
Dari dalam cafe terlihat Rafael, Ethan, dan Jeny yang tengah berbincang-bincang.
"Hai! Gue telat ya?sorry banget ya..."Bella merasa tak enak hati.
"Santai aja kali Bel..."jawab Jeny singkat.
Rafael nampak terpesona sejenak, entah mengapa wanita itu selalu sempurna dimata Rafael.
"Kita juga baru datang ko Bel, sini duduk..."ucap Rafael lalu menyodorkan bangku untuk Bella duduk.
"Cantik banget sih Bel..."puji Rafael. Jeny nampak tak suka mendengarkan pujian Rafael. Tidak bisa dipungkiri ia sudah lama menyukai Rafael.
Menurutnya Rafael adalah pria sempurna, tampan, sangat menghargai wanita dan memperlakukan wanita dengan sangat baik. Dari sana lah Jeny menjatuhkan hatinya pada seorang Rafael. Meskipun ia sadar jika dirinya dan Rafael berbeda keyakinan.
"Ihh kok cuman Bella sih yang dipuji, gue enggak tuh..."Jeny mendengus kesal.
Ethan menatap Jeny dengan tatapan mengejek
"Cieehh mak lampir iri guys, haus pujian..."
Bella dan Rafael tertawa terbahak-bahak
"Lo juga cantik ko Jen..."puji Rafael masih dengan candaan.
Sedangkan Jeny terlihat salah tingkah, pipinya merona mendengar pujian dari Rafael.
Bella melepaskan jaketnya pelan menyisakan kaos lengan pendek miliknya. Menampakkan perban yang melilit di lengan dan sikunya.
Wajah ketiga temannya itu nampak berubah khawatir saat melihat tangan Bella terutama Rafael.
"Bel lo kenapa, tangan lo luka Bel, kita kerumah sakit yuk..."Rafael nampak panik.
Jeny kelihatan iri pada Bella, melihat Rafael yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Tapi ia tak ingin berpikir terlalu jauh. Baginya keselamatan Bella yang jauh lebih penting.
Sama halnya dengan Ethan yang langsung mendekat pada Bella dengan wajah tak kalah panik.
Bella nampak terkekeh melihat wajah panik teman-temannya.
"Santai aja kali guys! Gue baik-baik aja, buktinya nih gue sehat kan..."
"Sekarang jelasin ke kita Bel, tangan lo kenapa?..."tanya Ethan sedikit tergesa-gesa.
Bella tersenyum getir
"Kemarin waktu gue naik motor tiba-tiba ada yang pengen nabrak gue, ya gue ngehindar dong. Eh malah kehilangan keseimbangan gue, jadi jatuh..."jelas Bella santai.
Rafael tersulut emosi
"Bangsat, siapa yang berani ganggu Bella, gue bakal habisin tuh orang..."
Begitu juga dengan Ethan
"Cari gara-gara dia sama kita Raf..."
"Sabar guys, yang penting kan Bella nya baik-baik aja..."Jeny mencoba menenangkan temannya.
Bella pun begitu, ia mencoba mencairkan suasana
"Nah bener tuh, gue gak papa ko! Eh iya Amel kok ngga ada?..."
"Ngapain loh masih mikirin penghianat kaya gitu..."jawab Jeny ketus.
Berbeda dengan Rafael dan Ethan yang nampak bingung
"Ini sebenernya ada apa sih, tumben juga nih Amel gak ikut..."tanya Ethan.
"Aldi khianatin Bella, dia suka sama Amel..."jawab Jeny sinis.
Ethan mendengus kesal
"Busyet perlu gue kasih pelajaran tuh anak, gue izinin dia deketin Bella buat dijagain, bukan disakitin..."
Sedangkan Rafael nampak senang mendengar kabar Bella sudah putus dari Aldi, ia bisa maju setelah ini.
"Gue udah sering bilang kan Bel, Aldi itu gak pantes buat lo. Dia terlalu brengsek..."sambung Rafael.
