
Ketika Raxel mendengar dari anak buahnya kalau Putra mengalami kelakaan, ia bergerak secepat mungkin ke rumah sakit. Tidak ada yang tahu kalau Raxel adalah sosok laki-laki yang membantu Putra untuk menyelidiki beberapa kasus mencurigakan. Termasuk menyelidiki latar belakang kekasih pria itu. Putra sendiri yang memintanya. Karena Raxel memiliki banyak kenalan dalam bidang itu. Pria itu juga termasuk berpengalaman. Sebelum berbisnis, pria itu adalah salah satu penyidik yang bekerja bersama ayahnya. Ia mundur dari pekerjaan itu setelah sang ayah meninggal. Itu sebabnya Putra memilihnya. Karena dia punya pengalaman.
Waktu Raxel sampai rumah sakit, ia berjalan secepat mungkin ke kamar rawat Putra. Kecelakaan itu begitu tiba-tiba, karena terjadi setelah Putra bertengkar hebat dengan Lini. Jelas Raxel curiga. Dia memang belum sepenuhnya yakin dengan permainan kotor apa saja yang sudah Lini lakukan yang merugikan perusahaan keluarga Putra, tapi Raxel yakin kecelakaan yang terjadi pada Putra bukan kecelakaan sederhana. Kemungkinan besar pria itu di celakai.
"Raxel," langkah pria itu terhenti. Ia memandang lurus ke Gavin dan Bintang yang berdiri sekitar lima meter didepannya. Mereka tengah berbincang-bincang dengan raut wajah serius.
"Kenapa di sini?" jelas Gavin heran. Setahunya kakaknya jarang berinteraksi dengan Raxel, hanya dirinya saja. Atau Bintang.
"Aku dengar kakakmu kecelakaan, aku ingin memeriksa ..." ketika Raxel menghadap ke arah pintu kamar rawat Putra. Pria itu kaget bukan main. Dari balik kaca kecil pintu itu ia melihat jelas kejadian yang sedang terjadi di dalam sana. Yaya di tampar oleh sosok laki-laki yang membelakanginya sampai tersungkur ke lantai, lalu laki-laki itu menunduk mengangkat Yaya lagi dengan kasar, menariknya kemudian membenturkan kepala gadis itu berkali-kali ke tembok. Putra tidak berdaya di dalam sana.
Dan Raxel yang menjadi saksi kejadian itu secepat kilat berlari ke pintu sebelum terlambat. Sayang sekali pintu itu terkunci dari dalam.
"****!" makinya. Kemudian tanpa pikir panjang pria itu mundur dan maju lagi menendang pintu itu berkali-kali.
Jelaslah Gavin dan Bintang keheranan. Dan melihat kepanikan Raxel, Gavin ikut panik. Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya? Dua pria itu berlari ke dekat Raxel. Betapa kagetnya Gavin melihat kejadian yang sedang berlangsung di dalam sana.
Yaya. Kekasihnya yang mati-matian ia jaga, dia perlakukan dengan sangat lembut, kini diperlakukan seperti binatang oleh laki-laki bertopeng sialan itu. Brengsek. Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Gavin seolah-olah membeku. Pria itu mendorong Raxel. Dan dengan sekali tendang pintu itu terbuka.
Raxel berlari lebih dulu, secepat kilat menuju Yaya yang masih dicekik sih lelaki bertopeng. Sedang Bintang berlari ke arah Putra. Raxel menendang pria itu hingga Yaya terlepas dari cengkeraman tangannya. Raxel cepat-cepat menangkap Yaya yang hendak terjatuh. Gadis itu terbatuk-batuk.
"Kau baik-baik saja?" tanya Raxel khawatir. Tapi Yaya tidak menjawab. Gadis itu masih terbatuk-batuk.
Sedang Gavin? Setan dalam diri pria itu bangkit. Pandangan tertuju ke sih laki-laki bertopeng. Laki-laki itu berniat lari, tapi pintu keluar ditutup. Dia tidak ada akses lagi untuk kabur.
Tanpa berpikir lagi, Gavin mencengkeram baju pria itu, menariknya berdiri dengan satu sentakan keras, lalu meninju wajahnya berkali-kali. Sampai darah segar keluar dari mulutnya, pipinya lebam-lebam dan ada luka juga. Begitu pria itu tersungkur di lantai, Gavin langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar ke dinding, lengannya yang kuat menjepit leher pria itu.
Saat itu Gavin benar-benar kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu besar yang belum pernah dirasakannya sebelum ini. Amarah hebat yang membuatnya ingin menuntut darah. Membuatnya sanggup membunuh siapa pun
yang menyakiti Yaya.
dari lehernya. Tapi Gavin sangat kuat. Tidak membiarkan pria itu lolos begitu saja. Percayalah, kalau Raxel tidak menyebut nama Yaya, laki-laki itu pasti sudah mati ditangannya.
"Gavin, Yaya pingsan!" seru Raxel panik. Pasalnya ia baru sadar kepala bagian belakang Yaya berdarah. Ia baru memeriksanya setelah melihat tangannya yang sudah basah dengan darah. Darah gadis itu.
Mengabaikan Raxel sebentar, Gavin tetap menatap wajah pria itu lekat-lekat.
"Aku akan membunuhmu," gumam Gavin dengan suara yang sangat rendah, sangat dingin, dan sangat serius. Keheningan yang menyusul terasa sangat mencekam sementara sementara pria itu menatap Gavin dengan mata terbelalak dan
wajah merah padam karena sesak napas.
"Gavin, aku rasa kekasihmu harus segera diperiksa."
Gavin akhirnya melepaskan pria itu, menatapnya yang jatuh lemas ke lantai seperti onggokan
lembek dan terbatuk-batuk. Raxel bergegas menariknya berdiri dan mendorongnya ke sofa. Pria itu mengambil apapun yang terlihat oleh matanya, yang bisa dipakai untuk mengikat laki-laki itu.
Setelah Gavin mengambil alih Yaya, jantungnya serasa ditikam ketika ia melihat sosok Yaya yang penuh luka-luka.
"Cepat cari dokter. Bang Putra biar aku yang urus. Aku sudah menelpon dokter yang menanganinya." ujar Bintang. Ia juga khawatir terjadi apa-apa pada Yaya.
Gavin lalu menggendong kekasihnya tersebut dan berlari keluar. Tak lama setelah Gavin keluar, dokter yang menangani Putra datang dengan beberapa perawat. Mereka kaget melihat kekacauan yang terjadi dalam ruang rawat tersebut. Ruangan itu ada bercak-bercak darah dan sangat berantakan.
Bintang membiarkan para tim medis memeriksa Putra. Pandangannya berpindah ke sih penjahat tadi yang kini terikat di sofa. Wajahnya babak belur. Tapi Bintang tidak merasa kasihan sama sekali. Laki-laki jahat itu pantas mendapatkannya. Kemudian Bintang melihat Raxel, pria itu sedang menelpon. Suaranya cukup kencang hingga Bintang bisa dengar yang bicara dengannya ditelpon adalah polisis.