Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 65



Setelah memasuki ruangan kerja Raxel, Gavin mengunci pintu. Ia takut Yaya akan kabur lagi, jadi dia harus sangat berhati-hati. Ruangan itu sangat hening. Tidak ada satu pun di antara keduanya yang bicara. Yang pertama dilakukan Gavin saat ini adalah menatap gadis itu, hanya menatap. Tatapan yang begitu dalam dan sarat akan kerinduan yahh amat sangat. Siapapun yang melihat cara Gavin menatap Yaya saat ini pasti merasa iri berat.


Sungguh hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan buat seorang Gavin. Sembilan tahun, sembilan tahun dirinya hidup terpuruk karena kepergian gadis yang menghilang bak ditelan bumi itu. Bahkan dia sampai jadi peminum berat karena depresi.


Tapi hari ini pria itu akhirnya bisa bernafas lega. Perempuan yang dia cari kini berdiri didepannya. Sehat, dan makin dewasa dan terlihat menggemaskan. Wajahnya sangat cantik dan bersinar. Sungguh, Gavin tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Pria itu terus menatap sosok yang berdiri didepannya dengan tatapan dalam dan penuh kerinduan. Lama mereka berdiri berhadap-hadapan dan hanya saling menatap. Lalu Gavin meraih gadis itu dan memeluknya tanpa ijin. Bahkan tanpa ijin Gavin mengecup puncak kepala Yaya.


Yaya hanya mematung. Ia bingung kenapa Gavin seperti ini. Padahal dulu pria itu sangat dingin padanya. Mereka bahkan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Yang ada dalam pikirannya adalah Gavin mungkin sudah lupa padanya. Ia juga pernah berpikir mungkin saja pria itu sudah menikah. Tapi sepertinya dia salah. Gavin dia...


Yaya menggeleng-geleng menyadarkan pikirannya. Dengan kuat dia mendorong tubuh Gavin menjauh, membuat pelukan mereka terlepas. Lalu membalikkan badannya membelakangi lelaki itu. Ia tidak mau terpengaruh lagi dengan sikap pria itu.


Bagaimana kalau sama seperti kejadian di masa lalu? Ketika dirinya telah amat sangat menyukai pria itu karena sikap lembut dan baiknya, tapi kemudian  pria itu berubah menjadi sangat dingin? Yaya sungguh tidak mau berharap lagi. Cukup sudah. Lagipula tidak salahkan dia memperlakukan pria itu seperti ini, karena dirinya pernah diperlakukan sama dulu.


Gavin sendiri memaksa tersenyum. Ia sedih dengan sikap dingin Yaya terhadapnya. namun dia sadar dirinya sudah terlalu banyak membuat Yaya kecewa dulu. Dia masih harus berjuang keras untuk mendapatkan hati gadis itu lagi. Satu hal yang pasti, sedingin apapun Yaya memperlakukannya sekarang, dirinya tidak akan pernah menyerah. Kalau sampai dia menyerah sekarang, sia-sia dong dirinya terus mencari keberadaan Yaya bertahun-tahun ini.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau baik-baik saja kan?" tanya Gavin angkat suara. Situasinya agak canggung karena Yaya masih membelakanginya. Tubuh gadis itu lebih berisi dari sebelumnya. Dulu Yaya sangat kurus. Sekarang jauh lebih berisi. Artinya gadis itu menjalani kehidupannya selama beberapa tahun ini dengan sangat baik. Sekilas terpikir dalam benak Gavin apakah Yaya lebih bahagia hidup tanpa melihat dirinya dan keluarga gadis itu?


"A... Aku merindukanmu." gumam Gavin dengan suara sedih. Ia ingin Yaya tahu kalau dirinya benar-benar merindukan gadis itu.


Didepan sana, Yaya berusaha menahan diri. Gavin rindu padanya? Ini pertama kalinya dia mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut laki-laki yang terus menolaknya dulu. Pria itu kembali berbicara.


"Mungkin terlambat, tapi aku ingin mengatakan ini padamu." Yaya terus diam, dalam hati ia menunggu pria itu melanjutkan ucapannya. Tatapan Gavin makin dalam, walau Yaya tidak bagaimana ekspresi pria itu saat ini, tapi gadis itu sebenarnya bisa merasakan ketulusan dalam suaranya.


"Aku tidak pernah bisa melupakanmu. Bertahun-tahun aku menyesali perbuatanku. Aku tahu aku sudah banyak menyakitimu, membuatmu menderita dengan segala penolakan dan sikap kasarku. Mungkin kau tidak percaya kalau aku bilang sampai detik ini aku tidak pernah berhenti mencarimu, karena..." hening sebentar. Suara Gavin terdengar bergetar. Ia berusaha melanjutkan perkataannya.


"Karena aku benar-benar tidak bisa kehilanganmu, aku bisa gila... Gila karena takut tidak bisa menemukanmu lagi. Setelah semua yang terjadi... Dan setelah kamu pergi... Aku baru sadar, kalau aku sangat mencintaimu." lalu setetes air keluar dari mata Gavin. Ia tak mampu menahan diri. Pria itu ingat betapa hancurnya dia dulu saat Yaya menghilang.


Bintang, Putra dan Tama adalah saksi ketika dirinya berniat bunuh diri awal-awal Yaya pergi. Mungkin banyak orang yang akan berpikir dia pria paling bodoh, dibodohi hanya karena cinta. Tapi Gavin tidak peduli. Yang dia tahu, dirinya tidak bisa tanpa Yaya.


Nafas Yaya tercekat. Baru mendengar pria itu bilang merindukannya saja sudah membuatnya seakan tidak percaya. Tapi apa sekarang? Gavin bilang apa? Pria itu mencintainya? Apa dia salah dengar? Lalu sekali lagi ia tersentak saat merasakan tangan Gavin melingkar dipinggangnya dan memeluknya dari belakang, membuat jantungnya berdetak makin cepat. Melihat pria itu saja sudah membuat jantungnya tidak bisa berkompromi, apalagi dipeluk seperti ini.