Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 45



Yaya mendes ah pelan. Kini ia sadar penuh. Ia sudah tidak punya tempat lagi di hati kakaknya. Mungkin kebencian kak Tama padanya terlalu besar sampai-sampai mengalahkan rasa sayangnya yang dulu. Gadis itu maju selangkah.


"Aku ke sini buat ucapin selamat tinggal." gumamnya menatap Tama lekat.


"Aku akan pergi." lanjutnya dengan suara pelan.


Tama tersenyum sinis.


"Aku tahu. Aku yang minta papa untuk mengirimmu keluar negeri." katanya enteng. Hati Yaya seperti tercabik-cabik saat mendengarnya. Ia mati-matian menahan diri agar tidak menangis, dan sekuat mungkin berusaha tersenyum tanpa beban.


"Kalau begitu, bisakah aku meminta sesuatu? Untuk terakhir kalinya. Beri aku pelukan. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatmu."


Tama mencibir mendengar permintaan adiknya. Ia menatap Yaya tanpa minat.


"Jangan mimpi." tolaknya lalu membuang muka ke arah lain, tidak mau menatap gadis yang berdiri didepannya itu lagi.


Yaya tetap tersenyum meski dalam hati ia jelas sangat terluka, ia tetap mencoba terlihat biasa saja.


"Aku hanya bercanda." gadis itu tertawa garing lalu menarik napas dan menghembuskannya.


"Ya sudah, jaga diri kakak baik-baik. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku harap kakak bahagia."


Yaya lalu berbalik cepat-cepat menuju pintu keluar dan pergi dari situ. Ia tidak mampu menahan airmatanya mau keluar. Gadis itu mencari tempat yang agak sepi untuk berhenti sebentar dan menenangkan diri.


Lalu airmatanya tumpah. Tangannya meremas dadanya yang terasa sesak. Hatinya begitu terluka. Ia tersenyum pedih dalam tangisnya.


Selamat tinggal kak Tama, gumamnya lirih. Ia menatap sedih pintu apartemen itu sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari situ.


Di dalam, Tama tampak berpikir. Ia tertegun. Entah kenapa kedatangan Yaya hari ini dan perkataan terakhirnya tadi mengganggu pikirannya. Apakah dirinya sudah keterlaluan?


Tama sadar selama ini dia memang sangat dingin pada adiknya. ia tahu gadis itu tidak bersalah. Dirinyalah yang terlalu egois melampiaskan semuanya pada Yaya. Padahal saat itu adiknya masih begitu kecil, tidak tau apa-apa. Pikirannya masih polos. Tapi, tiap kali melihat gadis itu, ia akan teringat mamanya. Dan dirinya tidak mampu mengontrol emosinya. Itu sebabnya lebih baik baginya untuk tidak melihat Yaya. Mungkin mengirim gadis itu keluar negeri adalah keputusan yang baik untuk mereka semua.


"Kau sungguh-sungguh mau mengirimnya keluar negeri?"


suara Putra membuyarkan lamunan Tama. Pria itu meliriknya sebentar tanpa membalas pertanyaan sahabatnya itu. Ia malah cuek. Terlalu malas membahas adiknya sekarang. Otaknya juga sudah penuh dengan segala macam perasaan yang campur aduk.


Putra membuang nafas lelah kemudian ikut duduk di sofa berhadapan dengan Tama yang kini menyibukan diri dengan memeriksa CV CV para pelamar kerja di kantornya.


Sesungguhnya Putra punya firasat aneh. Ia ingin bilang ke Tama kalau Yaya terlihat aneh, tapi tertahan karena ia tahu sahabatnya itu enggan membahas tentang adiknya.


\*\*\*


Apa Yaya sudah pindah? Gadis itu benar-benar keluar negeri? Tanpa pamit? Tanpa mengucapkan salam perpisahan padanya? Tapi untuk apa dia mengharapkan Yaya akan pamit padanya? Selama ini dia tidak pernah peduli pada gadis itu. Wajar jika Yaya pergi tanpa pamit.


