Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 38



Gavin menghempas kasar tangan Yaya setelah mereka berada di luar gedung apartemen. Ia tidak bisa menahan emosinya lagi saat tidak sengaja mendengar perkataan gadis itu tadi.


Tadinya, ia hanya bermaksud datang ke apartemen Tama untuk membawa barang Putra yang ketinggalan di rumah, tapi ia tidak menyangka akan melihat kejadian yang tidak menyenangkan itu. Kejadian di mana seorang gadis yang selalu mengejarnya itu meminta pertanggung jawaban pada dua pria dewasa, bahkan dengan tidak tahu malunya ia ingin tinggal bersama mereka.


Huh!


Gavin mendengus kasar menatap gadis didepannya sekarang. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi gadis berkulit tebal ini.


Gavin merasa marah, kecewa dan... Entahlah. Pokoknya saat ini emosinya sangat tidak stabil.


"Jadi gini sifat asli lo?" ucapnya tajam.


Yaya mendongak menatap pria itu. Ia berusaha tersenyum. Meski ia merasa takut karena ini pertama kalinya ia melihat kilatan amarah besar di mata seorang Gavin.


"Ga... Gav, bisa kita ngobrolnya nanti aja? A..aku punya masalah yang harus di urus." pintanya hati-hati.


Gavin mencibir.


"Masalah apa? Lo masih pengen ngemis-ngemis buat tinggal di apartemennya bang Tama? Kenapa lo minta tanggung jawab? Lo dihamilin sama dia?" sentaknya kasar. Ia terlalu emosi sampai-sampai tidak bisa mengontrol lagi semua yang keluar dari mulutnya.


Yaya menatap pria itu kaget. Ekspresinya tidak percaya. Ia tahu jelas bagaimana cara Gavin memandangnya sekarang. Pria itu sedang merendahkan dirinya. Harga dirinya terluka.


Gavin mendengus keras. Ia terus menatap Yaya tajam dan mengintimidasi, sesekali pria itu tersenyum remeh. Lumayan lama mereka saling menatap. Gavin lalu mendekatkan wajahnya perlahan ke gadis itu dan membisikan sesuatu ditelinganya.


"Cewek gampangan kayak lo, nggak pantes minta tanggung jawab." ucapan kasar itu sangat jelas terdengar ditelinga Yaya. Dia terdiam seketika. Lututnya mendadak kaku. Hatinya terluka. Ia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Rasanya terlalu berat.


Tidak, tidak, ia tidak bisa membiarkan lelaki yang dicintainya ini salah paham padanya. Ia harus menjelaskan yang sebenarnya. Dirinya sangat mencintai pria ini. Ia tidak mau Gavin salah paham.


"G...Gav, b..bisa aku jelass..."


"Semua udah jelas." potong Gavin tidak memberi Yaya kesempatan. Sudah cukup selama ini ia merasa selalu dipermainkan oleh gadis itu.


"Gue ingetin juga sama lo, mulai sekarang lo nggak usah ngemis-ngemis cinta palsu lo ke gue. Gue udah muak. Jangan pernah deketin gue lagi." kata-katanya amat menusuk.


Detik itu juga Yaya langsung patah hati. Airmatanya terjatuh tanpa sadar. Ia menangis dalam diam.


Gavin sudah pergi setelah mengucapkan perkataan menohok tadi, meninggalkan Yaya yang berdiri kaku ditempatnya. Perkataan terakhir pria itu terus memenuhi pikirannya. Rasanya begitu sakit. Pria itu tidak tahu betapa besarnya cinta Yaya. Itu bukan cinta palsu, ia benar-benar mencintainya. Haruskah ia jelaskan bahwa selama ini pria itulah yang membuatnya terus berjuang untuk hidup?


Gadis itu tersenyum hambar. Hidupnya sungguh sial. Semua orang yang ia sayangi malah memusuhinya dan meremehkannya. Pandangannya lurus kedepan, tatapannya kosong.


Ia melangkah perlahan meninggalkan gedung itu. Percuma berbalik masuk. Toh kakaknya juga akan mengusirnya lagi. Ia mendadak kehilangan semangatnya setelah mendengar perkataan Gavin tadi. Gadis itu berjalan tanpa suara, hanya isakan pelan yang memenuhi perjalanannya.


                                   ***


Di rumahnya, Gavin menerawang ke langit-langit kamarnya. pikirannya masih dipenuhi dengan satu gadis. Ia akui dirinya sangat marah tadi saat ia melihat gadis itu memaksa mau tinggal dengan Tama. Ia bahkan sampai bicara kasar padanya, mengatai gadis itu karena emosi sesaat. Entahlah. Tadi pikirannya benar-benar kacau.


lelaki itu bergerak gelisah. Entah kenapa ia menyesal. Apa ia sudah keterlaluan? Tapi ia benar-benar emosi tadi hingga kehilangan kontrol.


"arrggh."pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Sialan. Kenapa ia bisa berkata kasar begitu.


                                  ***


Semenjak kejadian hari itu, waktu Gavin merendahkan dan memberi peringatan pada Yaya untuk tidak mendekatinya lagi, gadis itu berubah.


Yaya tidak pernah mendekatinya lagi ataupun merengek seperti biasanya. Gadis itu malah cenderung menghindarinya tiap kali mereka berpapasan. Yaya akan pura-pura tidak melihatnya dan cepat-cepat menjauh. Gavin benar-benar merasakan perubahan gadis itu. Sudah hampir dua minggu ini mereka tidak pernah saling sapa. Harga dirinya pun terlalu tinggi untuk bicara pada gadis itu lebih dulu atau sekedar meminta maaf.


Gavin tenggelam dalam pikirannya. Ia sadar hari itu ucapannya memang keterlaluan karena marah. Apa sebaiknya ia minta maaf ? Tapi bagaimana kalau semua perkataannya waktu itu memang benar? Bagaimana kalau gadis itu saat ini hanya pura-pura kasihan didepannya.. arrgghh... Lagi-lagi pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Brengsek. Kenapa dengannya? Kenapa gadis itu terus memenuhi pikirannya? Bukannya bagus karena sekarang tidak ada lagi yang mengusik ketenangannya. Tapi kenapa ia harus merasa kehilangan saat gadis itu tidak memanggil namanya lagi? Atau saat gadis itu berbalik dan menghindarinya?


Disebelahnya ada Bintang yang ikut merasa heran dengan perubahan Yaya. Dirinya sendiri merasa aneh karena kelas yang biasanya riuh karena gombalan Yaya ke Gavin tiba-tiba menjadi tenang. Tidak ada lagi gombalan, tak ada lagi rengekan dan suara cempreng gadis itu yang tiap hari memenuhi kelas itu dan memanggil Gavin sayang. Jujur saja ia merasa aneh. Seperti ada yang hilang. Mungkin karena ia sudah terbiasa mendengar gombalan receh gadis itu.


Apa mereka bertengkar?