Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 60



Seminggu kemudian...


Yaya menatap wajahnya di cermin. Sudah lama sekali dirinya tidak pernah berdandan seperti ini. Bahkan sewaktu sekolah ia hampir tidak pernah memakai gaun seindah yang dipakainya sekarang. Karena tak ada satu pun orang yang mengajaknya ke pesta. Sejak dulu ia tidak memiliki sahabat, bahkan seseorang yang benar-benar peduli padanya. Gadis itu selalu hidup dalam kesepian, sejak dulu.


Meski beberapa tahun ini ada Garrel yang menemaninya dan menjadi sahabat baik sekaligus teman curhatnya, tetap saja sebagian hati Yaya masih terasa kosong. Ia mencoba melupakan masa lalu, namun semuanya tidak gampang. Ada beberapa orang yang tidak bisa dia lupakan sampai sekarang.


Gavin...


Tanpa sadar gadis itu menggumamkan nama Gavin dalam hati. Ia penasaran seperti apa pria itu sekarang. Apakah sudah memiliki kekasih? Atau sudah menikah?  Terakhir kali pergi, sikap Gavin memang sudah berubah. Pria itu memperlakukannya dengan baik, tapi Gavin baik dan bersikap lembut begitu mungkin karena mengetahui penyakitnya. Yaya tersenyum pahit. Harusnya dia melupakan Gavin, karena dia tidak berani berharap lebih. Dia juga masih sakit hati dengan penolakan dan kata-kata kasar Gavin dulu. Tapi sekejam apapun Gavin memperlakukannya dulu, Yaya tidak bisa melupakan pria itu. Itulah yang membuat dirinya kesal setengah mati.


"Yaya, lo udah siap?" suara Garrel dari luar pintu kamar menyadarkan lamunannya.


"Udah, masuk aja rel." sahutnya dari dalam. Kemudian pintu terbuka. Garrel sudah lengkap dengan pakaian resminya.


Yaya tersenyum. Ia bingung kenapa waktu SMA dulu Garrel nggak termasuk dalam jajaran cowok-cowok populer, padahal wajahnya setampan ini. Dia juga sosok yang pintar, baik dan humble. Mungkin karena waktu itu Garrel lebih suka menyendiri dan tidak banyak bergaul, jadi cewek-cewek kurang memperhatikannya. Ya, anggap saja begitu.


Kalau sekarang, nggak usah ragu lagi. Semua pekerja wanita yang bekerja di penginapan ini tergila-gila padanya. Buktinya, tiap kali dia datang semuanya jadi pada sok cari muka. Yaya tertawa kecil, lucu sekali kalau dia mengingat tingkah-tingkah para pekerja itu didepan Garrel.


"Wow... Liat siapa ini. Kamu bisa ngalahin pengantin." Garrel memuji penampilan Yaya. Gadis itu tampak begitu cantik dalam balutan gaun berwarna biru yang menutupi kaki indahnya. Wajahnya dipoles makeup  tipis dengan bibir merona yang menambah nilai kecantikannya.


Yaya sudah cantik natural dari dulu. Dan menurut Garrel, Yaya yang dewasa seperti sekarang ini bahkan lebih cantik lagi. Apalagi sekarang gadis itu sangat kalem, berbeda jauh dengan dulu yang sangat pecicilan ketika dirinya mengejar Gavin. Bukan berarti dulu Garrel tidak suka kelakuannya. Menurut Garrel, Yaya yang kalem dan lebih tenang begini jauh lebih menarik.


"Kamu juga nggak kalah tampan." Yaya balas memuji lalu keduanya tertawa.


"Kita pergi sekarang?" kata Garrel sambil memutar-mutar kunci mobil ditangannya. Perjalanan mereka dari desa ini sampai ke kota sekitar dua jam. Jadi harus pergi secepatnya kalau tidak mau terlambat. Yaya mengangguk. Garrel membantu gadis itu berdiri kemudian keduanya keluar dari kamar.


Banyak pekerja bahkan tamu yang menginap di penginapan tersebut mengira mereka pacaran, sayang sekali tidak. Garrel dan Yaya murni bersahabat. Garrel menganggap Yaya seperti adiknya begitupun sebaliknya. Tidak ada alasan bagi mereka untuk pacaran.


