Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 80



Apa aku salah lihat? Yaya bergumam dalam hati. Awalnya dia pikir dirinya memang salah lihat. Lelaki yang keluar dari gedung besar itu mungkin saja hanyalah seseorang yang mirip dengan kakaknya. Namun sepertinya dia tidak salah lihat. Lelaki itu memang kakaknya. Kakak yang selalu dia rindukan selama ini.


Namun satu hal yang berbeda dari pria itu adalah, dia sangat kurus sekarang. Masih tampan memang, tapi wajahnya tidak memancarkan kebahagiaan. Ada aura gelap yang tergambar jelas di wajahnya.


Ada apa dengan kak Tama?


Yaya tertegun sambil terus berpikir dalam hati. Pandangannya tidak lepas dari laki-laki yang sekarang ini menyeberang dan berjalan ke arah restoran tempatnya berada. Sepertinya pria itu memang akan masuk ke restoran itu.


Yaya cepat-cepat menunduk ketika Tama memasuki restoran tersebut. Memang tempatnya berada agak tersembunyi, tapi bisa saja kan kakaknya memilih tempat duduk yang dekat dengan mejanya.


Hari ini ia benar-benar merasa seperti seorang mata-mata. Takut dirinya ketahuan. Yaya baru bisa bernapas lega setelah melihat sang kakak duduk membelakanginya di meja bagian tengah. Jarak mereka tidak begitu jauh.


Walau Tama membelakangi Yaya, gadis itu masih bisa melihat sang kakak dengan jelas dari tempatnya berada. Sekarang ia melihat seorang pelayan menghampiri meja Tama. Pria itu fokus ke menu yang disodorkan oleh sang pelayan.


Yaya tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya ketika memperhatikan keadaan kakaknya dari belakang. Apa kak Tama sakit? Kenapa tubuhnya makin kurus?


"Nona, apakah anda mau memesan?" pertanyaan itu sukses membuat Yaya tersentak. Hampir saja ia memekik karena kaget. Untungnya dia cepat-cepat sadar dan menutup mulut dengan kedua tangannya. Gadis itu mendongak ke atas, ke sang pelayan yang saat ini menatapnya dengan wajah heran.


"Anda baik-baik saja kan nona?" tanya sih pelayan lagi dengan nada ramah.


Yaya tersenyum.


"Tidak apa-apa. Aku pesan chicken cordon blue satu, sama minumannya jus mango." balas Yaya langsung mengatakan pesanannya dengan nada suara yang sengaja dipelankan. Ia takut kalau bicara kuat, kak Tama akan mengenali suaranya. Padahal belum tentu pria itu bisa mendengarnya.


Pelayan tersebut langsung mencatat pesanan Yaya.


"Baik nona, harap tunggu sebentar ya," kata pelayan tersebut ramah, dibalas dengan senyuman Yaya yang manis.


Pandangan Yaya beralih lagi ke kakaknya didepan sana. Keningnya berkerut samar. Kali ini kakaknya tidak sendiri. Ada perempuan lain yang duduk di meja yang sama dengan lelaki itu. Mungkin wanita itu datang pas dirinya sedang bicara dengan pelayan tadi. Mereka duduk berhadapan. Tentu saja Yaya tidak kenal siapa perempuan tersebut. Namun dia bisa melihat kalau wanita itu sepertinya menyukai kak Tama, dari cara wanita itu menatap kakaknya. Apa mereka pacaran? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dibenak Yaya.


Sial!


Wanita itu tampaknya menyadari gerak-geriknya yang sejak tadi terus memperhatikan mereka. Dari jauh Yaya tersenyum seperti orang yang baru saja tertangkap basah lalu pura-pura menunduk. Wanita tersebut jelas sekali merasa terganggu dan balas menatapnya tajam.


                                    ***


"Apa yang kau lihat?" Tama bertanya pada Lindsey karena gadis itu terus menghadap depan dengan raut wajah tidak senang. Entah apa yang dia lihat. Lindsey ini merupakan salah satu perempuan yang bekerja dikantornya. Juga merupakan teman kampusnya dan Putra. Mereka cukup dekat tapi Tama tidak ada perasaan apa-apa terhadap wanita itu. Padahal sudah lama ia tahu Lindsey menyukainya. Hidupnya saat ini lebih ia fokuskan untuk mencari adiknya dan mengurus papanya. Ia belum memikirkan untuk mencari pasangan hidup.


"Seorang wanita aneh, dari tadi terus memperhatikanmu." sahut lindsey. Tama yang penasaran menoleh ke belakang. Namun perempuan yang dikatakan Lindsey tadi cepat-cepat menunduk ke bawah meja, membuatnya tidak bisa melihat seperti apa wajah perempuan itu.


Lindsey benar. Wanita itu memang aneh. Tama berbalik lagi menghadap Lindsey.


"Aku tahu banyak wanita tertarik padamu, tapi yang aneh seperti wanita itu baru aku lihat hari ini." kata Lindsey lagi. Tama tersenyum tipis, lebih memilih tidak peduli.


"Bagaimana dengan adikmu, ada berita baru?" tanya Lindsey mengubah topik. Hanya itu topik yang paling bisa membuat Tama buka suara. Biasanya pria itu hanya terus diam seperti tak ada gairah hidup. Tapi kalau bertanya tentang adiknya, dia pasti bicara. Lindsey belajar dari Putra.


Tama baru mau buka suara namun suara keras pelayan membuatnya terhenti sebentar.


"Nona pesanan anda!" seru pelayan perempuan berambut pendek tersebut. Suaranya sangat keras sampai-sampai terdengar menganggu bagi para pelanggan lain.


Tama sempat menoleh sekilas ke pelayan tersebut lalu matanya menangkap sosok gadis yang sangat dia kenal berdiri dari meja tempat perempuan aneh tadi duduk dan berjalan ke arah pintu keluar dengan langkah cepat.


Mata Tama sukses membulat besar. Pria itu langsung berdiri dari kursi. Wanita aneh yang kata Lindsey sedang menatapnya tadi adalah Yaya, gadis yang sudah ia cari bertahun-tahun ini, adik kandungnya.


"Yaya!"


seru Tama dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu memang membelakanginya. Tapi dirinya tahu kalau itu benar-benar adiknya. Sementara Yaya sendiri terdiam mematung didepan sana. Tidak berniat berbalik sama sekali, karena lututnya terlalu kaku untuk bergerak.


Karena takut ketahuan, Yaya memutuskan untuk pergi dari restoran itu. Tapi sih pelayan malah mengacaukan semuanya. Pada akhirnya kak Tama menyadari keberadaannya. Yaya sungguh tidak tahu bagaimana merespon sang kakak.


"Yaya ...."


kali ini Yaya mendengar suara kakaknya dari jarak yang amat dekat. Pria itu sudah berdiri disebelahnya. Rasanya begitu canggung bagi Yaya. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Dan ketika sang kakak menarik dan membawanya ke dalam pelukan, tanpa sadar gadis itu menangis. Ia tidak tahu kenapa tapi ia sangat emosional hari ini. Keduanya sama-sama menangis sambil berpelukan didepan pintu masuk, membuat orang-orang yang berada di situ keheranan.