
Hanya perlu beberapa menit Bella sudah memarkirkan motornya diparkiran sekolah.
Ia berjalan santai melewati koridor sekolah. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Aldi, pria yang menjadi mantan kekasihnya itu. Setelah kejadian kemarin Bella sudah memutuskan segala bentuk komunikasi apapun pada Aldi. Aldi berhenti sejenak, seperti ingin mengatakan sesuai, tapi Bella tak menatapnya sama sekali masih terus berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Aldi.
Bagaimanapun juga ia sangat sakit hati karena Aldi telah mengkhianati nya. Perasaan nya pada Aldi masih belum hilang sepenuhnya. Tapi ia akan berusaha melupakan pria itu.
Sesampainya dikelas Bella sudah melihat ke 3 temannya berbincang-bincang.
"Pagi guys..."sapa Bella dengan senyum cerianya.
"Hai cantik..."balas Rafael lalu mempersilahkan Bella untuk duduk.
"Wihh sejak kapan lo suka pakai kalung Bel, bagus banget lagi..."kepo Jeny.
Ethan yang penasaran langsung mendekat pada Bella,
"Wah iya jangan-jangan ada yang ngasih lagi..."goda Ethan.
Rafael yang nampak tak suka langsung bertanya pada Bella,
"Bener ya Bel?Dikasi sama siapa?..."tanyanya sewot.
Bella tak ingin teman-temannya berpikiran macam-macam
"Oh ini dikasih nyokap gue..."jawabnya bohong.
Rafael nampak tersenyum lega.
"Oh ya Amel kok ngga masuk hari ini?..."tanya Bella khawatir.
"Udah lah Bel gak usah dipikirin temen gak baik kaya Amel, mending kita kelapangan sekarang. Katanya hari ini akan ada pertandingan basket loh, kemarin gue denger kita hari ini gak bakal belajar..."ucap Jeny antusias.
"Wah betapa baiknya Tuhan padaku, akhirnya gue bebas dari pelajaran yang membosankan..."celoteh Ethan.
"Berisik banget lo Han, buruan kita kelapangan. Oh iya Bel nanti kita semua kumpul lagi dikantin pas waktu istirahat ya! Sekarang gue sama Ethan mau kumpul dulu sama siswa-siswa yang lain. Kan gak mungkin duduknya gabung antara cowo sama cewe..."ucap Rafael.
"Oh iya deh, gue sama Jeny aja, kalian duluan kih..."jawab Bella sopan.
Ethan dan Rafael pun meninggalkan Bella dan Jeny.
"Emang siapa sih Jen yang mau tanding basket?..."tanya Bella penasaran.
"Itu loh kaka kelas kita, si Ray yang tampan itu. Kelas dia bakalan tanding basket sama kelas XI IPS 1 katanya..."jelas Jeny.
"Oh gitu ya! Yaudah kita kelapangan sekarang aja kali ya. Nanti keburu penuh tuh lapangan, kan nontonnya susah..."keluh Bella.
Jeny mengganguk, kini mereka berjalan beriringan menuju lapangan basket.
Raymond dan teman-temannya sudah bersiap disamping lapangan, Ray menatap sekeliling lapangan, mencari sosok yang ia tunggu-tunggu. Akhirnya tatapannya berhenti pada Bella yang melangkahkan kakinya menuju samping lapangan. Raymond tersenyum lebar saat melihat kalung pemberiannya melingkar indah dileher Bella.
Padahal Ray sudah memikirkan beberapa kemungkinan terburuk, ia takut Bella menolaknya, atau membuang pemberiannya. Tapi kelihatannya tidak seburuk itu.
Bella dan Jeny duduk di kursi panjang disamping lapangan.
Melihat itu Ray berinisiatif menyusul Bella.
"Hai..."sapa Ray.
Bella seketika menoleh saat ada yang menyapanya
"Eh Ray, kenapa?..."tanya Bella heran.
"Gak mau semangatin gue gitu..."goda Ray.
"Cih pede banget lo Ray..."Bella tertawa kecil.
"Gak perlu disemangati sih, liat kamu senyum aja aku udah semangat..."goda Ray lagi.
Bella hanya tertawa kecil menanggapi omongan Ray.
"Yaudah gue nyusulin teman-teman gue dulu ya, bentar lagi mulai nih..."pamit Ray lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Bella.
Baru beberapa langkah Ray meninggalkan Bella, langkahnya terhenti saat Bella memanggil namanya
"Ray..."
Ray yang merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh kebelakang.
"Iya Bel?..."
Bella tersenyum
"Semangat..."ucapnya singkat tapi mampu membuat senyum merekah dibibir Raymond.
"Udah Bel gak usah senyum mulu, gue takut diabetes. Manis banget..."ucapnya lalu pergi meninggalkan Bella.
Bella tersenyum singkat lalu menatap ke arah Jeny yang nampak berteriak histeris.
