
"Bagaimana harimu?" Gavin mengetuk pintu kamar Yaya dan mendapati Yaya sedang asyik membaca di mejanya. Dengan langkah elegan, lelaki itu duduk di pinggir ranjang Yaya. Pria itu masih memakai jas dan dasinya sudah dilonggarkan. Lelaki itu tampak lelah.
"Baru pulang kerja?" Yaya meletakkan buku yang sedang dia baca tadi l dan mengernyit, Gavin tampak pucat.
"Kamu nggak apa-apa?" Gavin tidak terlihat bugar seperti biasanya. Dan Yaya merasa khawatir.
"Sepertinya aku sedikit flu. Aku batuk-batuk dari tadi dan tenggorokanku sakit." lelaki itu berdeham, "Tapi aku sudah minum obat flu, sebentar lagi juga sembuh."
"Oh." Yaya melirik Gavin dengan cemas, "mungkin kamu harus ke dokter."
"Nggak, aku nggak apa-apa." lalu lelaki itu membaringkan tubuhnya di ranjang Yaya. Ia ingin beristirahat sebentar sebelum pulang.
"Kamu yakin nggak apa-apa kan? Jangan bikin aku khawatir seperti yang waktu itu."
Gavin terkekeh..
"Jangan khawatir, aku akan sembuh cukup dengan kamu disampingku saja," ucapnya dengan nada menggoda. Membuat Yaya tertegun, padahal lagi sakit, tapi masih bisa saja gombal.
Gavin berbaring dan menutup matanya dengan sebelah lengannya, "Kepalaku pusing seperti berdentam-dentam, biarkan aku berbaring sebentar di sini." kali ini nada bicara pria itu berubah serius.
Yaya terdiam, merasa kasihan kepada Gavin, sepertinya lelaki itu benar-benar sakit. Ya sudah, biarlah. Lagipula Yaya masih belum ingin tidur, dia masih ingin menyelesaikan bacaannya sampai larut malam.
Waktu berlalu, dan Yaya masih larut dalam kegiatan membacanya. Diiringi suara dengkuran halus Gavin yang sepertinya jatuh lelap ke dalam tidurnya, mungkin karena pengaruh obat flunya.
Yaya menguap dan melirik jam di dinding, sudah jam dua pagi, dan dia mengantuk. Dengan bingung diliriknya Gavin yang masih pulas di atas ranjangnya. Lalu dia harus bagaimana? Tidak mungkin dia tidur seranjang dengan Gavin bukan? Dengan bingung Yaya memutar kursinya dan menghadap ke arah ranjang.
Gavin sedang tidur pulas. Dan ketika tidur lelaki itu tampak sangat tampan. Gurat-gurat sinis di wajahnya tidak tampak dan lelaki itu kelihatan begitu polos seperti bayi, bibirnya sedikit terbuka dan napasnya teratur.
Yaya larut dalam kenikmatan memandangi maha karya Tuhan di depannya. Ia begitu beruntung bisa memiliki karya Tuhan yang begitu indah ini.
Mata itu terbuka. Seketika itu juga langsung menatap tajam ke arah Yaya. Membuat Yaya berjingkat dari duduknya karena kaget. Lelaki itu tampaknya tipikal orang yang langsung sadar ketika bangun, dia mengerutkan keningnya menatap Yaya. Lalu tersenyum jahil.
"Kenapa menatapku begitu hm? Katakan apa yang kamu pikirkan saat menatapku? Apa yang kau lihat? Wajah, bibir, tubuh, atau ..." Gavin terus menggoda dan setelah mengucapkan kata terakhirnya, matanya menatap ke bawah dibagian yang menonjol antara kedua pahanya yang tertutupi oleh celana.
Yaya merasa pipinya memerah, "Aku nggak natap itu, kamu jangan aneh-aneh!" serunya gelagapan. Dasar Gavin. Otaknya beberapa hari ini sedikit gesrek. Yaya sudah memperhatikan kalau Gavin akhir-akhir ini selalu membicarakan hal yang mengarah ke pembicaraan dewasa. Kan dia jadi malu.
Lalu dipalingkannya wajahnya, tidak mampu menahankan tatapan intens kepadanya. Lelaki itu beranjak duduk di ranjang, memandangi sekeliling dan menatap Yaya lagi lalu terbatuk.
Lelaki itu tampak sakit, Yaya menatapnya dengan cemas,
"Aku masih pusing." lelaki itu tampak terhuyung ketika berdiri, "Aku pulang dulu, tidurlah." Gavin hendak beranjak ke pintu tapi Yaya cepat-cepat menahannya. Ia tidak mungkin membiarkan kekasihnya pulang sendirian dalam keadaan sakit.
Takut terjadi apa-apa. Apalagi Gavin masih harus menyetir mobil. Tidak, sebaiknya tidak. Pria itu perlu di urus.
"Kenapa?" Gavin menoleh. Pandangannya turun ke tangan Yaya yang menahan lengannya kuat.
"Kamu lagi sakit. Dan ini sudah dini hari. Sebaiknya kamu tidur di sini saja. Aku takut kamu kenapa-napa." ujar Yaya. Gavin seketika menahan senyum. Sebenarnya pria itu memang sengaja terlihat lemah didepan Yaya agar supaya gadis itu berbelas kasihan padanya.
"Tapi kamu nggak pernah ijinin aku tidur bareng kamu," gumamnya. Nadanya manja.
"Siapa bilang kita tidur bareng? Kamu di ranjang aku di sofa. Atau aku bisa tidur di kamarnya kak Tama." balas Yaya langsung. Gavin mengerucutkan bibir.
"Aku pengen tidur sambil meluk kamu. Sekali ini aja, pleaseee ... Mau ya sayang?" pintanya manja sambil menggoyang-goyangkan badan Yaya.
"Sayang ..." gumam laki menatap Yaya lekat.
"Tapi ...,"
"Aku janji nggak bakal nyentuh-nyentuh yang lain sampai kita nikah. Aku akan meluk kamu aja. Ya? Uhuk, uhuk!" lalu ia sengaja berbatuk keras didepan Yaya.
Yaya menimbang-nimbang. Kasihan juga sih.
"Ya udah, pokoknya kamu harus janji nggak nyentuh bagian-bagian yang terlarang. Ngertikan?"
Tentu Gavin langsung menganggukkan kepala. Yes! Alkhirnya dia bisa tidur seranjang dengan kekasihnya. Ini namanya sakit membawa berkah.
"Kalau begitu ayo," giliran laki-laki itu yang menarik Yaya naik ke ranjang. Mereka berbaring dengan posisi Gavin memeluk Yaya dari belakang.
"Sayang,"
"Mm?" gumam Yaya.
"Aku nggak tahan ingin segera nikah sama kamu."
Mata Yaya yang tertutup kembali terbuka. Rasa gugupnya bangkit. Ia membalikan badan menghadap Gavin.
"Kita nikah aja ya? Biar napsuku padamu segera tuntas. Biar aku bisa menyentuh dibagian tubuh mana saja dengan bebas." jelas Yaya langsung memerah mendengar perkataan blak-blakan Gavin. Astaga!