
Seperti biasa, Garrel mendapati Gavin berada di pub biasa. Pub yang menjadi tempat kebiasaan lelaki itu minum saat stres. Ketika Garrel sampai, Gavin sudah mabuk berat. Beberapa wanita nampak mendekatinya. Bahkan ada yang berani menggodanya namun langsung ditepis dengan kasar oleh Gavin.
"Pergi ja l ang!" sentaknya kasar. Jelas wanita yang mendekatinya tersebut ketakutan dan langsung pergi. Gavin memang jarang sekali berkata kasar, apalagi terhadap perempuan. Tetapi hari ini dirinya benar-benar hilang kendali. Ia marah kecewa pada Yaya, dan hanya bisa dia lampiaskan pada orang lain.
"Kau yakin akan mabuk-mabukan seperti ini untuk sesuatu masalah yang sebenarnya tidak penting?" Garrel telah duduk di sebelah lelaki itu. Di meja bar, tempat mereka minum bersama.
Ketika Gavin melihatnya, suasana hatinya bukannya membaik malah semakin buruk. Pria itu bahkan melemparkan gelas berisi winenya sampai pecah berserakan di lantai hingga semua orang yang berada di situ kaget dan keheranan menatapnya. Garrel menghela napas. Gavin ini memang sangat tidak bisa mengontrol emosinya kalau itu sudah berhubungan dengan Yaya.
"Maaf, dia lagi ada masalah. Makhlumi saja," ujar Garrel ke beberapa orang di situ yang masih memperhatikan Gavin. Setelah Garrel berkata seperti itu, satu persatu dari orang-orang tersebut mulai pergi dari situ. Dan yang lain kembali sibuk dengan kesibukan masing-masing. Garrel lalu memberi kode ke sih bartender dan bertender langsung mengangguk seolah tahu apa maksud Garrel. Setelah sih bartender pergi entah ke mana, Garrel mulai mengangkat suara, dengan tenang ia berbicara pada Gavin yang terus melihatnya dengan tatapan membunuh.
"Sampai kapan kau akan marah? Dengar, semua tidak seperti yang kau pikirkan. Yaya dan laki-laki itu memang pernah menikah, tapi kejadiannya tidak seperti yang kau pikirkan. Mereka tidak pernah berhubungan. Maksudku berhubungan suami istri. Yaya masih murni, belum tersentuh sama sekali. " jelasnya. Gavin memicingkan mata menatapnya antara percaya tidak percaya. Memang ada begitu lega mendengar penjelasan Gavin kalau Yaya belum tersentuh sama sekali, tapi ....
"Bagaimana dengan bocah itu? Dia memanggil Yaya Mommy." katanya.
"Bocah itu adalah anak kandung dari lelaki yang dinikahi Yaya dari perempuan lain." lalu Garrel mulai menceritakan dengan panjang lebar tentang kejadian yang sebenernya terjadi di masa lalu Yaya. Gavin tampak tercengang dan perasaan marahnya mulai mereda. Tapi ia masih tidak senang karena Yaya sengaja menutupi semua itu darinya. Memangnya apa salahnya jujur? Mereka kan bukan hanya melewati proses ringan untuk sampai dalam hubungan ini. Tapi ketika mendengar cerita Garrel, Gavin mengerti bahwa Yaya butuh waktu untuk cerita.
"Berapa banyak lagi rahasia yang dia sembunyikan dariku?" ujar Gavin datar. Dia memang mabuk, kepalanya sudah sangat pusing. Tapi kesadarannya tidak hilang sama sekali.
"Tidak ada lagi," sahut Garrel. Itu yang dia tahu. Karena satu-satunya rahasia paling besar gadis itu terhadap Gavin adalah tentang pernikahannya dan statusnya sebagai ibu secara hukum dari seorang bocah berumur enam tahun.
"Aku hanya menjelaskan semua yang aku tahu. Selanjutnya terserah padamu." ucap Garrel. Gavin tampak berpikir. Ia bisa memaafkan tapi tidak bisa langsung menerima begitu saja. Pria itu masih cemburu berat mengetahui Yaya pernah menikah dengan laki-laki lain. Meski tidak terjadi apa-apa. Namun hatinya sudah merasa lega sekarang. Untung juga Yaya punya sahabat seperti Garrel ini. Gavin bisa lihat Garrel benar-benar tulus sebagai sahabat.
***
Keesokan paginya, Gavin terbangun dengan rasa pusing yang amat sangat di kepalanya. Ia tidak tahu berapa botol wine yang dia minum semalam, tapi ia yakin rasa sakit di kepalanya pasti akibat dirinya minum-minum semalam. Terakhir kali yang ia ingat, Garrel yang mengantarnya pulang.
"Gavin, kamu baik kan?
"Aku nelpon kamu berkali-kali."
"Gavin sayang, masih marah?" senyuman yang tadinya biasa saja berubah menjadi senyuman lebar yang penuh kebahagiaan. Ia senang Yaya memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kamu sudah dengar dari Garrel kan? Aku akan menjelaskan semuanya nanti, setelah urusanku dan Liam selesai."
nama itu membuat Gavin mengernyitkan kening. Liam? Oh, pasti laki-laki kemarin. Senyumnya mendadak hilang, berubah menjadi ekspresi cemburu. Lalu tanpa pikir panjang ia menelpon Yaya. Gadis itu langsung mengangkat.
"Gavin, akhirnya." terdengar hembusan napas lega Yaya diseberang. Gavin lalu bicara dengan suara yang sengaja dibuat seserak mungkin.
"Kalau kamu mau aku maafin, temui aku sekarang. Jangan kecewakan orang sakit," gumam pria itu. Kepalanya memang masih pusing. Dan ia yakin itu akan membaik kalau gadis yang dia cintai tersebut datang.
"Kamu sakit?" ada nada khawatir dalam suara Yaya.
"Mm ..." balas Gavin entah kenapa ia merasa suaranya sudah serak beneran. Astaga, dia benar-benar bukan hanya pusing saja. Kemungkinan dia flu.
"Tunggu di situ, aku akan segera ke sana." seru Yaya setelah itu langsung menutup telpon. Gavin memegangi dahinya dan menghela napas.
"Padahal aku hanya bercanda tadi," gumamnya. Badannya terasa panas dan mulai menggigil. Tiba-tiba laki-laki itu merasa seluruh tubuhnya menjadi lemah.