
Yaya melambai-lambai ke Savaro dan berbalik memasuki rumahnya. Ia merasa beban dihatinya sedikit terobati setelah bicara dengan kakak kelasnya itu. Gadis itu tersenyum, ia masih tidak menyangka cowok yang awalnya dianggapnya menakutkan tersebut malah menjadi teman curhatnya. Dan ternyata kak Savaro adalah sosok pendengar yang baik.
Betapa terkejutnya gadis itu ketika membuka pintu dan mendapat serangan tiba-tiba. Senyuman diwajahnya menghilang seketika. Ia melihat ke bawah ke plant pot sedang yang sudah pecah berhamburan di lantai bersamaan dengan tanah dan tanamannya. Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap kedepan. Ada tiga makhluk yang berdiri didepan sana tapi pandangannya hanya menatap ke satu arah, ke pria paruh baya itu, papa kandungnya. Sosok yang dari kecil selalu dipujanya namun saat ini malah menganggapnya sebagai anak yang tak berguna.
"Anak sialan! Cepat minta maaf ke Sara sekarang juga." tukas papanya kasar.
Mendengar itu, Yaya tersenyum sinis menatap Sara. Sementara yang ditatapnya pura-pura menunduk sedih. Gadis itu mendengus keras. Akting saja terus. Sinisnya dalam hati.
"Apa yang kamu tunggu? Cepat minta maaf sekarang!" desak papanya lagi dengan nada tinggi. Terlihat jelas ekspresi penuh kebencian dari wajah pria tua itu. Yaya jadi muak lama-lama. Ia makin tertekan dan merasa tidak nyaman berada di antara orang-orang didepannya itu.
"Pa tenang dulu, nanti papa jadi sakit lagi." bujuk mama tirinya. Dasar tukang akting. Mama dan anak sama saja, sama-sama berhati busuk. Yaya mendengus kesal. Ia sudah sangat lelah hari ini dan ketika pulang, malah berhadapan dengan orang-orang begini. Orang-orang yang suka sekali cari masalah dengannya.
Tanpa pikir panjang gadis itu memutuskan pergi dari situ dan melangkah dengan santai ke lantai atas menuju kamarnya. Ia tidak peduli papanya akan melemparinya lagi atau berteriak memakinya anak sialan atau apalah, ia sudah tidak peduli. Sejujurnya, dirinya sudah lelah menghadapi murka papanya tiap hari. Di tambah lagi dengan dua wanita munafik itu yang terus-terus memanas-manasi.
"Mau kemana kamu? Kamu berani ngebantah papa, hah? Sialan kamu!"
Benarkan. Papanya menyumpahinya lagi. Gadis itu tersenyum kecut.
"Anak sial, aku menyesal membesarkan anak tidak tahu diri seperti kamu!" pria tua itu terus memaki.
Yaya berhenti sebentar, mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Ia mati-matian menahan diri untuk tidak melawan, ia harus bersabar, kata dalam hati. Lalu kembali melangkah. Lututnya sudah lemas karena perkataan papanya tapi ia berusaha kuat sampai masuk ke dalam kamarnya dan ambruk di lantai.
Tak ada air mata. Yang ada hanyalah hatinya yang terasa begitu sakit saat mengingat perkataan pedas salah satu orang yang amat ia sayangi, namun orang itu membuat nafasnya terasa sangat sesak. Papanya sungguh tega. Menyesal punya anak sepertimu? Huh! Gadis itu tersenyum kecut. Perkataan papanya masih terngiang-ngiang jelas dibenaknya, dan itu amat melukainya. Seperti di tusuk-tusuk jarum berkali-kali.
Yaya mencoba berdiri sekuat tenaga. Satu-satunya yang ia ingat saat ini adalah Tama, kakaknya. Kalau papanya tidak menginginkannya lagi, ia pindah ke tempat kakaknya saja. Untuk apa tinggal dengan orang tua yang tidak menginginkannya lagi.
"Mau kemana kamu?" tukas papanya saat gadis itu berjalan melewati ruang tamu menuju pintu keluar rumah.
Yaya balik menatap pria tua itu tajam. Pandangan lelaki tua itu turun ke koper yang dipegangnya. Gadis itu tersenyum sinis menatap papanya.
"Papa tinggal saja dengan keluarga baru papa itu, aku akan pergi. Lagian papa tidak menginginkan aku lagi bukan?" tukasnya tak lupa menoleh menatap Sara dan mamanya yang ada di situ juga. Ia lihat jelas Sara menyembunyikan rasa senangnya dibalik wajah munafiknya itu.
"Yaya, kamu jangan kekanakkan begitu dong. Kamu mau papa kamu sakit lagi karena kamu?" ujar mama tirinya tidak bersungguh-sungguh. Dalam hatinya ia malah senang gadis itu pergi.
"Bagaimana kalau kamu menginap dulu di hotel beberapa hari, setelah kamu tenang, kamu bisa kembali." wanita tua itu pura-pura memberi saran. Yaya tersenyum sinis.
"Gue nggak butuh saran lo." ucapnya sinisnya ke wanita itu.
"Pikirin aja bagaimana menjadi orang baik sebelum lo mati." tambahnya lagi saking kesalnya.
"Berani kamu bicara kasar begitu sama mama kamu?"
Yaya tertawa keras menatap papanya lagi. Mama? Mamanya sudah lama pergi. Wanita didepannya ini hanya orang asing yang bermimpi mau menjadi bagian dalam keluarganya. Untuk apa ia baik pada wanita seperti itu? Ah sudahlah, lebih baik dia pergi saja daripada dirinya makin stres berdebat terus dengan mereka.
"Aku harap papa bahagia hidup sama mereka." sindirnya menatap lelaki tua itu sebelum keluar rumah.
"Kamu mau pergi dari sini? Silahkan saja. Tapi sekali keluar, kamu bukan anakku lagi." ancam pria tua itu serius. Matanya penuh dengan berkilat kemarahan kepada anak perempuannya itu.
Yaya tersenyum kecut. Tega sekali papanya. Di mata pria tua itu dirinya benar-benar sudah tidak penting. Segampang itukah papanya mau membuangnya? Gadis itu menutup matanya dalam-dalam. Keputusannya sudah bulat. Ia lalu melanjutkan langkahnya keluar pintu. Ia tidak menghiraukan ancaman papanya sama sekali. Hatinya sudah terlalu sakit. Baginya, akan lebih baik kalau dia pergi.