Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 57



Sembilan tahun kemudian


Hari demi hari berlalu, hingga tak terasa sembilan tahun terlewat begitu saja. Gavin tetap menjalani hidupnya. Namun orang-orang melihatnya seperti mayat hidup. Separuh nyawanya seakan hilang semenjak Yaya meninggalkannya. Keluarganya memang masih mencari  keberadaan gadis itu, sesuai janji mereka terhadap Gavin. Tapi sampai sekarang belum ada titik terang. Yaya hilang bagai ditelan bumi.


Kini Gavin menjadi salah satu pemegang saham terbesar sekaligus direktur di XEN, perusahaan keluarganya. CEO-nya adalah Putra, abangnya sendiri. Perusahaan yang bergerak di bidang otomotif itu makin lama makin berkembang semenjak Putra dan Gavin yang mengelolanya. Dibantu oleh Gavin dan Bintang tentu saja. Mereka juga bekerja sama dengan perusahaan Tama yang kini berkembang makin pesat. Dulu Putra bekerja di perusahaan yang dibangun Tama bersamanya, tapi sekarang ia jadi pemegang saham saja dan memutuskan mengelola perusahaan keluarga mereka bersama Gavin.


Meski Gavin telah kehilangan gairah hidupnya, namun bertahun-tahun ini hanya pekerjaan yang membuatnya bertahan. Karena itu ia memilih sibuk bekerja. Kalau berdiam diri saja, pria itu bisa saja mengakhiri hidupnya karena terlalu bosan. Ia pernah melakukannya sekali, waktu awal-awal Yaya menghilang.


Sembilan tahun ini Gavin tidak pernah melupakan Yaya. Gadis itu tetap ada dan terkunci rapat-rapat dalam hatinya. Bahkan sampai sekarang ia masih menunggu gadis itu. Luka akan kehilangan Yaya tidak pernah hilang. Dan yang Gavin lakukan tiap kali mengingat Yaya adalah pergi ke bar. Seperti sekarang ini.


Gavin duduk sendirian di bar langganannya dan mengamati cairan keemasan dalam gelasnya sambil melamun. Dua minggu terakhir ini benar-benar menguras


tenaga dan pikirannya. Hari-harinya disibukkan dengan pertemuan dengan para klien dari luar negeri. Namun yang paling menguras tenaganya adalah ia tetap tidak bisa melupakan Yaya. Gadis itu selalu muncul dalam benaknya.


"Lo di sini lagi?" suara itu membuat Gavin menoleh. Ia kenal pria yang sekarang berdiri disebelahnya. Garrel, ketua kelas waktu mereka sekolah dulu.


Gavin tidak pernah dekat dengan Garrel sejak dulu. Namun tiga bulan yang lalu, ketika ia datang minum-minum sendirian di tempat ini, mereka tanpa sengaja bertemu. Garrel menjadi teman minumnya. Bahkan terkadang, Gavin bercerita tentang Yaya pada lelaki itu. Dan beberapa bulan ini Garrel selalu menjadi seorang pendengar setia tiap kali Gavin mulai bercerita.


"Gue inget dia lagi." gumam Gavin setengah mabuk. Namun dirinya masih sadar penuh dengan apa yang dia katakan. Garrel tentu saja tahu siapa yang pria itu maksud. Garrel kasihan pada Gavin. Ia pikir dulu laki-laki tidak pernah menyukai Yaya. Ternyata dia salah. Buktinya, Gavin malah bisa gila karena kehilangan gadis itu. Mengetahui keadaan Gavin yang seperti ini tentu memicu rasa kasihannya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan. Dia sudah berjanji. Tidak seharusnya ia melanggar janjinya. Garrel akhirnya mendesah berat karena tidak bisa berbuat apa-apa.


"Menurut lo dia masih ingat gue nggak?" Gavin kembali meneguk alkohol dari gelas yang dia pegang.


Garrel mendesah pelan lalu meraih ponsel di sakunya dan menelpon seseorang. Tak sampai setengah jam, Bintang sampai ke tempat itu. Bintang tahu Gavin sering ke bar tersebut dari Garrel. Garrel yang menghubunginya. Pertama kali Gavin mulai ketahuan minum-minum adalah tiga bulan yang lalu. Itu pun karena Garrel yang memberitahunya. Waktu itu Gavin bahkan sampai dilarikan ke rumah sakit karena kelebihan alkohol.


Bintang tidak habis pikir. Padahal beberapa tahun ini, sekalipun Gavin stres karena Yaya, pria itu tidak pernah sekalipun menyentuh alkohol. Malah lebih banyak mengunci diri di kamar atau menyibukkan diri dengan segala macam pekerjaan. Namun beberapa bulan ini berbeda. Gavin malah jadi pecandu alkohol. Orang lain mungkin melihat Gavin hanya terlalu dingin dan kaku karena sifat bawaan, mereka tidak pernah tahu laki-laki itu sebenarnya depresi karena seorang wanita yang sampai sekarang tidak jelas keberadaannya.


"Berapa botol yang dia minum?" Bintang bertanya ke Garrel. Garrel mengacungkan dua jari ke depan pria itu mewakili jawabannya. Bintang hanya bisa mendesah berat. Entah sampai kapan Gavin akan menjadi seperti ini. Bintang tahu pria itu bisa sembuh. Tapi obatnya hanya satu, Yaya. Hanya Yaya yang bisa mengobati Gavin, karena pria itu menderita penyakit hati yang di sebabkan oleh gadis itu sendiri.


Garrel membantu Bintang memapah Gavin sampai ke dalam mobil. Bahkan sampai detik ini, Gavin masih terus menyebutkan nama Yaya.


"Thanks ya Rel," ujar Bintang sebelum memasuki mobilnya.


"Sama-sama Bin," balas Garrel. Setelah itu mobil yang dikendarai Bintang menghilang dari hadapan Garrel. Garrel lantas meraih ponsel di saku celananya dan menghubungi seseorang.


"Gimana keadaan di sana? Baik-baik aja kan?" tanyanya saat seseorang yang dia hubungi akhirnya mengangkat telponnya.


"Aku akan ke sana beberapa hari lagi. Abang nitipin sesuatu buat kamu. Ya udah, jaga diri kamu. Jangan sampai masuk angin. Aku tutup sekarang." setelah itu Garrel mematikan panggilan. Matanya menengadah ke langit-langit malam, lalu menghembuskan napas panjang.


Selama sembilan tahun ini ada banyak sekali perubahan dalam hidupnya. Ia juga mau tak mau di paksa untuk menutupi sebuah rahasia. Rahasia yang menyeretnya ke dalam sebuah dilema yang amat besar. Jujur Garrel mengalami perang batin sekarang, tapi ia tidak  bisa melanggar janjinya. Dan semua itu membuatnya merasa tidak berdaya. Apalagi ketika ia melihat keadaan Gavin yang sekarang. Sepertinya dirinya memang harus mencari cara. Garrel yakin sekali dua orang itu akan sama-sama sembuh dari penyakit hati mereka kalau mereka ketemu.