Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 113



Satu bulan berlalu sejak Yaya dan Gavin menikah. Mereka kini tinggal di rumah yang dibeli Gavin khusus untuk Yaya dan keluarga kecilnya nanti.


"Bagaimana, kamu suka rumahnya?" tanya Gavin sambil memainkan surai rambut istrinya. Mereka tengah berduaan di ruang tamu. Yaya duduk bersandar di tubuh Gavin seperti biasa. Ia sudah kecapean memutar-mutar rumah besar ini. Rumah miliknya dan Gavin, milik keluarga mereka nanti ketika ia melahirkan anak-anak Gavin. Oh ya, ngomong-ngomong soal anak ... Senyum Yaya mengembang. Gavin pasti terkejut mendengarnya nanti. Ia sudah tidak sabar memberi pria itu kejutan.


"Sejak kapan kamu beli rumah ini?"


"Sejak aku melamarmu,"


"Memangnya itu termasuk lamaran? Aku bahkan tidak menerima cincin malam itu." Yaya ingat jelas bagaimana Gavin meminta menikah dengannya dalam kamarnya, di atas ranjang, sambil berpelukan. Kalau di ingat-ingat lagi, kejadian itu memang lucu. Berbeda dengan lamaran-lamaran sebelumnya yang romantis. Waktu itu Gavin malah ingin cepat-cepat menikahinya karena tidak bisa menahan napsu. Yaya menggeleng-geleng mengingat kejadian itu. Gavin memang sedikit berbeda.


"Tapi kau memakai cincin sekarang," gumam Gavin memegang jemari Yaya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Yaya tertawa pelan.


"Baiklah, baiklah. Kamu menang." ucapnya.


"Sayang,"


"Mm?"


"Aku mencintaimu,"


Yaya tersenyum. Gavin terus mengatakan kalimat itu ketika mereka sedang berduaan.


"Kamu belum jawab aku sayang,"


"Kau sudah tahu Gavin," dasar posesif.


"Tapi aku ingin dengar dari mulutmu sendiri."


Yaya menarik napas panjang. Ia harus ekstra sabar dengan sifat Gavin yang satu ini.


"Aku juga ..."


"Juga apa?"


"Juga m ...,"


"YUHU! SPADAAA !! ANAK-ANAK MAMA YANG GANTENG DAN IMUT, MAMA DATANG!"


suara mama Anggi yang toa memenuhi seluruh ruangan itu. Gavin menahan kesal sedang Yaya tertawa lucu. Sudah beberapa kali ini sejak mereka menikah mama Anggi salah waktu dan ujung-ujungnya Gavin yang kesal sendiri. Kalau sudah begini, Yaya harus cari cara buat membujuknya.


"Halo ma, yang lain mana? Kok sendirian aja?" sapa Yaya. Mereka sudah akrab. Apalagi mertuanya seheboh itu.


"Papa tiri Gavin sama papa kamu lagi ngobrol di taman belakang. Yang lain lagi sibuk bakar daging. Oh ya, adik kamu kemana sayang? Mama nggak liat dari tadi." kali ini mama Anggi menatap Gavin.


"Nggak liat!" sahut Gavin ketus.


"Dia kenapa lagi? Ngambek karena mama salah waktu lagi?" tatapan wanita tua itu berpindah ke Yaya. Yaya mengedikan bahunya dengan senyum kecil. Mama Anggi langsung mengerti dan tertawa geli. Putranya yang satu ini benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Ma,"


"Bang Putra bilang makanannya udah masak. Mama, bang Gavin sama kak Yaya di suruh ke sana." kata bocah cilik tersebut menggunakan bahasa Inggris. Ia belum terlalu mahir bahasa Indonesia.


"Baik sayang. Mama sama kakak-kakak kamu akan segera ke sana.