                                    ***


Hampir tiga jam kemudian, Garrel dan Yaya sudah tiba di tempat resepsi pernikahan. Mereka sedikit terlambat dari perkiraan sebelumnya.


Yaya mengatur napasnya. Ini pertama kali baginya menginjakan kakinya lagi di ini kota setelah enam tahun berlalu. Ternyata keadaan sudah banyak berubah. Kota ini jauh lebih maju. Dalam hati dia berharap semoga dirinya tidak bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. ia belum siap.


Sepertinya penjaga pintu sudah diberitahu tentang


kedatangan mereka, karena mereka langsung diizinkan masuk setelah


menyebutkan nama. Padahal Garrel adalah adik kandung dokter Laska, tapi sih penjaga pintu tidak kenal.


indah, didominasi warna cokelat, putih, dan emas. Tampak-nya acara makan malam sudah selesai, karena sebagian tamu sedang berdansa diiringi alunan lagu lembut dari orkestra, sementara tamu-tamu lain saling mengobrol dan menikmati


sampanye yang diedarkan oleh para pelayan berseragam hitam putih.


Seorang pelayan menyodorkan senampan sampanye ke mereka. Garrel menatap gelas-gelas sampanye yang berkilau itu dengan tatapan menyesal, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala kepada si pelayan. Ia masih harus mengemudi malam ini, mengantar Yaya pulang, jadi tidak boleh minum. Sedang Yaya sendiri memang tidak bisa minum.


Garrel dan Yaya sama-sama memandang ke sekeliling ruangan. Mencari-cari keberadaan sang pengantin. Mata Yaya segera menemukan orang yang dicarinya. Dokter Laska sedang mengobrol dengan beberapa tamu bersama pengantin perempuannya.


"Mereka di sana." Yaya menyikut Garrel.


Mereka pun segera berjalan


ke arah pasangan baru tersebut.


"Bang," panggil Garrel. Laska berbalik. Melihat Yaya yang berdiri disebelah adiknya, pria itu langsung berhambur memeluk Yaya. Sudah lama mereka tidak bertemu.


"Selamat atas pernikahanmu dokter hebat." Yaya memberi ucapan selamat dan menyambut pelukan hangat Laska. Gadis itu lalu mendorong pelan tubuh Laska menjauh karena menyadari istri sang dokter tampak kaget melihat adegan tersebut. Perempuan dengan balutan gaun pengantin itu menatap Laska seolah meminta penjelasan.


"Ini Yaya, aku pernah cerita." jelas dokter Laska. Sang istri menatap Yaya lagi kemudian memeluk gadis itu. Yaya sampai merasa heran sendiri.


"Jadi kamu Yaya? Mas Laska banyak cerita tentang kamu." ujar wanita itu. Dokter Laska dan yang lain memanggilnya Riri. Sikap Riri menghangat setelah tahu gadis itu adalah Yaya yang selalu diceritakan oleh Laska. Yaya mengangguk tersenyum. Ia pikir pengantinnya dokter Laska akan memusuhinya, ternyata tidak. Yaya lalu memberi selamat ke wanita itu.


"Selamat buat pernikahannya ya kak..."


"Riri, panggil aku Riri."


"Kak Riri." lanjut gadis itu.


"Langgeng ya mbak." tambah Garrel menyelamati. Riri tersenyum mengangguk ke sang adik ipar.


"Kamu buruan." timpal dokter Laska dari sebelah Riri. Hanya sekedar meledek. Selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah dengar Garrel punya seorang kekasih. Dengan dengan perempuan yang hanya setelah dirinya meminta bantuan sang adik menjaga Yaya. Jadi beberapa tahun ini perempuan yang dekat dengan Garrel hanya Yaya.


Pernah satu kali Laska berharap Yaya akan melupakan laki-laki yang dia cintai dan menerima Garrel, karena ia pikir Garrel diam-diam menyukai Yaya, ternyata tidak. Dia yang terlalu banyak berpikir.


Garrel sendiri tidak mempedulikan perkataan kakaknya. Matanya mencari-cari seseorang. Orang yang dia cari adalah Gavin. Kemungkinan besar Gavin tidak datang. Bukan kemungkinan lagi, tapi sudah pasti.  Garrel mendesah panjang, padahal hanya ini caranya mempertemukan mereka. Sayang sekali.