
Yaya kembali tertidur setelah mimpi buruk tadi. Tidurnya begitu lelap. Gavin menggumam dalam hati. Pria itu masih duduk di tepi ranjang dan mengamati Yaya. Dan gadis itu nampak begitu polos, seperti anak kecil. Gavin lalu mengangkat alisnya dan mengalihkan pandangannya ke bagian bawah
tubuhnya dengan kesal.
Kalau memang baginya Yaya seperti anak kecil, kenapa dia bisa terangsang seperti ini?
Gavin menatap Yaya lagi dan menggeram kesal. Kesal pada dirinya sendiri. Ternyata terlalu berbahaya berada di sini. Ia takut
lupa diri dan menyerang Yaya dalam tidurnya. Lalu menyesalinya. Dengan hati-hati, dilepaskannya pegangan jemari Yaya di jemarinya, dan berdiri dari ranjang. Dia lalu membungkuk untuk menyelimuti Yaya.
Wajah Yaya begitu dekat dengannya, napasnya berembus ringan dan teratur. Dan Gavin tidak dapat menahan diri. Dikecupnya bibir Yaya lembut. Sebelum kemudian melangkah pergi, meninggalkan kamar itu, meninggalkan Yaya yang masih tertidur pulas. Dia tidur dengan Bintang saja, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
Karena Gavin sudah bersumpah akan memperlakukan Yaya dengan hormat, menghargainya sebagai wanita dan menjaganya dan tidak akan menyentuhnya sampai mereka mengikat perjanjian kudus dalam sebuah pernikahan yang sah, tentu bukan hanya sampai menikah saja. Tapi sampai mereka tua, sampai maut memisahkan mereka.
***
Besoknya, seperti yang dijanjikan Gavin, pria itu langsung membawa Yaya ke kantor Tama. Kakak kandung gadis itu.
"Kenapa nggak anterin aku langsung ke kantor dulu? Aku bisa dimarahi karena nggak kerja benar," ujar Yaya merasa keberatan.
Ia memang merasa dirinya tidak bekerja dengan benar selama menjadi karyawan di perusahaan bosnya yang bernama Raxel itu, namun yang paling utama Sebenarnya adalah dirinya belum siap melihat kakaknya sekarang, walau hanya dari jauh. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa penasaran seperti apa penampakan sang kakak sekarang. Apa masih tampan seperti dulu? Ia yakin masih tampan sih. Bagaimana dengan papa mereka?
Mengingat bahwa dirinya masih memiliki keluarga yang berbagi darah yang sama dengannya membuatnya ingin melihat mereka. Meski hanya dari jauh. Karena sebenarnya dirinya masih takut akan penolakan dan kebencian, seperti dahulu yang pernah ia rasakan.
"Aku sudah bilang ke Raxel. Tinggal hari ini dia saja memberimu ijin di sepanjang bulan ini." balas Gavin. Mereka sedang berada di restoran yang berhadapan langsung dengan perusahaan besar itu.
Gavin ingat Putra dan Tama sering bertemu di restoran ini kalau mau makan siang bersama atau sekedar membicarakan bisnis. Dia membawa Yaya ke sini dengan harapan gadis itu bisa melihat kakaknya nanti. Mereka duduk di tempat yang sedikit tersembunyi. Karena Gavin tahu Yaya belum siap bertemu secara langsung dengan sang kakak.
"Telponmu berbunyi," ucap Yaya karena sejak tadi Gavin hanya sibuk menatap ke seberang jalan dari balik kaca, sampai-sampai pria itu tidak sadar ada yang menelpon..
Pandangan Gavin beralih ke ponselnya di atas meja lalu langsung mematikan panggilan tersebut tanpa pertimbangan apa-apa. Yaya terus menatapnya.
"Siapa?"
"Angkat saja," kata Yaya. Menurutnya itu pasti panggilan penting. Dia tidak mau karena dirinya, pekerjaan Gavin jadi terbengkalai. Mau tak mau Gavin mendengarkan gadis itu dan mengangkat telpon dari sekretarisnya.
"Apa aku benar-benar harus ikut rapat itu? Bukankah ada Putra? Suruh saja kakakku yang menanganinya hari ini."
Yaya terus memperhatikan Gavin bicara serius dengan sekretarisnya di telpon. Ia tidak tahu jelas apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya itu pembicaraan yang penting. Kali ini ia melihat Gavin menghela napas panjang.
"Ya sudah, tiga puluh menit lagi aku ke sana." itu kalimat terakhir Gavin sebelum lelaki itu mengakhiri pembicaraan ditelpon. Pria itu lalu menatap Yaya dengan raut wajah tidak enak.
"Pergilah," ucap Yaya seolah tahu apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.
"Aku tiba-tiba harus ikut rapat pemegang saham. Ada beberapa hal penting yang harus dibahas bersamaku juga." jelasnya masih merasa tidak enak pada Yaya. Yaya tersenyum.
"Aku tahu, pergilah. Aku bisa sendiri di sini." gumamnya.
"Tapi..."
"Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Gavin berpikir sebentar lalu menghembuskan nafas lagi.
"Baiklah." katanya kemudian lalu berdiri dari kursi.
"Jaga dirimu. Jangan lupa telpon aku. Aku akan menemuimu setelah semua urusanku selesai." tambahnya kemudian mengecup singkat kening Yaya dan pergi dari situ.
Yaya melambai dengan senyuman lebar. Ia senang karena hubungannya dengan Gavin saat ini sangat baik. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Takdir memang tidak bisa di duga. Siapa yang tahu, Gavin akan mencintainya sedalam ini dan mereka berakhir dengan menjadi pasangan kekasih. Memang masih baru, tapi ia yakin masing-masing dari mereka menginginkan akhir yang bahagia.
Pandangan Yaya kembali tertuju ke jalan. Dari balik kaca, ia bisa lihat banyak orang yang berlalu lalang diluar sana. Ada yang berjalan sekelompok, berdua bahkan sendirian. Mereka tampak menikmati perjalanan mereka. Yaya tersenyum. Lalu pandangannya berhenti ke seseorang yang keluar dari gedung besar di seberang jalan.
Memang ada banyak orang yang keluar dari gedung itu. Namun pandangan Yaya hanya fokus ke satu orang saja yang baru keluar dari pintu. Orang itu berjalan sendirian. Sesekali ia tersenyum ke beberapa orang yang membungkuk hormat padanya. Setelah orang-orang itu lewat, ekspresi pria itu kembali datar.
Nafas Yaya tercekat seketika.
Kak Tama ....