Tapi semakin Gavin memikirkan Yaya yang menghilang tanpa kabar, perasaannya jadi makin kacau. Ia ingin bilang kalau Yaya tega sekali pergi tanpa pamit, tapi ia sadar dirinya tidak punya hak untuk marah.


Tapi...


Gavin mengusap wajahnya kasar, ia merasa gusar lalu menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. Tak lama kemudian ia merasakan tangan Bintang menyentuh bahunya.


"Lo tenang aja, gue yakin dia gak bakal pergi." hibur sahabatnya itu seolah mengetahui apa yang dipikirkan Gavin.


Gavin tersenyum paksa. Ia tahu Bintang hanya berusaha menghiburnya. Tapi tetap saja ia tetap kepikiran. Tiba-tiba pria itu mendapat ide. Ia melirik Bintang.


"Lo tahu rumahnya?"


Bintang balas menatap pria itu keheranan. Apa makhluk yang duduk disebelahnya ini benar-benar Gavin? tatapan Gavin penuh harap membuat Bintang merasa takjub dalam sekejap.


"Gue nggak yakin kalo itu benar-benar rumahnya." sahutnya ragu-ragu. "Lo tahu sendiri kan tuh cewek ternyata anak orang kaya, nggak mungkin rumahnya di gubuk."


Gavin menatap Bintang tidak mengerti.


"Lo beneran mau cari dia?" tanya Bintang lagi masih tidak percaya. Ia harus memastikan. Mungkin saja kan ia salah dengar, meski ia yakin dirinya memang tidak salah dengar. Gavin menatapnya sebentar kemudian berdiri tanpa menjawab pertanyaannya. Ia terpikir ide lain.


"Kemana?" tanya Bintang.


"Tempatnya bang Tama." sahut Gavin singkat dan beranjak pergi, Bintang ikut berdiri dari bangkunya dan mengikuti dari belakang. Ia tidak mengerti kenapa Gavin berubah jadi aneh begini tapi tetap ikut saja.


Di tempat lain, Yaya memilih kembali ke rumah papanya. Bukan karena dia setuju pindah keluar negeri atau ingin tinggal kembali di rumah besar itu.


Hanya saja di rumah itu ada begitu banyak kenangan tentang papa mamanya, kakaknya juga dirinya. Kenangan indah saat mamanya masih hidup dan mereka hidup dengan bahagia. Rumah itu pernah menjadi saksi bagaimana Yaya yang dulunya diperlakukan seperti tuan putri. Gadis itu tersenyum nanar menatapi rumah mewah itu. Ekspresinya penuh dengan kesedihan.


Ia memilih masuk lewat pagar belakang yang jarang sekali dimasuki orang rumah selain dirinya sendiri dan kadang satpam yang berjaga. Setelah memastikan tak ada siapapun, Yaya cepat-cepat masuk. Ia tidak ingin ada yang melihat dia datang.


Bukannya Yaya tidak mau bertemu mereka, hanya saja dia terlalu lelah bertengkar. Sekarang ini, tiap kali berhadapan dengan papanya ujung-ujungnya pasti bertengkar. Papanya tidak pernah senang melihat dirinya. Ia sadar bahwa yang dilihat papa dan kakaknya pada dirinya saat ini hanyalah kebencian.


Yaya membuka kamarnya perlahan. Ia tidak melihat keberadaan papa dan dan istri barunya itu, juga Sara. Hanya ada beberapa pembantu yang sibuk bekerja. Saking sibuknya, mereka bahkan tidak melihatnya saat ia berjalan melewati mereka. Gadis itu merasa lucu karena mengendap-endap seperti pencuri di rumahnya sendiri.


Akhirnya Yaya bisa bernapas lega setelah berhasil masuk kamarnya tanpa ketahuan, tanpa ada yang menyadari kedatangannya.


Kamarnya masih sama, matanya menatap lurus ruangan lain dalam kamarnya yang sudah lama tidak dia datangi itu. Ruang rahasianya bersama kakaknya dulu. Sekarang ruangan itu hanya penuh dengan semua rahasianya. Gadis itu melangkah perlahan memasuki ruangan tersebut. Untuk terakhir kalinya, dia ingin berada dalam ruangan itu, bersama semua rahasianya.