"Siapapun tolong cekek gue, gue gak sanggup menyaksikan keuwwuan ini, Aaaa anggap aja gue uwwu phobia..."jerit Jeny.
Bella menepuk pundak Jeny,
"Lebay banget sih lo, udah ah diam. Tuh udah mulai tuh..."ucap Bella.
Pertandingan dimulai, Raymond nampak semangat sekali hari ini. Ia terlihat sangat lihai dalam bermain basket. Sesekali ia melirik ke arah Bella. Hanya perlu waktu beberapa menit Ray sudah mampu memenangkan pertandingan ini.
Pertandingan dimenangkan oleh kelas Raymond. Semua siswa diperbolehkan untuk istirahat.
Bella dan Jeny berjalan meninggalkan lapangan menuju kantin. Disusul oleh Rafael dan Ethan. Mereka duduk bersama.
Raymond bersama anggota Raystracck yang lainnya. Beranggotakan Raymond sebagai ketua, William, Stefan, Riski, Reno, dan 3 orang cewek Shintia, Alena dan Angel.
Mereka duduk dalam satu meja bersamaan.
Raystracck memang gabungan dari cowok dan cewek.
Tapi tetap saling menjaga satu sama lain.
"Berhubung kelas kita menang, gue mau terakhir kalian semua!..."ucap Ray pada anggota Raystracck.
"Wihh gini nih teman terbaik lo Ray..."puji Reno.
"Alah bilang aja lo lagi kere..."ejek Riski.
Menimbulkan gelak tawa teman-temannya.
"Udah-udah buruan pesan makanan nya, haus banget gue anying..."sambung William.
"Ray pesenin gue dong, gue haus banget..."ucap Shintia manja.
"Manja banget sih lo, punya kaki kan..."sewot William yang begitu mengerti kerisihan yang dialami Ray.
Ray merasa risih karena sedari tadi Shintia terus sama mendekati dirinya.
"Pesen aja sendiri, gue lagi cape..."jawab Ray ketus.
"Yaudah deh mau gue pesenin gak buat lo Ray..."ucapnya lagi.
Ray menghembuskan nafasnya kasar,
"Nggak..."jawabnya cuek.
"Shintia sayang sini sama babang Stefan yang ganteng aja, Ray lagi cape..."ucap Stefan dengan nada mengejek.
"Bener tuh, gak cape apah dicuekin mulu sama Ray..."ejek Alena.
"Diam, gue bisa sendiri..."ucap Shintia kesal.
"Dari tadi kek, gak usah bikin keributan juga kali..."ucap Angel lagi.
Mereka pun mulai memesan makanan masing-masing.
"Gue kesana dulu ya, mau bayar..."pamit Ray.
"Oke bro..."jawab Reno.
Ray melangkahkan kakinya santai, sambil sesekali melirik kearah Bella yang tengah sibuk berbincang-bincang dengan teman-temannya.
Ray tersenyum
"Selalu cantik..."lirihnya.
"Bu nih saya mau bayar makanan temen-temen saya yang dimeja sana, sama tuh meja cewe yang sebelah sana..."ucap Ray sambil menunjuk kearah meja Bella.
Ia menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu kembali kemejanya untuk melanjutkan makan.
Bella dan teman-temannya sudah selesai menghabiskan makanan mereka,
"Bu..."panggil Bela.
"Ia neng..."jawab Ibu pemilik kantin itu.
"Nih Bella sama temen-temen Bella mau bayar, jadinya berapa ya..."tanya Bella.
"Eh nggak usah neng, semuanya sudah dibayar lunas..."
Bella dan teman-temannya mendadak bingung.
"Loh kok bisa sih..."ucap Jeny.
Sedangkan Ethan dan Rafael kompak mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
Bella kemudian teringat pada Ray, lalu ia tersenyum
"Ray nepatin janjinya..."gumam Bella.
"Yaudah Bu, kalau gitu makasih ya..."ucap Bella.
"Ia neng..."jawabnya.
"Eh kok bisa ada yang bayarin ya..."ucap Jeny penasaran.
"Udah ah gak usah dipikirin, rezeki nomplok ini mah..."jawab Ethan antusias.
"Yee lo mah suka banget sama yang gratisan, gak modal lo jadi cowok..."ejek Rafael.
"Suka-suka gue dong..."jawab Ethan bangga.
"Udah kita ke kelas yuk guys, katanya hari ini pulang cepat. Mungkin bentar lagi..."ajak Bella.
"Let's go..."jawab Rafael lalu mereka berdiri meninggalkan meja kantin itu.
Bella menatap sekeliling kantin, tatapannya berhenti pada sosok Raymond yang juga tengah menatapnya.
Bella tersenyum manis kearah Ray, anggap saja itu tanda terimakasih darinya. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.
Ray langsung salah tingkah, rasanya jantungnya berhenti berdetak saat itu juga.
"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..."gumam Ray.