
"Tidak usah diskors, anak saya akan segera pindah dari sekolah ini dan menetap diluar negeri."
______________________
Seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut langsung menjadi perhatian seluruh penghuni ruangan.
Kepala sekolah dan pak Dino cepat-cepat berdiri dari ketika menyadari siapa yang datang. Sahabat Sara, Rina dan Marwah saling berpandangan. Mereka bingung. Pasalnya yang mereka tahu lelaki didepan mereka ini adalah papanya Sara. Sedang Gavin dan Bintang ikut merasa bingung. Gavin ingat sekali lelaki paruh baya itu adalah orang yang sama yang pernah menampar Yaya dulu. Jadi mereka ayah dan anak? Kalau benar, pria itu memang sudah kelewatan waktu menampar Yaya didepan umum.
Namun Gavin mengesampingkan pikiran itu sebentar. Ia teringat perkataan pria tersebut tadi, kata-katanya yang bilang Yaya akan pindah ke luar negeri. Pindah sekolah? Cowok itu menoleh ke Yaya. Gadis itu sedang menatap ke laki-laki tua yang datang tiba-tiba tadi. Ekspresinya juga tampak kaget dengan apa yang dia dengar.
"Yaya ini anak pak Tyo?" tanya pak Dino antara percaya tak percaya. Sedang kepala sekolah memang tahu kalau Yaya adalah anak kandung pria tua itu. Salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah mereka. Ketika papa Yaya mengangguk, keadaan langsung menjadi canggung setelahnya.
***
"Jadi Yaya aslinya anak orang kaya?"
"Bener. Sih Sara ternyata cuma anak tiri, anak kandungnya Yaya."
"Pantesan waktu itu Yaya nyerang Sara. Sih kakak kelas itu belagu sih. Pasti karena Sara yang manas-manasin duluan."
"Kalo gue tahu sih Yaya ternyata anak orang kaya, udah gue deketin dari dulu."
Bintang tersenyum sinis mendengar ocehan-ocehan tidak mendidik itu. Jadi kalo kaya dideketin, kalo miskin dijauhin gitu? Huh! Dasar manusia-manusia tidak beradab.
Dirinya sendiri masih terheran-heran sampai sekarang. Kenapa Yaya tinggal di rumah kumuh kalau ia punya papa yang super kaya itu? Pria itu melirik Gavin.
Sejak keluar dari ruangan BP tadi Gavin terus menunduk. Keputusan papa Yaya tentang gadis itu yang akan pindah dari sekolah dan menetap diluar negeri terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bintang yang melihatnya mendesah pelan dan ikut merasa galau. Setelah dipikir-pikir, Yaya adalah gadis yang menyenangkan. Sayang sekali kalau dia harus pindah.
Di tempat lain, masih di area sekolah, Yaya menatap papanya lama. Ada apa dengan pria tua ini? Kenapa tiba-tiba malah mau memindahkannya keluar negeri? Tidak, ia tidak mau. Enak saja, ia tidak suka dirinya di atur-atur. Lagian, bukankah papanya sudah tidak menganggapnya anak lagi? Kenapa malah mau repot-repot memindahkannya ke negeri orang?
"Aku menolak keluar negeri." tolaknya langsung. Papanya mencibir, menatapnya remeh.
"Kamu pikir kalau bukan kakakmu yang meminta, aku akan sudi menemuimu dan membuat semua orang tahu kamu adalah anakku?" tekan papanya.
"Ini adalah keputusan yang terbaik. Tama tidak ingin kau terus mengganggunya, aku pun tidak mau menjadi ayah yang buruk di mata orang-orang karena tidak mengurusmu. Diluar negeri, kau bisa hidup sendiri. Kita juga tidak perlu bertengkar setiap hari. Mengenai biaya hidupmu di sana, jangan khawatir."
Yaya mundur beberapa langkah. Gadis itu tersenyum kecut. Begitu inginnya papa dan kakaknya mengusirnya dari kehidupan mereka. Apa di mata mereka dirinya hanya seorang pengganggu? Apa dia tidak pantas tinggal dekat mereka sampai-sampai mereka harus membuangnya jauh-jauh?
