Dear, Gavin

Dear, Gavin
Bab 56



Gavin memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Sesuatu yang gelap dan asing mulai menjalari dirinya, menyesakkannya. Ia merasa dirinya tenggelam dalam


kegelapan yang dingin dan berputar-putar. Tidak bisa bernapas... Ia tidak bisa bernapas....


Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Yaya pergi... Gadis itu pergi meninggalkannya..


Gavin merasa sekujur tubuhnya mati rasa dan sangat berat. Seolah-olah ia tidak sanggup berdiri lagi. Ia harus mencengkeram meja di samping ranjang kamar rawat Yaya. Bagaimana ini? Ia baru saja ingin menyatakan cintanya pada gadis itu, tapi gadis itu malah menghilang. Gavin bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.


Yaya masih lemah pasca operasi. Bagaimana kalau gadis itu sakit lagi? Kesadaran bahwa ia telah menyakiti perasaan Yaya selama ini membuat hati Gavin serasa dicabik-cabik.  Pria itu menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang dimatanya dan mengaburkan pandangannya. Pleasee Yaya... Gavin memohon dalam hati. Ia harus bertemu gadis itu. Harus minta ampun dan memohon supaya Yaya mau memaafkannya. Setelah itu mereka akan memulai kehidupan baru. Salahkah dia mengharapkan hal itu? Lalu airmatanya keluar tanpa bisa ia cegah lagi. Pria itu terduduk disamping ranjang sambil mencengkeram kuat kasur tersebut lalu menangis sejadi-jadinya. Seperti anak kecil. Tidak peduli ada orang yang melihatnya dan menganggap aneh, ia tidak peduli. Dadanya terlalu sesak.


                                     ***


Hampir dua minggu berlalu setelah menghilangnya Yaya. Gadis itu pergi entah kemana. Tama dan papanya bekerja sama mencari Yaya tiap hari lewat orang suruhan mereka. Keluarga Gavin bahkan meminta tolong kenalan detective mereka tapi tidak menemukan Yaya juga. Gadis itu sangat pandai bersembunyi. Meski begitu, mereka tidak pernah berhenti mencari keberadaan gadis itu sampai sekarang, demi Gavin.


Semenjak Yaya sakit sampai gadis itu menghilang, Gavin tidak pernah masuk sekolah lagi. Ia terlalu syok kehilangan Yaya sampai-sampai keluarganya harus membawanya berobat ke psikiater. Di awal-awal Yaya menghilang adalah yang paling berat buat Gavin. Laki-laki itu depresi berat sampai tidak mau makan dan kehilangan gairah hidup. Pria itu baru sedikit terhibur ketika keluarganya berjanji tidak akan pernah berhenti membantunya mencari keberadaan Yaya.


Bintangpun berkali-kali memaksa Gavin masuk sekolah. Tapi Gavin masih menolak. Alhasil, selama beberapa minggu ini Bintang ke sekolah sendirian. Walau sudah cukup terbiasa sendirian selama beberapa minggu ini, nyatanya tetap saja Bintang merasa ada yang kurang. Ia ingat biasanya kelas mereka akan selalu ribut dengan perkataan-perkataan lebay Yaya kepada Gavin. Bintang merindukan masa-masa itu. Ternyata itu adalah masa terindah yang pernah mereka lewati bersama.


"Bintang..." suara panggilan itu menyadarkan lamunan Bintang. Pria itu mendongak dan mendapati Yasmin sedang duduk menghadapnya di bangku yang berada didepannya. Bangku Yaya dulu. Sebelahnya kosong.


"Kenapa Yas?" tanyanya.


"Mm, Yaya dan Gavin mereka..." tentu saja seisi kelas penasaran bagaimana kondisi Yaya dan Gavin . Yasmin mewakili teman-temannya untuk bertanya. Sebenarnya sudah banyak cerita yang beredar tentang kondisi Gavin saat ini, tapi Yasmin ingin bertanya langsung ke Bintang yang lebih tahu. Bintang dekat dengan Gavin dan Yaya, tentu saja cowok itu pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengenai menghilangnya Yaya, kelas mereka  belum ada yang tahu. Mereka hanya tahu Yaya sakit, dan Gavin sedang menjaga gadis itu.


"Lo doain aja yah. Biar mereka berdua baik-baik aja." pungkas Bintang. Hanya itu yang bisa dia bilang saat ini. Ia tidak mau salah bicara hingga nantinya apa yang dia bilang malah heboh dan menjadi berita yang simpang siur.


Yasmin makin penasaran, tapi dia menghargai ucapan Bintang. Pasti sulit juga berada di posisi cowok itu.


"Ya udah, gue balik ke bangku gue dulu." kata Yasmin tak lagi memaksa Bintang. Lagipula cowok itu sendiri tidak tampak bersemangat sekarang. Tega sekali mereka memaksanya cerita kejadian sebenarnya yang terjadi antara Gavin dan Yaya.