Dear, Gavin

Dear, Gavin
bab 107



Gavin dan Putra jelas tahu itu suara heboh milik siapa. Siapa lagi kalau bukan mama mereka. Detik itu juga Gavin langsung melemparkan tatapanĀ  mematikannya ke Bintang. Ia tahu pasti Bintang yang menghubungi wanita tua itu. Kalau tidak, bagaimana mamanya bisa ada di Indonesia coba.


Bintang sendiri yang mendapatkan tatapan tajam hanya menyengir lebar ke Gavin. Memang dia yang menelpon mama kedua laki-laki kakak beradik itu kemarin. Ketika Putra kecelakaan. Karena dia sudah janji sebelumnya akan langsung menghubungi wanita itu kalau terjadi sesuatu pada salah satu kedua putranya. Bintang menelpon kemarin karena dia pikir kondisi Putra sangat parah, jadi tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi mama mereka yang sekarang menetap di Singapura bersama suami barunya. Papa kandung mereka sudah lama meninggal. Lalu mama mereka menikah lagi dengan bule dan menetap di Singapura. Meski begitu, hubungannya dengan kedua putranya tetap dekat.


"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" seru wanita paruh baya itu yang biasa di panggil Mrs. Anggi oleh orang-orang. Bintang sendiri memanggil wanita itu tante Anggi, biar merasa lebih dekat saja.


Tante Anggi berhenti di dekat ranjang dan duduk di kursi sebelah Putra. Menatap Putranya dengan wajah sedih.


"Kenapa sampai kecelakaan sayang? Untung nggak kenapa-napa." kata Anggi. Putra tersenyum menatap sang mama.


"Nggak pa_pa kok ma, jangan khawatir. Beberapa hari lagi aku sudah bisa pulang," ucapnya pasti. Tante Anggi lalu mengusap-usap rambut sang putra sulungnya penuh sayang. Lalu matanya menoleh ke bagian tengah ruangan besar itu. Ruang VIP memang beda. Selain lengkap, ukuran ruangannya pun besar.


Pandangannya berhenti ke Gavin dan beberapa wajah asing yang duduk dekat sang putra bungsu. Wanita tua itu mengernyitkan dahi. Ia belum pernah melihat dua orang yang wajah mereka masih asing di matanya tersebut.


Eh, tapi sepertinya wanita itu merasa gadis manis yang duduk di sebelah Gavin pakai baju pasien itu wajahnya familiar. Sangat familiar malah. Pernah dia lihat di mana ya kira-kira? Tante Anggi berpikir keras. Hening sebentar. Yang lain juga diam membisu. Tak ada seorang pun dari mereka yang bersuara. Saat tante Anggi mengingat wajah gadis itu, matanya membelalak.


"Gavin! Kamu sudah menemukan menantu mama yang hilang bertahun-tahun?! Astaga, kenapa nggak bilang-bilang sama mama sayang?! Serunya heboh. Yaya kontan menatap Gavin. Takjub juga dia dibilang menantu. Tapi, benar dia kan maksud wanita paruh baya itu. Tak lama kemudian wanita itu sudah berdiri didekat mereka, lalu duduk tepat disampingnya bahkan mengamit lengannya dengan raut wajah bahagia.


Gavin menutup matanya dalam-dalam merasa jengkel dengan kehebohan sang mama. Mamanya ini selalu saja begitu. Tapi apa boleh buat, sebagai seorang anak ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Nama kamu siapa sayang, kamu pacarnya Gavin kan? Menantu mama," kata tante Anggi dengan gaya bicaranya yang akrab. Garrel sampai takjub melihat kepribadian mama Gavin dan Putra. Sifat kedua pria itu sangat kontras dengan mamanya. Tapi lucu juga. Sepertinya Yaya mendapatkan mertua yang sifatnya cukup asyik dan bersahabat.


Yaya tersenyum kikuk.


"Kok tante, mama sayang. Kan kamu sama Gavin sebentar lagi nikah, kita akan segera jadi keluarga. Panggil mama aja ya," Yaya merasa kaget lalu melirik Gavin. Menikah? Seingatnya mereka belum ada pembicaraan itu. Namun Gavin yang ditatapnya tidak mengelak, hanya tersenyum.


Gavin memang tidak cerita pada mamanya kalau ia ingin segera menikahi Yaya. Tapi itu memang sudah bagian dalam rencananya. Dan ia akan ingin melangsungkan pernikahan mereka secepat mungkin.


"Ma, jangan kuat-kuat pegang pacar aku. Jangan guncang tubuhnya kayak gitu. Memangnya mama mau aku musuhin mama kalau Yaya jatuh sakit lagi?" tegur Gavin tidak setuju melihat badan Yaya di guncang-guncang begitu. Sekalipun mamanya melakukannya karena merasa gemas. Tadi Yaya mengeluh pusing, kalau di goyang-goyang gitu bisa-bisa kekasihnya pusing lagi.


Bintang, Garrel dan Putra yang berada di tempat duduk mereka masing-masing terkekeh. Gavin kalau mode posesif begini ke Yaya malah lucu. Dan kekanakan.


"Iya-iya maafin mama deh. Emang Yaya sakit apa? Kenapa muka kamu lebam-lebam begini sayang?" kata tante Anggi lagi. Mengamati seluruh luka lebam di wajah Yaya dan perban di kepala gadis itu. Sontak mereka semua saling menatap.


Bintang lalu mewakili mereka menjelaskan apa yang terjadi pada tante Anggi. Jelas tante Anggi yang mendengarnya ikut emosi. Jahat sekali ternyata sih Lini yang pernah dia anggap baik dan cocok sama putra sulungnya.


"Kenapa Lini bisa sejahat itu? Ya ampun, mama benar-benar kecewa. Tega sekali dia berbuat begitu sama putra mama dan Yaya. Untung kalian nggak apa-apa sayang," Anggi menatap Putra yang diam di ranjang lalu memeluk Yaya.


"Mama, kan sudah aku bilangin kalau megang pacar aku harus lembut, gimana sih mama." semprot Gavin lagi. Tante Anggi melotot ke sang anak.


"Iya-iya mama tahu kok, orang Yaya aja nggak protes." balas wanita itu.


"Bener, aku nggak apa-apa Gavin. Aku nggak ngerasa sakit kok." ujar Yaya dengan raut wajah memberi lelaki itu peringatan. Dalam hal ini Gavin memang terlalu melebih-lebihkan. Bisa-bisa mamanya Gavin pikir dia sudah mencuci otak anaknya lagi sampai Gavin sampai sebegitunya. Sih Gavin benar-benar.