"Kamu bisa kembali ke rumah sampai keberangkatanmu." kata papanya lagi lalu berbalik pergi.
Yaya mendesah panjang. Ia melangkah perlahan. Bukan balik ke kelas, saat ini ia ingin sendirian untuk menenangkan diri. Gadis itu pergi ke atap sekolah. Dia sungguh lelah. Ingin istirahat sebentar, meski dia tahu itu tidak akan membantu sama sekali. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Keluarganya ingin membuangnya. Mereka tidak menginginkannya lagi. Bagaimana dia harus melanjutkan hidupnya sekarang? Dadanya terasa begitu sesak.
Tiba-tiba sesuatu menyerang kepalanya. Rasa sakit itu, rasa sakit yang sama yang sering ia rasakan beberapa minggu ini. Tidak, tidak sama. Rasa sakit yang menyerang kepalanya sekarang ini berkali-kali lipat lebih sakit sampai-sampai dia tidak mampu menahannya. Ia memegangi kepalanya kuat-kuat dan meringis kesakitan. Ia merasa tidak sanggup lagi.
"Aaaargghhh..." teriaknya kencang sambil mengerang kesakitan.
Sementara itu dari jauh, seseorang berlari kencang kearahnya. Orang itu tampak sangat khawatir.
***
Gavin tidak bisa berhenti memikirkan Yaya. Ia tidak bisa konsentrasi pada pelajaran karena memikirkan gadis itu. Bintang bahkan berbisik mengatakan kalau cowok itu kelihatan sekali seperti orang frustasi. Gavin lalu berdiri dari bangkunya dan keluar dari kelas. Ia harus menenangkan dirinya.
Ia memutuskan naik ke rooftop untuk menyendiri. Langkahnya terhenti ketika melihat ada orang lain yang berdiri di ujung sana. Cowok itu hendak berbalik pergi tapi tidak jadi. Ia langsung mengenali gadis itu. Gadis yang sejak tadi merasuki pikirannya, membuat hatinya merasa galau dan tidak tenang.
Gavin berdiri dalam diam sambil terus mengamati Yaya yang berdiri membelakanginya. Tatapannya begitu dalam, sayang sekali gadis itu tidak melihatnya. Posisi mereka agak jauh jadi Yaya belum menyadari keberadaannya. Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu sampai tiba-tiba gadis itu berteriak kencang sambil memegangi kepalanya.
"AAARHGHH!"
Tanpa aba-aba Gavin langsung berlari kencang ke arah Yaya dengan wajah panik. Tangannya mencoba menyentuh gadis itu tapi gadis itu terus memegangi kepalanya dan terlihat amat kesakitan, ia bahkan tidak menyadari keberadaan pria itu.
Kali ini Yaya mulai memukul-mukul kepalanya. Ia tidak tahan dengan rasa sakitnya. Melihat hal itu, Gavin cepat-cepat meraih kedua tangannya, menggenggamnya kuat-kuat. Ia tidak mau Yaya melukai dirinya sendiri.
Yaya merasa tidak berkutik. Tangannya dipegangi kuat-kuat oleh seseorang yang ternyata Gavin itu. Kepalanya terasa amat sakit. Ia tidak tahan lagi. Dirinya mulai lemah. Ia tidak mampu bertahan, lalu tiba-tiba semuanya berubah gelap.
Gavin cepat-cepat menahan Yaya sebelum gadis itu jatuh ke lantai dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Hei... Ya... YAYA!" serunya panik
menepuk -nepuk wajah Yaya. Ia terus menepuk-nepuk wajah cantik itu berulangkali tapi percuma, gadis itu tidak bisa mendengar lagi, ia sudah pingsan. Tanpa pikir panjang pria itu menggendong gadis itu dan berlari cepat ke UKS.
"DOKTER!" teriaknya dengan wajah panik.