Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 88



"Kemana saja kamu seharian ini? Tidak masuk kantor, tidak memberi kabar, bahkan telponku tidak kamu angkat." Putra berkata dengan nada tegas saat Lini memasuki ruang kerjanya.


Bukan berarti pria itu harus tahu semua yang dilakukan wanita itu. Tapi Lini punya peran yang cukup penting dikantor. Putra bahkan menggunakan kekuasaannya agar bisa menempatkan Lini sebagai manajer pemasaran. Ia menghargai Lini sebagai pacar, tapi juga harus tegas sebagai pemimpin perusahaan.


Putra menempatkan Lini sebagai manajer perusahaan bukan semata-mata karena wanita itu adalah kekasihnya, tapi ia melihat Lini punya potensi. Jadi, meski menggunakan kekuasaan, ia merasa tidak akan rugi. Tapi hari ini wanita itu sedikit ceroboh dengan tidak memberi kabar pada siapapun. Promosi yang rencananya akan dilakukan hari ini batal semua.


Lini mendekati Putra, tangannya melingkari leher pria itu dari belakang.


"Maaf, aku ada urusan mendadak. Ibuku tiba-tiba datang dari luar negeri tadi. Jadi aku tidak sempat bilang padamu," katanya berbohong.


Putra mengernyit dan mengangkat wajahnya menatap Lini.


"Ibuku ada di Jakarta? Di mana sekarang? Aku ingin menyapanya sebagai kekasihmu," ujarnya. Bisa dibilang dia dan Lini sudah pacaran lebih dari dua tahun ini, tapi Putra sama sekali tidak mengenal keluarga wanita itu.


Bukan karena tidak mau bertemu atau tidak ada waktu. Lini bilang semua keluarganya tinggal di luar negeri. Mereka pindah sejak dia remaja. Setelah kuliah, Lini memutuskan balik ke Jakarta seorang diri dan memulai hidup mandiri. Barulah sejak kuliah pertama ia bertemu Putra dan Tama. Mereka sekelas. Putra sendiri baru menyukai wanita itu ketika dirinya mulai fokus mengambil alih perusahaan keluarganya bersama Gavin. Waktu itu Lini yang banyak memberinya kekuatan, mungkin itu sebabnya dia menyukai wanita itu.


"Sudah pulang. Ibu ke sini hanya menemuiku sebentar karena setelah itu langsung terbang ke Singapura, ada urusan penting di sana katanya." jawab Lini sengaja memasang tampang sedihnya. Putra mengerutkan kening.


Sudah lebih dari lima kali. Ia bisa menghitungnya. Untuk yang kesekian kalinya Lini memberinya alasan yang sama. Tentang ibu wanita itu. Lini seperti tidak mau dia bertemu dengan pihak keluarganya. Kenapa? Apa ada sesuatu yang buat Lini enggan mempertemukan mereka? Apa sebagai pria, dia kurang baik di mata wanita ini? Atau dirinya saja yang terlalu banyak berpikir? Ah sudahlah.


Putra sudah terlalu lelah seharian ini. Ia butuh istirahat sekarang. Lebih baik tidak usah membahas hal-hal yang akan membuat isi di kepalanya jadi lebih berat.


"Ayo kuantar kau pulang," katanya kemudian siap-siap berdiri dari kursi. Masih ada beberapa karyawan yang bekerja lembur. Mereka membungkuk hormat ketika melihat Putra dan Lini berjalan melewati mereka.


"Betapa senangnya jadi Lini, bisa punya pacar kayak bos Putra." ujar salah satu karyawan wanita yang rambutnya dikuncir asal-asalan. Beberapa temanyanya turut mengiyakan. Pandangan mereka terus ke depan sana, pada Lini dan Putra yang berjalan berdampingan sampai akhirnya menghilang dari pandangan mereka.


"Tapi kayaknya sih Lini nggak hanya suka Putra deh, aku sering lihat dia curi-curi pandang ke bos Gavin juga." timpal salah satu di antara mereka.


"Hussh ... Jangan bicara sembarangan,"


                                  ***


"Dad, Mommy nggak ikut?" tanya Zukka menatap Liam yang berdiri disebelahnya. Liam dan Yaya saling berpandangan. Liam mengerti Zukka mengira bahwa Yaya itu adalah ibu kandungnya. Apalagi sejak bocah itu baru lahir, Yaya ikut membantu Liam menjaganya. Tapi mereka harus menerima kenyataan. Yaya sudah terlalu banyak membantunya. Sekarang wanita itu sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Tak seharusnya dia dan putranya mengganggu.


"Mommy kamu kerja, jadi nggak bisa ikut sama kita." ucap Liam sukses membuat sang putra mengerucutkan bibir cemberut. bocah tersebut berpindah ke Yaya dan memeluk gadis itu kuat-kuat, tidak mau di lepas.


"Nggak mau, mommy harus ikut Zukka sama daddy. Pleasee mom ..." pinta sang bocah dengan mata berkaca-kaca.


Yaya meringis pelan. Ia merasa tidak tega. Meski Zukka bukan anak kandungnya, ia sudah menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri. Sayang sekali mereka tinggal di negara berbeda. Menyebabkan mereka akan sulit bertemu nantinya.


Garrel disamping Yaya membungkuk menyamakan posisi dengan Zukka.


"Hei bocah, mommy kamu sekarang nggak bisa ikut. Tapi uncle Garrel janji, mommy kamu pasti akan ke sana nanti temuin kamu. Jangan sedih ya," ucapnya dengan nada membujuk.


"Iya sayang. Zukka sama mommy kan bisa sering video call." tambah Yaya ikut membungkukan badan.


"Tiap hari?" tanya bocah itu dengan mata berbinar.


Yaya berpikir sebentar,


"Mm, tiap hari." sahutnya meski sedikit ragu. 


"Yeah!" seru Zukka lalu diciumnya pipi Yaya berkali-kali lalu berpindah ke Liam. Garrel ikut senang melihat bocah enam tahun itu bahagia. Sekilas terpikir dalam benaknya kalau saja bocah itu adalah putra kandung Yaya dan Gavin, mereka tidak akan terpisah begini. Sayang sekali itu hanya ada di angan-angannya.


"Ya sudah, kami pergi sekarang. Yaya," Liam menatap Yaya hangat.


"Terimakasih untuk semuanya. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu." katanya. Lalu mereka saling berpelukan singkat.


"Kau juga, jaga dirimu dan anak kita." balas Yaya. Zukka memang secara hukum adalah anak mereka berdua. Walau tidak keluar dari rahimnya.


"Rel, thanks ya." Liam beralih memeluk Garrel, sahabat yang juga selalu ada membantunya dulu. Kemudian mereka berpisah. Perpisahan yang manis bagi Liam. Baginya, Yaya dan Garrel adalah sahabat terbaik yang di kirim Tuhan untuknya. Dihatinya, mereka berdua tak akan tergantikan sampai kapanpun.