
Seperti janji Yaya, siang ini dia makan dengan Gavin. Walau masih sedikit terpaksa, tapi tidak terpaksa-terpaksa amat juga. Karena Gavin adalah laki-laki yang terus ada dalam hatinya sampai sekarang. Sosok pria yang dia cintai, belum ada yang tergantikan. Tapi Yaya tidak menyangka tingkah pria itu setelah mereka bertemu lagi malah jadi sedikit gila, Yaya kesulitan berhadapan dengannya. Gavin yang sekarang, hanya bisa membuatnya menggeleng-geleng kepala.
"Bagaimana, enak?" tanya Gavin di sela-sela mengunyah makanannya. Pria itu terus berusaha membuat suasana menjadi tidak canggung karena dari tadi Yaya tidak bicara sepatah katapun. Mereka berada di sebuah restoran Perancis dekat kantor Raxel. Gavin sengaja cari tempat makan yang dekat-dekat biar Yaya tidak terlambat saat balik ke kantor nanti.
"Lumayan." sahut Yaya singkat. Sejak tadi ia terus berusaha menghindari tatapan Gavin, karena pria itu bisa membiusnya kapan saja dengan mata indahnya.
"Jadi, sejak kapan kau tinggal dan bersekolah di Perancis?" pria itu menanyakan pertanyaan lain. Ia ingin tahu. Yaya berhenti makan sebentar dan menaikkan wajahnya menatap Gavin dengan alis naik turun. Sorot mata Gavin seperti sangat mengharapkan jawaban gadis itu.
"Lima bulan setelah meninggalkan kalian semua." jawabnya. Ia rasa tidak perlu menutupi hal itu lagi. Tidak terlalu penting juga. Gavin yang mendengar mengangguk-angguk mengerti. Rasanya cukup sesak ketika mengingat masa-masa Yaya menghilang dulu. Masa-masa itu sekaligus adalah masa di mana Gavin merasa dunianya runtuh seketika. Karena orang yang dia cintai meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Gavin menatap Yaya lekat,
"Apa aku berlebihan kalau aku bilang ingin tahu semua perjalanan hidup kamu selama sembilan tahun ini?" gumam Gavin penuh perasaan. Ia sungguh ingin tahu apa saja yang sudah Yaya alami selama bertahun-tahun ini hidup sendiri tanpa keluarganya.
Yaya terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya ia sangat ingin menceritakan semuanya ke Gavin, tapi ia sadar sekarang belum saatnya.
"Tidak sekarang." hanya itu yang bisa dia katakan. Tapi dua kata tersebut malah menjadi kekuatan bagi Gavin. Karena Yaya memberinya kesempatan. Ia sangat berharap gadis itu masih menyukai seperti dulu.
Gavin seperti memiliki keyakinan bahwa cinta keduanya sangat kuat. Tapi sekarang ini ego Yaya masih tinggi. Mungkin karena gadis itu tidak mau disakiti lagi seperti yang terjadi dulu semasa mereka sekolah. Gavin berjanji kali ini dirinya benar-benar akan membuat Yaya yakin penuh padanya. Membuat gadis itu percaya bahwa dirinya sungguh-sungguh ingin memulai semuanya dari awal.
"Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau menerimaku lagi. Kali ini aku yang akan berlari ke arahmu." gumamnya lagi. Yaya menjadi sedikit salah tingkah dengan kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Gavin. Dirinya pura-pura terlihat sebiasa mungkin, takut ketahuan.
***
Sepulang kantor Yaya meletakkan ponsel di atas nakas dan menarik selimut sampai ke dagu. Ia meringkuk nyaman di atas ranjang di balik selimut sambil bertanya-tanya apakah ia telah mengambil keputusan yang tepat dengan memberikan nomor teleponnya kepada Gavin tadi?
Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa suara. Yaya meraihnya dan membaca pesan yang masuk lewat akun what'up-nya
Terima kasih. Sudah memberiku kesempatan. Tadi adalah makan siang yang sangat menyenangkan.
Yaya meringis. Ia baru hendak mengembalikan ponsel
ke nakas ketika ponsel dalam genggamannya bergetar lagi.
Apakah kau tahu hanya ada garis tipis yang memisahkan perasaan benci dan cinta?
"Oh, yang benar saja," gerutu Yaya lirih.
Di seberang, Gavin sedang menggosok gigi di kamar mandi ketika pesan
balasan Yaya masuk.
Garis tipis apaan, jangan terlalu percaya diri.
Gavin terkekeh pelan dan membalas lagi,
Omong-omong, apa yang sedang wanita tercantik di dunia ini lakukan malam ini?
Itu bukan urusanmu. Dan jadi orang jangan terlalu lebay.
Lalu ia menekan tombol kirim sekuat tenaga, walaupun usaha itu tidak menghasilkan efek dramatis dalam bentuk apa pun.
Beberapa detik kemudian, balasan dari Gavin masuk lagi.
Urusanmu adalah urusanku juga. Dan tidak masalah kau mengataiku lebay. Karena bagiku, memang hanya kau satu-satunya perempuan yang paling cantik di dunia ini.
Yaya meringis.
"Dia benar-benar sudah gila."
Aku harus tidur sekarang. Tidak ada waktu melayani omong kosongmu.
Gavin duduk di tepi ranjang sambil membaca pesan itu
dan tersenyum.
Selamat tidur. Semoga mimpi indah,
Ketiknya. Karena gadis itu tidak ada di dekatnya untuk melayangkan
salah satu pukulan mautnya, Gavin menambahkan,
Mimpi indah calon ibu buat anak-anak Gavin
Gavin yakin ucapan kelewat manis itu akan membuat Yaya sebal setengah mati. Pria itu terkikik sendiri. Balasan gadis itu singkat saja.
Aku membencimu.
Gavin pun segera membalas,
Aku mencintaimu.
Kemudian tak ada balasan lagi dari Yaya. Gavin puas sekali dengan hasil chattingannya bersama gadis itu. Malam ini dia benar-benar mabuk. Bukan mabuk minuman seperti masa-masa suramnya sampai beberapa hari lalu. Malam ini dirinya mabuk karena cintanya pada Yaya.
Dia rasa dia tidak akan bisa tidur karena memikirkan gadis itu sepanjang malam.
Sementara itu di kamarnya, Yaya tidak berhenti-berhenti memikirkan kalimat terakhir Gavin. Kata-kata itu terlintas dalam benaknya. Membuat otaknya tidak bisa tenang. Jantungnya berdebar-debar.
Gavin benar-benar sudah gila. Dan sepertinya, dirinya juga sudah ketularan gilanya pria itu. Lihat saja sekarang. Ia kembali membaca teks pembicaraannya dengan Gavin tadi dan senyum-senyum sendiri.