Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 64



Pagi ini Gavin tidak bergairah kerja. Dia menyerahkan seluruh pekerjaannya ke Bintang dan memutuskan pergi ke kantor putra dari almarhum detektif yang dulu membantunya mencari keberadaan Yaya. Mereka seumuran. Dan kini pria  itu telah resmi menyandang sebagai pemilik salah satu perusahaan terkenal.


Namanya Raxel Wiguna. Dulu juga beberapa kali sempat membantu ayahnya memecahkan beberapa kasus. Sebelum akhirnya sang ayah meninggal dunia karena sakit dan Raxel memutuskan lanjut studi di luar negeri.


Setelah ayahnya meninggal, hubungan Raxel dan Gavin makin dekat. Raxel berjanji akan menggantikan ayahnya menemukan gadis yang pria itu cari. Bisa dibilang mereka termasuk bersahabat sekarang. Gavin kadang datang padanya dan terus menanyakan kabar tentang pencariannya terhadap Yaya. Itu sebabnya kenapa Raxel merasa wajah Yaya tidak asing.


Karena pria itu punya fotonya juga. Hanya saja ia masih ragu apakah Yaya orang yang sama dengan gadis yang mereka cari atau tidak, karena nama belakang mereka berbeda. Ketika Raxel hendak bertanya untuk meyakinkan pendapatnya, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Kebetulan sekali pria yang muncul adalah Gavin.


Raxel yang awalnya menatap Gavin, kini berpindah ke Yaya. Gadis itu tampak membeku, wajahnya kelihatan sekali kaget melihat laki-laki yang tiba-tiba muncul didepannya. Raxel sendiri langsung menyadari wanita itu memang adalah gadis yang selama ini di cari-cari oleh Gavin. Buktinya, ada di raut wajah Gavin. Apalagi saat pria itu menggumamkan nama Yaya dengan suara rendahnya.


"Yaya..." gumam Gavin penuh haru. Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat gadis itu di kantor Raxel. Kakinya melangkah perlahan-lahan mendekati Yaya yang masih mematung.


Betapa senangnya Gavin melihat gadis itu lagi. Bertahun-tahun ini Yaya hanya hadir dalam mimpinya. Ia selalu berharap mimpi itu akan menjadi kenyataan dan memohon pada Tuhan agar bisa mengabulkan permintaannya. Hari ini, permintaannya benar-benar terkabul. Tuhan seperti menuntunnya datang ke kantor Raxel agar bisa bertemu Yaya.


Selangkah lagi, selangkah lagi bagi Gavin untuk bisa meraih Yaya. Namun, sebelum benar-benar sampai dihadapan Yaya, gadis itu malah berlari keluar sekencang mungkin. Gavin sontak panik.


"YAYA!" teriaknya panik. Pria itu berbalik mengejar. Raxel ikut berdiri. Mengingat kondisi Gavin dulu ketika mereka tidak menemukan gadis yang dia cari, Raxel tidak bisa membiarkannya sendiri. Gavin adalah sosok pria yang bisa berbuat nekat. Dulu saja dia sempat mau lompat dari atas gedung. Pokoknya Raxel harus memastikan gadis bernama Yaya itu tidak berhasil kabur. Demi ayahnya yang sudah meninggal, dan tentu saja demi Gavin.


Dalam perjalanannya Raxel menyempatkan diri menelpon seseorang. Ia langsung memberi perintah ketika telponnya diangkat.


"Perintahkan mereka yang bertugas hari untuk menutup semua gerbang kantor. Ingat, semuanya. Jangan membiarkan siapapun keluar." perintah Raxel kemudian menutup pembicaraan dengan cepat. Sepertinya pria itu menelpon sekuriti.


Raxel kembali berlari. Ia masih bisa lihat Yaya dan Gavin yang kejar-kejaran didepan sana. Bahkan para karyawan yang tengah sibuk kerja di sekitarnya dibuat keheranan. Mereka penasaran. Untung ada Ria, sekretaris Raxel yang memberi perintah supaya mereka kembali bekerja.


"YAYA, Pleasee..." teriak Gavin lagi. Yaya sendiri tidak tahu kenapa dirinya harus lari. Dia tidak salah apa-apa. Dia juga tidak perlu menghindar lagi. Tapi kakinya tetap saja tidak mau berhenti. Gadis itu terus berlari sampai terhenti di gerbang keluar yang sudah terkunci.


Sial. Makinya dalam hati. Kalau gerbangnya di kunci begini bagaimana dirinya bisa kabur coba? Malah Gavin makin dekat lagi. Kenapa juga sih bos perusahaan ikut-ikutan mengejar.


Yaya tak berhenti-berhenti merutuki kesialannya. Padahal baru dua hari dirinya berada di ibu kota, tapi sudah dipertemukan dengan Gavin. Dengan cara yang tidak dia duga. Tidak, tidak bisa. Yaya berbalik menghadap gerbang. Dia harus mencari cara agar bisa kabur.


Gavin makin dekat. Dan Yaya merasa perutnya makin geli. Tanpa pikir panjang gadis itu nekat menaiki gerbang yang tingginya kiri-kira dua meter itu.


"Argggh!!!" teriak Yaya saat merasakan tubuhnya di gapai dari bawah hingga berhasil membuatnya turun.


"Lepasin!" jeritnya.


Lengan Gavin yang besar dan kuat terus menahan pinggangnya, tak berniat melepaskannya sama sekali. Tapi Yaya tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, mencakar, menggigit lengan yang tetap terasa sekeras batu itu.


Napas Yaya terengah-engah dan wajahnya merah padam menahan


amarah dan rasa malu karena sebagai perempuan kekuatannya begitu


tak berdaya menahan dominasi kekuatan laki-laki seperti Gavin. Akhirnya gadis itu memilih menyerah. Ia tidak sanggup lagi untuk melawan. Yaya lalu melemparkan tatapan dingin dan penuh permusuhan ke Gavin. Dirinya kesal bukan main.


Gavin sendiri, malah merasa senang. Senang karena setelah bertahun-tahun tidak menyerah, akhirnya dirinya menemukan Yaya, belahan jiwanya.


"Lepaskan aku." suara dingin Yaya terdengar di keheningan.


Orang-orang yang masih menonton sudah di usir oleh Raxel.


Raxel kini memusatkan perhatian kepada pasangan didepannya sekarang.


"Akan aku lepas, asal kamu janji nggak akan kabur lagi." gumam Gavin menatap Yaya lekat. Tangannya masih setia melingkar dipinggang Yaya.


Yaya tidak menyahut. Astaga, kenapa dia harus berada di situasi tidak menyenangkan ini sih. Kalau saja ada Garrel di sini. Pria itu pasti sudah membantunya. Akhirnya dengan berat hati gadis itu mengiyakan.


Gavin tersenyum tipis lalu melepaskan Yaya. Mereka berdiri berhadap-hadapan. Lalu Gavin melirik Raxel sekilas.


"Aku pinjam ruangan mu sebentar." ucapnya. Raxel langsung mengangguk. Kemudian tanpa ijin Gavin meraih tangan Yaya beranjak dari situ.


"Jangan coba-coba berontak Yaya." ancam Gavin mendominasi, membuat niat Yaya yang berusaha melepaskan genggaman pria itu dari tangannya terhenti. Ia tidak mengerti kenapa sampai sekarang dirinya masih saja tidak bisa melawan pria itu.