saja kami setuju." balas Tama sepihak tanpa bertanya pada papanya. Ia yakin pria itu tidak bisa mengambil keputusan apapun sekarang. Dia juga tidak membutuhkan keputusan laki-laki tua itu. Mulai sekarang dirinya yang akan mengurus Yaya.
"Baiklah. Kami akan segera menyiapkan semua dokumennya." balas Laska lagi lalu memerintahkan para suster memindahkan Yaya.
Tama mengangguk mengerti. Pandangan Gavin berpindah ke Yaya yang terbaring di brankar pasien yang tengah didorong oleh dua orang perawat. Matanya tertutup menandakan gadis itu belum sadar. Gavin mendekatinya dan mengusap pelan wajahnya. Ada kerinduan di mata pria itu. Ia ikut mendorong brankar itu sampai ke kamar pasien dengan terus berharap Yaya akan baik-baik saja.
Bintang dan Putra ikut ke kamar rawat Yaya. Saat kedua perawat mau memindahkan Yaya ke tempat tidur, Gavin cepat-cepat mencegahnya.
"Biar saya saja." katanya mengambil alih Yaya, menggendong gadis itu dan membaringkannya di kasur perlahan-lahan dengan amat lembut. Kedua perawat tersebut saling menatap. Siapa sih yang tidak mau diperlakukan seperti itu? Apalagi oleh pria setampan Gavin. Yaya memang beruntung.
Karena Yaya adalah pasien VVIP di rumah sakit itu, tentu saja kamarnya mewah dan lengkap. Bahkan kedua perawat perempuan itu merasa iri pada gadis yang masih belum sadar-sadar juga sejak tadi. Apalagi di sekelilingnya semuanya adalah pria-pria tampan.
"Suster, nanti dia bakal sadarkan?" pertanyaan aneh yang keluar dari mulut Bintang berhasil membuat Gavin menatap laki-laki itu tajam. Sementara sahabatnya itu malah tersenyum bodoh menatap Gavin.
"Becanda Gav. Abisnya lo tegang banget daritadi." katanya mencairkan suasana.
Gavin tampak tidak peduli. Ia kembali fokus pada Yaya. Sekarang dia merasa Yaya adalah dunianya. Tidak boleh terjadi apapun pada gadis itu jadi dia harus terus mengawasi disampingnya. Bahkan Putra yang sejak tadi duduk di sofa terus mengamati sikap sang adik. Terus terang ia masih tidak percaya Gavin bisa secinta itu pada Yaya, berbeda jauh dengan Gavin yang ia kenal dulu yang selalu bersikap kasar dan dingin pada perempuan.
"Adek lo tuh bang."
perhatian Putra teralihkan pada Bintang yang sudah duduk di sebelahnya. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
"Sejak kapan mereka pacaran?" tanya Putra dengan dagu menunjuk ke Gavin yang tengah sibuk mengusap-usap wajah Yaya penuh sayang.
"Nggak tahu bang." jawab Bintang merasa heran juga. Padahal setahunya mereka
"Lo sahabatnya bukan sih?"
Lama-lama kesal juga Putra sama cowok itu.
"Gue tahunya Yaya doang yang ngejar-ngejar Gavin, nggak tahu kalo ternyata Gavin juga secinta itu sama dia." kata Bintang. Sebenarnya ia sempat berpikir kalau Gavin juga memang suka sama Yaya, tapi ia tidak tahu sedalam itu rasa sukanya. Pria itu mendes ah pelan saat mengingat banyak sekali dosanya pada Yaya. Selama ini ia selalu meledek Yaya yang pandai sekali berakting.
Ternyata gadis memang tidak berbohong. Ia benar-benar tulus mencintai Gavin. Mereka saja yang selalu berpikiran buruk padanya dari awal dan menganggapnya seorang pembohong. Pria itu melirik Putra.
"Bang, emang Yaya sering dipukulin papanya?" tanyanya penasaran. Ia ingat ucapan Tama tadi didepan ruang operasi.
"Nggak tahu, Tama nggak pernah cerita ke gue."
Bintang mengangguk-angguk mengerti. Kasihan Yaya kalau sampai itu betul, batinnya. Kalau memang benar, hidup Yaya amat kasihan. Bintang merasa bersalah sudah beranggapan buruk tentang gadis itu.