Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 74



Pagi-pagi sekali Gavin sudah berdiri di depan pintu apartemen Yaya. Bersama Bintang. Garrel menelponnya semalam. Katanya pria itu ingin menebus semua kesalahannya dengan membantu Gavin dan Yaya biar makin dekat. Jadi Garrel mengajak Gavin ikut kegiatan amal mereka hari ini. Jelaslah Gavin langsung setuju. Semua yang berhubungan dengan Yaya, tidak perlu ia pikirkan dua kali. Karena mereka sudah terlalu banyak membuang waktu.


Gavin pernah berpikir, kalau dulu dirinya tidak menolak Yaya, dan Yaya tidak menghilang sampai sembilan tahun, mungkin sekarang keduanya sudah punya anak. Salahnya juga karena dulu terlalu ragu ketika gadis itu mengejar-ngejarnya. Akibatnya, sekarang gantian Yaya yang ragu padanya.


Pertanyaannya, kenapa ada harus ada Bintang Juga. Karena pria itu masih bersama Gavin saat Garrel menelponnya semalam. Dan Bintang bilang dia mau ikut. Dia belum puas bertemu Yaya. Semalam mereka tidak banyak bicara, Bintang terus terang kangen masa-masa sekolah dulu saat bertemu Yaya lagi. 


"Kau yakin Yaya tidak akan mengusir kita, karena pagi-pagi begini sudah berada di depan tempat tinggalnya?" ujar Bintang ragu. Menurutnya ini terlalu pagi. Gavin semangat sekali.


Tidak heran sih Gavin sesemangat ini. Yang aneh adalah dirinya yang malah ikut-ikutan.


"Tidak akan." balas Gavin pasti. Lalu menekan tombol kecil disamping agar bel berbunyi. Ia menekan tombol tersebut berulang kali dengan sengaja. Bintang sampai tercengang dibuatnya.


Sementara itu di dalam kamar, Yaya terpaksa membuka mata dan merengut kesal. Siapa orang gila itu? Berani-beraninya mengganggu tidurnya pagi-pagi begini. Dia pikir itu anak tetangga yang hanya mau main-main, namun matanya membulat lebar saat melihat dua sosok pria jangkung sedang berdiri didepannya dengan senyuman lebar.


"Pagi calon istri." Gavin melambai dengan wajah cerianya ke Yaya.


Yaya menutup mata dalam-dalam. Ya ampun, apalagi ini. Bisakah dirinya diberikan ketenangan sehari saja?


Gadis itu bersiap-siap mengunci pintu, namun kaki Gavin secepat kilat memasukkan sebelah kakinya ke dalam membuat Yaya tidak berhasil menutup pintu itu.


"Dengar, aku tidak menerima tamu pagi-pagi begini. Apalagi tamu tidak tahu diri sepertimu." ketusnya.


"Memangnya Garrel tidak memberitahumu?" Bintang yang berbicara.


Yaya mengernyitkan dahi. Tidak mengerti maksud Bintang.


"Katanya hari ini kalian ada kegiatan amal di sebuah desa. Aku lupa nama desa yang dia sebutkan semalam. Tapi dia bilang memerlukan bantuan kami." oke. Memang kalimat terakhir hanyalah karangan Bintang, tapi tidak salah juga sih. Demi kelancaran hubungan pasangan didepannya ini.


Yaya masih berpikir sampai-sampai tidak sadar Gavin sudah masuk ke dalam. Tahu ah, percuma juga mengusir mereka. Lebih baik bikin perhitungan sama Garrel saja nanti.


                                   ***


"Nanti kau mau kita punya berapa anak?" tuhkan, pacaran saja mereka belum. Apalagi menikah. Eh, laki-laki ini sudah bertanya tentang anak.


"Jangan bicara aneh-aneh. Fokus menyetir saja." balas Yaya ketus.


"Aku sungguh-sungguh Yaya. Aku ingin kau melahirkan anak-anakku." hening sesaat. Nada bicara Gavin serius. Kali ini pria itu terlihat tidak sedang bercanda atau menggodanya. Pandangannya sesekali melirik Yaya lalu fokus ke jalan lagi. Tak lama kemudian Gavin memilih menghentikan mobil sebentar di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti?"


"Aku ingin memastikan satu hal." Gavin menatap Yaya lekat.


"Apa kau masih mencintaiku?" pertanyaan itu berhasil membuat Yaya terdiam sejenak.


Kalau Gavin ingin tahu jawabannya, ya. Dia masih sangat mencintai pria itu. Sudah pernah dia bilang bukan, bahwa sampai mati pun, dalam hatinya hanya ada Gavin seorang. Sosok tampan itu sudah menghipnotis dan mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Alasan dulu dia ingin hidup lagi, adalah Gavin. Bagaimana dia bisa melupakan laki-laki itu coba. Namun sekarang karena masih ragu tentang perasaan Gavin padanya, dirinya tidak tahu mau menjawab apa. Ia takut disakiti lagi.


Lalu dirasakannya tangan Gavin menyentuh dagunya. Membuatnya mendongak sehingga matanya bertemu dengan tatapan dalam pria itu.


"Jawab aku." gumam Gavin.


"Bagaimana denganmu, kau benar-benar mencintaiku? Atau kau  ingin bersamaku karena rasa bersalah dan kasihan?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut Yaya. Ia tidak mau bersama dengan seseorang yang berusaha mencintainya karena rasa bersalah.


"Aku bahkan rela mati untukmu, Yaya." ucap Gavin sungguh-sungguh. Yaya tercenung. Keduanya saling menatap lama dan dalam. Hanya keheningan yang menemani.


Tatapan Gavin turun ke bibir Yaya. Seperti orangnya, bibirnya juga amat menggoda. Pria itu tidak tahan ingin mengecupnya, merasakan manis bibir dari perempuan yang dia cintai. Kalau berhasil, ini adalah ciuman pertama mereka. Debaran jantung Gavin makin keras, begitu pula Yaya. Sepertinya gadis itu tahu apa yang ada dalam pikiran pria itu saat ini. Apalagi wajah Gavin makin turun.


Astaga, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Akhirnya karena refleks, gadis itu menutup mata. Membuat Gavin tersenyum senang atas penerimaan Yaya. Tanpa berlama-lama lagi, pria itu akhirnya menyatukan bibir mereka.


Keduanya sama-sama gugup. Setelah sekian lama drama yang mereka lewati, hari ini akhirnya datang juga. Lalu dengan gerakan perlahan tapi pasti, Gavin dengan berani menggerakkan mulutnya. Mendominasi permainan.