Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 50



Gavin memeluk Yaya erat-erat. Menciumi seluruh wajahnya berulang kali. Menyalurkan semua rasa sayang yang selama ini ia pendam terhadap gadis itu. Ia baru sadar Yaya sangat berarti baginya. Demi Tuhan, apa yang dia lakukan selama ini? Dirinya benar-benar pecundang.


"Hei, bangunlah. Aku janji nggak bakal ketus lagi sama kamu, hm? Maafin aku udah jahat banget sama kamu.Yaya, aku mohon... Memangnyq kamu nggak pengen dengerin aku bilang cinta sama kamu, hm?" suara pria itu terdengar serak dan frustasi.


Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak peduli orang-orang akan berkata ia laki-laki cemen atau apalah. Sekarang ini ia hanya butuh Yaya. Dia bisa gila kalau kehilangan gadis itu. Ia ingin menebus semua kesalahan yang dia lakukan terhadap Yaya.


Bintang memilih keluar. Ia merasa tidak sanggup melihat Yaya yang terbaring tidak berdaya, juga Gavin. Ia baru tahu ternyata cinta Gavin sangat dalam pada gadis itu. Mereka berdua sama-sama gila, sama-sama membuatnya ikut terhanyut dalam kesedihan.


Yaya... Bintang menggumamkan nama Yaya sambil membelakangi mereka semua. Dalam hati ia berharap semoga gadis itu baik-baik saja. Setelah itu terdengar bunyi sirene ambulance dari luar.


                                 ***


Pandangan Tama dan Gavin tak pernah lepas dari Yaya selama perjalanan ke rumah sakit. Gavin bahkan tak mau melepaskan genggamannya dari gadis itu sedikitpun. Ia takut gadis itu benar-benar pergi kalau ia melepaskan tangannya.


Tama sampai terheran-heran pada adik sahabatnya itu. Ia percaya Gavin akan jadi pria gila kalau sampai terjadi apa-apa pada Yaya. Memikirkan itu, Tama cepat-cepat membuang pikirannya jauh-jauh. Tidak, Yaya gadis yang kuat. Nyawanya banyak. Lihat saja dulu Yaya berulang kali bunuh diri tapi tetap hidup.


Tama berusaha menghibur dirinya sendiri lalu kembali menatap adiknya. Kini dia sadar dirinya begitu egois. Dia hanya memikirkan kemarahan dan sakit hatinya sampai-sampai lupa dengan perasaan Yaya yang jauh lebih rapuh darinya.


Ketika sampai rumah sakit, Gavin mati-matian ingin mendampingi Yaya dalam ruang operasi. Tentu saja dilarang. Dokter tidak mengijinkan anggota keluarga, kerabat atau siapapun selain petugas medis masuk ke ruang operasi. Bintang dan Putra berulangkali menenangkan pria itu bahkan Putra sampai menonjok Gavin untuk membuatnya diam.


"Yaya nggak bakal kenapa-kenapa, lo juga harus tenang." tukas Putra tegas.


Gavin hanya diam dan memilih duduk di lantai bersandar di tembok ruang operasi Yaya. Ia terlihat sangat kacau, namun pria itu sama sekali tidak peduli bagaimana penampilannya sekarang ini. Bintang yang melihatnya mendes ah pelan.


"Lo harus bangun Ya, gue punya firasat Gavin bakal gantung diri kalo terjadi sesuatu sama lo." gumamnya sambil menatapi ruang operasi Yaya. Ia tidak sadar Putra dan Tama ikut mendengarnya.


"Lo juga, nggak usah ngawur." tegur Putra disebelahnya.


Bintang tersenyum kikuk.


"Maaf bang." balasnya.


Mereka kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Satu jam...


Tiga jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda dokter yang mengoperasi Yaya akan keluar. Tama tak mengalihkan wajahnya sedikitpun dari pintu ruang operasi. Dalam hati ia terus berdoa supaya adiknya bangun. Masih banyak hal yang belum mereka selesaikan.


"Tama!"


Pandangan ketiga pria yang duduk berjejer itu sama-sama menoleh ke arah panggilan. Hanya Gavin yang tidak peduli. Ia masih duduk di tempat yang sama dengan pandangan menerawang ke depan dengan tatapan kosong, entah apa yang ia pikirkan.


Tama menatap tidak suka pada papanya. Apalagi pria itu membawa dua wanita yang sama sekali tidak ingin dia lihat. Entah darimana mana mereka tahu Yaya dilarikan ke rumah sakit. Pria itu mendengus keras menatap tajam Sara dan mamanya.


"Kenapa dengan anak tidak berguna itu? Mau coba bunuh diri lagi?"


perkataan tersebut sukses membuat Putra dan Bintang tercengang. Bahkan Gavin yang awalnya tidak peduli siapa mereka menoleh tajam ke pria tua itu. Anak tidak berguna? Ingin rasanya ia berdiri dan menonjok pria tua itu tapi tatapan Putra yang seolah memberinya peringatan membuatnya terhenti. Itu urusan pribadi keluarga Tama dan Yaya. Mereka tidak seharusnya ikut campur kecuali keadaan sudah benar-benar kacau dan mereka semua harus membela Yaya yang diperlakukan tidak adil.


Tama berdiri menatap papanya tajam. Kali ini ia tidak tahan lagi mendengar papanya yang selalu memojokkan adiknya. Dulu pun ia pergi dari rumah karena capek melihat Yaya dan papanya yang selalu saja bertengkar. Meski alasan lainnya karena dirinya memang marah pada gadis itu juga.


"Papa masih mukulin Yaya kan?" tukasnya tidak peduli meski ini tempat umum.


"Tama, kamu kok gitu sama papa kamu." tegur mama tirinya.


"Lo diam." tunjuknya pada wanita tua itu. Cukup sudah kesabarannya selama ini. Ia tahu wanita itu dan putrinya hanya pura-pura baik didepan papa mereka. Yaya pernah curhat di pesan yang tidak pernah dia balas itu.


Tama sungguh menyesali semua sikap kasarnya sekarang. Adiknya tidak bersalah. Semua karena dirinya dan papanya yang tidak pernah peduli dan selalu menyalahkannya Yaya. Demi Tuhan. Tama mengusap wajahnya frustasi. Ia benar-benar brengsek. Tidak berguna. Padahal Yaya sangat membutuhkan mereka. Ini benar-benar tidak adil. Mereka yang bersalah, tapi Yaya di hukum menderita. Gadis itu bahkan kesakitan...


"Jadi sekarang kamu belain adik kamu? Kamu lupa yang buat mama kamu meninggal itu siapa?" tekan papanya. Tama mengusap wajahnya kasar.


"MAMA MENINGGAL KARENA KECELAKAAN ASAL PAPA TAHU!"


teriaknya emosi. Berat rasanya membahas kematian mamanya. Tapi ia sungguh tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi lagi. Cukup mamanya. Jangan Yaya. Ia berjanji akan melakukan apa saja kalau adiknya sembuh. Akan menjaga Yaya, menebus kesalahannya, dan tidak membiarkan siapapun menyakiti adiknya lagi.


Semuanya terdiam melihat perdebatan ayah dan anak tersebut. Bahkan papanya sendiri terdiam. Tidak mengerti kenapa putranya semarah ini. Bukankah Tama sendiri masih membencinya adiknya?