
~Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan, Terkadang semua itu akan menjadikan masalah semakin rumit.~
–Bella Ainsley–
Tanpa terasa mereka sudah menyelesaikan makannya, dengan beberapa perdebatan dan candaan-candaan ringan.
Tanpa mereka sadari dipojok dekat pintu ada seorang wanita yang menatap mereka dengan emosi sekaligus penyesalan. Karena tersulut emosi ia bangkit dari duduknya dan menghampiri ke empat temannya itu.
Dia adalah Amelia,
"Gue emang salah, tapi gak seharusnya kalian semua ngejauhin gue kaya gini. Kalian tuh temen-temen gue udah dari lama, kenapa kalian tega banget sama gue..."bentak Amel.
Jeny langsung berdiri dan mendorong baju Amel cukup kencang,
"Lo tuh sebenernya manusia atau bukan sih, lo punya hati nggak? Lo bilang kita tega, terus apa sebutan yang cocok buat pengkhianat kaya lo! Yang tega ngerebut kebahagiaan sahabat nya sendiri?..."ucap Jeny dengan suara tinggi.
"Gue ngga nyangka lo setega ini sama Bella Mel, Bella kurang baik apa sih sama lo Mel, sampai lo setega ini sama dia..."ucap Ethan dengan emosi.
Sedangkan Rafael hanya diam saja menyaksikan kejadian ini, bukan tak peduli tapi pikiran Rafael jauh lebih dewasa dari teman-temannya. Ia tak ingin ikut tersulut emosi juga.
Bella menghela napasnya,
"Udah cukup, gue gak papa, Amel bener ko. Kita gak boleh ngejauhin dia kayak gini. Perasaan emang gak bisa dipaksa, percuma kan gue tetap sama Aldi kalau perasaan dan pikiran dia bukan tentang gue, gue ikhlas ko..."ucap Bella lantang
"Ngga segampang itu Bel, pengkhianat kaya dia gak pantes dianggap temen..."sewot Jeny.
"Gue tau ko gue salah, tapi kenapa kalian gini sama gue, kalian tau kan orang tua gue udah gak ada, gue cuman punya kalian, terutama Bella. Dia yang selalu ada buat gue, kalian gak boleh gini sama gue..."Amel mulai terisak.
"Gini nih manusia yang gak tau diri, lo sadar Bella tuh udah baik banget sama lo, terus ini balasan lo buat dia? Gila lo..."bentak Jeny lagi.
Amel yang sedari tadi terisak berlari sejauh mungkin meninggalkan teman-temannya itu.
Bella ingin segera mengejar Amel tapi tangannya ditahan oleh Rafael.
"Tenang Bel, dia butuh waktu sendiri..."
Bella menghembuskan nafasnya kasar, bagaimana pun juga ia mengkhawatirkan keadaan temannya itu.
"Gue udah selesai makan nih, gue duluan ya? Soalnya gue lupa bilang sama nyokap bokap gue mau pergi kesini..."ucap Bella bohong, padahal tanpa izin pun orang tuanya mungkin tak akan marah, tak ada yang peduli padanya. Ia ingin cepat pulang karena berniat mencari temannya Amel, perasaannya benar-benar cemas.
Rafael menatap ke arah Bella
"Mau gue anterin gak..."
Jeny sontak menatap kearah Rafael
"Raf, kan lo tadi jemput gue, terus gue pulangnya gimana?..."
"Yaudah lo anterin Jeny aja Raf, gue naik motor sendiri ko, gak perlu repot-repot..."tolak Bella secara halus.
Rafael menghela nafasnya kasar
"Yaudah deh..."
Ethan pun angkat suara
"Gimana kalau gue aja yang nganter?..."tawarnya.
"Udah gak usah repot-repot guys, gue bisa sendiri. Gue duluan ya!..."pamit Bella.
"Hati-hati ya Bel..."Rafael terlihat sangat khawatir.
Bella tersenyum, lalu mengangguk.
Ia meraih jaketnya lalu memakainya pelan.
"Nih buat bayar makanan nya!..."Bella nampak menyodorkan beberapa uang ratusan.
"Gak usah Bel, biar gue aja..."tolak Rafael.
"Plis gue aja, gue duluan ya guys. Bye..."Bella melangkahkan kakinya meninggalkan teman-temannya.
Bella bergegas menuju parkiran, memakai helm full face nya dengan cepat lalu melajukan motornya menyusuri jalanan. Ia berniat mencari keberadaan Amel yang mungkin tidak jauh dari cafe itu.
Sekitar 15 menit Bella menyusuri jalanan tak ada tanda-tanda keberadaan Amel, Bella nampak pasrah dan menghentikan motornya di tepi danau.
Bella sudah berkali-kali menelpon Amel tapi nomor yang ia tuju selalu tidak aktif. Bella nampak frustasi memikirkan keadaan temannya itu. Bella bukan tipe wanita pendendam. Bagaimana pun Amel tetap temannya. Bella yang paling mengetahui segala beban yang diemban teman-temannya.
Bella duduk ditepi danau, menatap keasrian tempat itu, dibawah pepohonan yang rindang. Bella sering kesini disaat dia butuh tempat untuk sendiri.
"Ekhem, mau ditemenin ngga?..."terdengar suara Ray dari arah belakang.
Bella terkejut lalu menoleh kebelakang nya.
