
Besoknya, saat Yaya di bawah ke ruangan operasi khusus, sudah ada Bintang dan Putra yang bergabung di depan ruang operasi bersama Tama dan Gavin. Tama merasa marah karena sampai sekarang papa mereka belum pernah muncul juga. Memangnya dia tidak merasa khawatir apa setelah mendengar putri kandungnya sakit?
Ke empat pria itu setia menunggu. Gavin tak berhenti-berhenti berdoa dalam hatinya, berharap operasi kedua Yaya akan berhasil. Dan semua penyakit yang ada dalam tubuhnya di angkat. Ia ingin menebus masa-masa yang dia lewatkan dengan gadis itu. Gavin ingin membahagiakan Yaya. Memanjakannya, dan memberikan seluruh hidupnya pada gadis itu.
Selama ini yang pria itu lakukan hanyalah menyakiti hati Yaya, ia tahu dirinya tidak pantas mendapat pengampunan dari gadis itu. Tapi ia sungguh tidak bisa kehilangan Yaya. Ia akan melakukan segalanya untuk mendapat maaf dari gadis itu.
Mereka menunggu dengan sabar berjam-jam. Sampai akhirnya dokter Laska dan beberapa dokter yang lain keluar dari ruang operasi. Ada secercah harapan bagi ke empat pria itu saat melihat senyuman lebar di wajah dokter Laska.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Tama langsung, saat dokter Laska berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum menepuk punggung Tama lalu melihat ke yang lain juga.
"Operasinya berhasil." ucap Laska tak menutupi rasa senang dihatinya juga. Ia sudah berusaha sangat keras, dan hasilnya tidak sia-sia. Doanya tidak sia-sia. Dia berdoa agar Yaya sembuh, dan bisa hidup bahagia dengan orang-orang yang gadis itu sayangi.
Bukannya hanya dokter Laska, ke empat pria itu langsung lega dan merasa senang. Pikiran buruk akan kehilangan Yaya kini terhapus sudah. Gavin bahkan tidak sabar untuk masuk dan menemui gadis yang dia cintai itu.
"Bersabarlah. Setelah dipindahkan ke kamar pasien, kau bisa menemuinya kapan saja." ujar dokter Laska menahan Gavin yang hendak masuk ke ruang operasi. Yaya masih di dalam sana. Belum sadar pasca operasi. Terpaksa Gavin harus menahan diri. Tidak apa-apa, setelah ini ia bisa melihat Yaya tiap hari.
***
Tama, Putra, Gavin dan Bintang memutuskan makan di kantin selagi para perawat memindahkan Yaya ke kamar pasien. Mereka semua juga sudah lapar. Mereka belum sempat makan karena terlalu sibuk menunggu operasi Yaya yang terbilang lama tadi.
"Kau tidak menghubung ayahmu?" tanya Putra di sela-sela makan. Bukan bermaksud membuat suasana hati Tama memburuk, ia hanya merasa Yaya mungkin ingin melihat papa mereka. Selama gadis itu di rawat di rumah sakit bahkan ketika dia sadar, papa mereka belum pernah datang membesuknya.
"Kalau memang dia masih menganggap Yaya putrinya, dia akan datang sendiri. Tidak perlu kupanggil." kata Tama menahan emosi terkait sang papa.
Gavin dan Bintang saling berpandangan. Mereka masih penasaran ada masalah apa sebenarnya dengan keluarga Yaya. Kenapa sampai keluarga tersebut tidak harmonis sampai sekarang ini. Gavin akan bertanya nanti pada Putra. Ia yakin abangnya itu tahu.
Selesai mengisi perut dengan makanan, mereka kembali. Yaya pasti sudah dipindahkan ke kamar pasien. Gavin tidak sabar mengelus-elus pipi gadis itu seperti yang dia lakukan waktu Yaya tak sadarkan diri beberapa waktu lalu. Pria itu tentu ingin terus mendampingi Yaya di masa-masa penyembuhannya. Ia sudah bertekad akan mengejar Yaya setelah gadis itu sehat. Seperti Yaya yang dulu tidak pernah menyerah padanya, Gavin akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih. Gavin tertawa sendiri. Mungkin ini karma karena dirinya terlalu menyia-nyiakan Yaya dulu. Dia bahkan merasa tidak bisa hidup tanpa Yaya.
Ketika mereka sampai dikamar rawat Yaya, kamar itu masih kosong. Aneh, tadi kata perawat mereka akan segera memindahkan Yaya dari ruang operasi. Tapi gadis itu belum ada juga. Padahal mereka pergi sudah lebih dari sejam baru balik.
"Mereka belum memindahkannya?" ujar Bintang ketika melihat ranjang dalam kamar rawat Yaya masih kosong. Gavin memandang keluar kamar, dua orang perawat terlihat sedang bicara serius diluar sana dengan seorang dokter. Tapi bukan Laska. Sesekali mereka akan melihat ke arah kamar rawat Yaya.
"Yaya..." ucap dokter Laska menggantung ucapannya. Gavin menahan napas. Firasat buruk langsung memenuhi benaknya,
"Yaya kenapa?" suaranya menjadi parau. Dokter Laska menarik nafas panjang lalu menyodorkan sehelai kertas ditangannya ke arah mereka.
"Dia pergi dan meninggalkan ini." ucapnya. Kertas itu berisi tulisan Yaya.
"Setelah dipindahkan ke sini dia sempat sadar. Perawat yang bersamanya bilang, Yaya minta di ambilkan makanan. Perawat itu lalu keluar sebentar mengambil makanan, tapi ketika dia balik..." dokter tampan itu kembali menahan napas.
"Yaya sudah tidak ada. Hanya itu yang dia tinggalkan." tambahnya di akhir penjelasan. Walau gaya bicaranya tenang, ekspresinya tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Ia sama cemasnya, apalagi Yaya baru habis operasi besar.
Gavin ikut membaca kertas di tangan Tama. Di sana tertulis...
"Aku pergi. Jangan cari aku. Aku telah memutuskan untuk memulai hidup baru. Mulai sekarang mari jalani hidup kita masing-masing."
Yaya.
Kalimat singkat tersebut sanggup membuat darah yang mengalir di sekujur tubuh Gavin membeku. Begitu pula Tama. Lututnya tak bisa bergerak. Detik itu juga ia merasa lemas. Mungkin ini adalah hukuman yang harus dia terima karena sudah menyia-nyiakan Yaya. Gavin masih mematung. Pria itu terlihat seperti manusia tak bernyawa sekarang ini. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan Yaya.
Putra dan Bintang sendiri merasa iba melihat keadaan Gavin dan Tama. Mereka tampak terpukul. Apalagi Gavin. Karena tak lama sesudah itu, Gavin langsung berlari secepat kilat entah menuju kemana.
"Lo ikut dia." ujar Putra memiringkan kepalanya ke Bintang. Sebaliknya dia akan melihat Tama.
"Dokter..." salah satu perawat menghampiri mereka sambil menatap Laska takut-takut. Mungkin perawat itu merasa karena dirinya, pasien yang dia jaga malah menghilang.
"Pergi ke bagian cctv. Dia mungkin belum jauh dari tempat ini." kata dokter Laska tegas. Baru beberapa menit yang lalu Yaya menghilang, dengan keadaannya yang masih lemah, gadis itu pasti belum jauh. Pandangannya berpindah ke Tama yang masih mematung.
"Yaya gadis yang kuat, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengannya." ucap sang dokter mencoba menghibur Tama.
"Ada apa ini? Yaya kenapa?" Tiba-tiba papa Tama muncul didepan mereka.