                                     ***


Semuanya menikmati makanan mereka. Hari ini adalah acara keluarga sekalian pertemuan perdana di rumah baru Gavin dan Yaya. Mama Gavin dan keluarga barunya bahkan bela-belain datang ke Indonesia karena tidak mau ketinggalan. Ada Garrel, Raxel dan Bintang juga. Tentu saja Tama dan Putra juga tidak ketinggalan hadir. Pokoknya semuanya terkumpul hari ini. Karena kegiatan kumpul-kumpul bareng gini jarang terjadi, jadi mereka semuanya menyempatkan waktu. Hanya dokter Laska yang tidak sempat datang karena ada dua operasi besar hari ini.


"Raxel, aku dengar kamu mengangkat Yaya sebagai desainer perhiasan nomor satu di perusahaanmu," ujar Garrel. Raxel mengangguk.


"Mm, dia sangat berbakat." balas Raxel. Dirinya adalah sosok pria yang menghargai bakat.


"Terimakasih bos besar," ujar Yaya tersenyum lebar.


Waktu itu mereka pakai dengan bersendau gurau. Hanya Gavin yang bermuka masam. Dia masih ngambek gara-gara mamanya tadi. Bahkan ia tidak mau saat Yaya menyodorkan sate ke dalam mulutnya.


"Kamu kenapa sih, udah jangan ngambek-ngambek. Masa kamu ngambek sama mama kamu terus." tegur Yaya berbisik ditelinga Gavin. Pria itu terus mengerucutkan bibirnya. Tama dan Bintang yang kebetulan melihat hanya tersenyum geli. Gavin benar-benar sesuatu kalau sedang mode ngambek begitu. Akan bersikap manja pada istrinya.


"Mama, ini apa?" sih bocah kecil tiba-tiba mengangkat tinggi-tinggi sebuah benda di tangannya ke arah sang mama.


"Tespack?" kata mamanya mengambil benda itu dari tangan putra bungsunya. Semua mata langsung tertuju ke arah yang sama. Hanya Yaya yang gugup. Mungkin tidak sengaja tespack itu jatuh dari sakunya. Astaga! Padahal ia hanya ingin memberi kejutan ke Gavin.


"Ini taspack milik siapa? Hasilnya positif." dan semua mata kini tertuju ke Yaya. Tentu saja karena hanya gadis itu yang paling masuk akal untuk ditanyai. Yaya menelan ludah. Ia gugup. Semua orang yang menatapnya pun gugup. Ingin mendengar kabar baik keluar dari mulutnya. Tapi yang paling gugup adalah Gavin, tentu saja.


"Sayang," gumam Gavin tidak sabar mendengar jawaban ya keluar dari mulut istrinya.


Yaya masih diam. Menghilangkan rasa gugupnya dulu sebelum berbicara.


"Iya, taspack itu punyaku." katanya menatap semua orang, lalu pandangannya berhenti ke Gavin yang tampak masih tegang.


"Aku sekarang tengah mengandung anakmu,"


Detik itu semua orang langsung bersorak bahagia. Gavin langsung berdiri dari tempat duduknya dan menggendong Yaya saking bahagianya. Ya Tuhan, dia akan segera menjadi ayah. Betapa bahagianya dia. Penantiannya menunggu gadis itu selama ini tidak sia-sia.


Gavin sudah berkali-kali berkhayal memiliki anak bersama Yaya. Dan merawat mereka dengan penuh cinta. Semasa mudanya, Yaya banyak menderita. Kali ini Gavin akan pastikan istrinya mendapatkan banyak cinta. Mungkin akan ada pertengkaran-pertengkaran kecil dalam hidup berumah tangga, tapi Gavin tidak akan pernah berhenti mencintai sang istri. Yaya adalah cinta pertama, sekaligus cinta terakhirnya. Hadiah paling indah yang dia terima dari Tuhan.


"SEMUANYA, AKU AKAN SEGERA MENJADI AYAH!" teriak Gavin sekencang mungkin lalu kembali mengecup kening istrinya berkali-kali dan memeluknya erat.


"SUAMIKU, I LOVE YOU!" giliran Yaya yang berteriak keras, semua orang tertawa lepas ikut bahagia melihat kemesraan pengantin baru itu.


THE END


Aku undur diri dulu ya semuanya. Terimakasih udah setia baca karya ini sampai akhir😇


Sampai jumpa di cerita-cerita aku selanjutnya ya🙏🙂