"Ngapain lo disini, ngikutin gue lo..."kesal Bella.
Rau tertawa kecil
"Emang tempat ini punya lo ya?..."jawab Raymond santai.
Bella bangkit dari duduknya
"Yaudah kalau gitu gue aja yang pergi..."jawab Bella ketus.
"Duduk bentar, mau gak dengerin gue..."
Bella menghela nafasnya kasar
"Gue gak punya banyak waktu, sebaiknya lo cepet..."Bella kembali duduk ditempatnya semula.
Raymond tersenyum lalu duduk disamping Bella,
"Gue sering kesini, kalau gue lagi banyak pikiran..."ucap Ray memulai pembicaraan.
Bella masih nampak diam menikmati pemandangan malam.
"Terkadang yang terlihat bahagia belum tentu sesuai dengan kenyataan nya, seseorang terlihat pandai dalam menyembunyikan luka, tapi tanpa bisa dipungkiri hatinya tetap terluka..."sambung Ray lagi.
Bella menoleh saat mendengar perkataan Raymond yang seakan mengusik jiwanya
"Emang lo gitu? Gue liat lo bahagia aja sama nyokap lo..."
Raymond tersenyum lagi,
"Itu yang gue maksud, manusia kadang pandai bersandiwara seolah semuanya baik-baik saja, tapi semuanya tak semudah itu..."
Bella mengerutkan keningnya
"Maksud lo?..."
Raymond membenarkan duduknya menghadap Bella
"Nyokap gue emang gitu, baik, ramah, dan pandai nyembunyiin luka, sama kaya lo..."
Bella akhirnya memutuskan untuk menghadap kearah Raymond, ceritanya sungguh menarik perhatian Bella.
"Lo tau apa tentang gue..."
"Gue tau semuanya, mudah bagi gue untuk tau semua hal tentang lo, gue udah cari tau semuanya. Mulai dari orang tua lo, sampai sahabat lo..."jawab Ray santai.
Bella membelalakkan matanya
"Lo kepoin gue..."
Raymond tersenyum
"Gue cuman pengen tau, tapi lo tenang aja, gue gak bakalan kasih tau siapapun.
"Lancang banget lo mau tau masalah hidup gue, jangan sampai lo ngebocorin sama siapapun, gue pengen pendam masalah gue sendiri. Gue gak mau ngerepotin siapapun..."tatapan Bella berubah menjadi sendu.
"Semua orang perlu orang lain untuk berbagi Bella, masalah itu bisa dihadapi bersama-sama. Dengan lo ceritain ke orang lain. Itu akan bikin lo jauh lebih tenang. Mau cerita ke gue?..."tanya Raymond pelan.
"Gue gak butuh..."jawab Bella ketus.
"Kalau gitu gue yang butuh lo..."jawab Ray lalu menatap bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Bella masih terdiam
"Nyokap gue gak sebahagia itu Bel, bokap gue sering bentak-bentak nyokap gue, bokap gue gak pernah merhatiin gue, dulu gue sama nyokap gue pernah mergokin bokap gue selingkuh sama teman nyokap gue sendiri. Tapi liat wanita hebat itu, dia selalu tersenyum, bersikap semuanya seolah baik-baik saja, sepandai itu nyokap gue nyembunyiin luka..."Raymond berubah sendu.
Hati Bella merasa tersentuh mendengar penuturan Raymond.
"Maaf ya Ray, gue gak tau lo punya masalah sebesar itu..."
Raymond tersenyum getir
"Kita sama Bel, Lo pasti mikir gini, kebahagiaan gak bisa dibeli pakai uang. Gue emang kaya, bergelimang harta. Tapi gue perlu kasih sayang dari bokap gue Bel..."
Bella yang merasa simpati langsung menggenggam erat tangan kanan Ray. Seperti menyalurkan ketenangan bagi Ray.
"Kenapa lo ceritain ini semua sama gue?..."tanya Bella bingung.
Ray terkejut tiba-tiba saja Bella menggenggam tangannya
"Gue juga gak tau, sejak awal ketemu lo. Gue pengen berbagi semuanya sama lo. Lo sama kaya nyokap gue, baik, dan tegar. Gue ngerasa nyaman aja sama lo..."jawab Ray jujur.
Bella mengerti sekarang, pria disampingnya ini benar-benar menaruh kepercayaan padanya.
"Terkadang gue juga mikir, gue cape, gue pengen ngeluh, gue mau berenti, gue pengen akhirin semua ini..."Bella menghela nafasnya pelan. "Tapi gue gak mau mikir sependek itu, masih banyak orang yang butuh gue, gue harus kuat. Sama kaya lo, lo harus kuat, lo harus jagain nyokap lo, dia cuman punya lo Ray..."
Ray tersenyum, berbagi cerita pada Bella membuatnya sedikit tenang,
"Makasih ya Bel udah mau dengerin gue..."
Bella tersenyum dan mengangguk
"Gue yakin lo bisa..."
Bella memang orang yang cuek pada siapapun yang baru saja dikenalnya. Tapi kali ini berbeda, Bella merasakan ketulusan pada tatapan dan perlakuan Ray padanya.
Katanya seseorang akan menceritakan masalah pribadinya hanya pada orang yang ia anggap berarti dalam hidupnya. Dan Ray melakukan itu pada Bella.
Ray mempererat genggaman tangan Bella.
Keduanya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing.