Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 111



"Hah, Menikah? Siapa? Kamu?" Garrel berseru heboh ketika mendengar Yaya bercerita akan segera menikah.


"Rel, bisa kan nggak seheboh itu. Kamu kan tahu orang-orang yang berpacaran serius ujung-ujungnya akan menikah juga." kata Yaya. Garrel masih tertegun. Benar sih, tapi kan sebagai sahabat dia masih kaget dengan berita mendadak ini.


"Kapan dia melamarmu?" tanya Garrel lagi.


"Semalam,"


"Di mana?"


"Di kamarku. Tepatnya di atas ranjangku."


"Hah?" Garrel menatap Yaya dengan wajah cengonya. Kamar?  Wah, ini tidak benar. Apa yang pasangan itu lakukan semalam? Apakah mereka tidur bersama? Apa Gavin melamar Yaya seusai bercinta? Segala macam pikiran kotor bersarang dibenak Garrel.


Ia tidak heran Gavin dan Yaya akan melakukan itu sebelum mereka menikah. Melihat obsesi Gavin terhadap sahabatnya, dan sikap posesif pria itu, hal-hal seperti yang harusnya dilakukan oleh pasangan suami istri pasti bisa mereka lakukan sebelum menikah. Keliatan jelas tiap kali Garrel melihat Gavin saat lelaki itu tengah menatap Yaya, Gavin seperti mau menerkam sahabatnya. Memang semua laki-laki tidak dapat di percaya kalau sudah berpikiran mesum. Termasuk dia, Garrel mengakuinya.


Tapi melamar di atas ranjang sangat tidak romantis menurutnya. Namun itu bukan hal utama yang harus dia pikirkan sekarang. Bagaimanapun juga ini adalah pernikahan mendadak, pasti ada sesuatu dibalik itu. Garrel menyipitkan mata menatap Yaya. Mereka sedang berada di rumahnya.


Duduk berdua didekat kolam sambil menikmati cemilan.


"Katakan," ia menjeda perkataannya sebentar. "Apa kau hamil?"


Begitu Garrel menyelesaikan ucapannya, Yaya langsung terbatuk-batuk. Ya ampun, bisa-bisanya Garrel berpikir begitu.


"Hussh, jangan sembarangan! Melakukan itu saja belum pernah, mana bisa aku langsung hamil, jangan mengada-ada Garrel!" jengkel Yaya. Memangnya semua orang yang ingin cepat-cepat menikah harus hamil dulu?


Garrel masih tidak percaya. Ia memicingkan matanya menatap Yaya.


"Kau yakin kalian belum pernah melakukan itu? Tapi katamu semalam dia melamarmu di kamarmu, tepatnya di atas ranjangmu." pria itu mengulang kalimat Yaya tadi.


"Tapi bukan berarti kami melakukannya kan," Yaya jadi menyesali ucapannya tadi. Harusnya dia tidak bilang begitu. Ia lupa laki-laki yang berbicara dengannya adalah Garrel.


"Terus apa yang kalian lakukan di atas ranjang selain adegan dewasa itu?"


Kening Garrel berkerut.


"Hanya tidur? Gavin benar-benar tidak menyentuhmu?"


Yaya mengangguk. Dan Garrel merasa takjub. Kalau dia jadi Gavin, ia yakin dirinya tak mampu bertahan melawan godaan. Hasrat laki-lakinya tidak akan mampu bertahan kalau dia berada di atas ranjang dengan lawan jenisnya. Terutama kalau itu adalah perempuan yang dia sukai.


"Jangan-jangan Gavin memiliki kelainan lagi. Aku masih tidak percaya dia bisa menahan gairahnya saat berada di atas ranjang yang sama denganmu. Sebenarnya kalau dia tidak tahan lagi, ya lakukan saja. Toh ujung-ujungnya kalian akan menikah juga. Apalagi kalian sama-sama sudah berada di usia yang matang." ucapnya.


"Kamu pikir Gavin seperti dirimu? Dia tidak ingin merusakku sebelum menikah. Dan semalam Gavin memintaku menikah karena katanya dia sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya. Makanya dia ingin kami segera menikah, agar hasratnya bisa dituntaskan dengan cepat."


Garrel hampir tersedak mendengar penjelasan Yaya. Kemudian tergelak.Ada yang begitu ternyata. Jujur sekali Gavin.


"Kenapa tertawa?" Yaya menatap sahabatnya itu heran.


"Tentu saja karena merasa lucu," sahut Garrel langsung di tengah-tengah tawanya. Lalu ia teringat keluarga Yaya yang masih berada di tempat yang jauh.


"Bagaimana dengan keluargamu? Tidak mungkin kamu menikah tanpa mereka bukan?" ucapnya.


"Aku sudah menelpon kak Tama tadi pagi. Kata kakakku, keadaan papa mulai membaik, memang penyakitnya tidak akan pulih dengan sempurna, tapi kekuatannya mulai kembali. Mereka akan segera pulang minggu depan. Gavin sendiri sudah bicara dengan papa tentang pernikahan kami. Mereka sudah setuju. Dan kami akan menikah sepuluh hari lagi, tiga hari setelah papa dan kak Tama pulang." jelas Yaya penuh semangat


Astaga! Iya masih tidak menyangka dirinya akan segera menikah dengan Gavin. Mimpinya menjadi kenyataan. Tuhan memang baik, walau dulu hidupnya begitu menderita akibat penolakan orang-orang yang dia cintai, namun kini semuanya berbalik. Ia mendapatkan begitu banyak cinta dari orang-orang. Mengingat perjuangannya di masa lalu, gadis itu menjadi terharu-haru.


"Well, sebaiknya kau cari perempuan yang bisa membantu setiap persiapan pernikahanmu." Garrel sangat tahu kalau Yaya tidak ada sahabat perempuan. Ia sengaja bilang begitu karena dia tahu betapa ribetnya mengurus pernikahan. Apalagi waktunya sudah sangat mepet. Ia tidak mau mengaku. Hahah! Pria itu merasa jahat pada dirinya sendiri saat melihat ekspresi Yaya langsung berubah seketika mendengar perkataannya.


"Kamu tahu sahabatku cuma kamu," sentil Yaya. Garrel mengangguk.


"Lalu?" katanya santai


"Aku mau kamu yang membantuku. Sekalipun ada kenalan perempuan yang bisa menolong, aku hanya ingin kamu, titik!" seru Yaya lalu berdiri meninggalkan rumah Garrel tanpa pamit.


Garrel tercengang menatap kepergian  Yaya. Kemudian tersenyum. Ia ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia. Bisa dibilang dirinya adalah saksi hidup hubungan pasangan itu. Dulu ketika terpisah, mereka sama-sama tersiksa oleh rasa rindu yang amat dalam. Sekarang memang sudah waktunya mereka bahagia. Membangun rumah tangga dan memulai kehidupan yang baru sebagai keluarga. Namun memikirkan sahabat baiknya yang akan segera menikah, membuat Garrel meratapi hidupnya. Kapan dirinya akan mendapat pasangan hidup? Dia juga berharap akan memiliki wanita yang dia cintai dan mencintainya.