"Udah-udah gak usah dibahas lagi, gue laper..."ucap Bella dengan wajah cemberut.
Rafael tertawa melihat wajah Bella yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Yaudah kalian semua tunggu disini, gue pesenin makanan dulu ya..."pamit Rafael.
"Gue tinggal bentar ya, mau ngangkat telpon bebeb gue nih..."ucap Ethan dengan candaan.
Bella hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Eh Bel lo jatuh dimana sih?..."ucap Jeny memecah keheningan.
"Ada kan jalan yang biasa gue lalu in..."jawab Bella sekenanya.
Wajah Jeny berubah jadi raut khawatir,
"Lo bisa gak sih Bel jangan lewat situ, kan jalannya sepi banget, bahaya tau! Cari lah jalan yang lebih rame. Kalau kejadian kaya gini siapa yang nolongin lo, mana sepi lagi! Kenapa lo gak nelpon kita-kita buat minta tolong. Kalau sampai lo kenapa-kenapa gue gak bisa tenang Bella..."
"Udah gak usah gitu mukanya, gue gak papa ko. Kemarin jua gue pengen nelpon kalian, eh ternyata ada Raymond yang nolongin gue..."
Jeny berteriak histeris
"Omg cowok ganteng yang kemarin ngasih lo minuman Bel..."tanya Jeny antusias.
Bella mengangguk,
"Gue diajak kerumah sama dia, gue ketemu sama mamanya juga..."
"Terus-terus mamanya baik gak sama lo..."tanya Jeny lagi.
"Baik banget mamanya Ray..."jawab Bella seadanya.
"Nah piks lo dikasih lampu hijau sama calon mertua..."ucap Jeny.
Bella menatap Jeny malas
"Apa an sih lo Jen, ngomong nya ngasal mulu..."
"Gue dukung lo Bel, babang tampan dong..."goda Jeny.
Tak lama Rafael datang
"Makanan datang, nih Bel lo laper kan? Gue udah pesenin burger yang lo suka..."
"Makasih Rafa, tau aja lo gue suka banget..."ucap Bella senang.
Jeny mendengus kesal
"Ko aku ngga dibawain sih Raf..."
Rafael nampak gelagapan
"Gue tadi pengen bawain tapi banyak banget jadi gak muat tangan gue, tuh ada pelayan yang bawain..."Rafael takut Jeny marah padanya.
"Yaudah deh..."Jeny nampak pasrah.
Ethan sudah kembali,
"Widihh enak nih, makan-makan..."
"Dari mana lo Han..."tanya Rafael.
Jeny menoleh kearah Rafael
"Biasa tuh si kambing, so kegantengan banget, so so an punya banyak pacar..."
Ethan tertawa mengejek
"Ya elah bilang aja lo iri sama gue! apa susahnya sih, apa jangan-jangan lo cemburu ya sama gue? makanya lo sewot mulu sama gue..."Ethan nampak sangat percaya diri.
Jeny menengok kearah Ethan dengan tatapan sinis
"Lo kalau mimpi jangan ketinggian, kebanyakan halu tuh otak lo. Biarpun di dunia ini cuman ada satu cowok yaitu lo, gue lebih baik jomblo seumur hidup...'jawab Jeny ketus.
Bella angkat bicara
"Wuh hati-hati loh Jen, takut kemakan omongan sendiri. Jangan terlalu benci, nanti sayang..."ejek Bella.
"Nah bener tuh kata Bella, gini-gini gue ganteng tau. Lo nya aja buta..."jawab Ethan tak mau kalah.
"Amit-amit deh..."sewot Jeny.
"Udah kalau ngomong mulu kapan makannya coba. Makan dulu baru ngomong..."Rafael menengahi.
"Tumben lo bijak Raf, biasanya kan otak lo gak guna..."ejek Ethan.
Rafael menghela nafas
"Wah main-main lo sama gue, gue retakin ginjal lo..."
Ethan tertawa senang
"Kalem bos kalem..."
"Alah bacot, bilang aja lo takut sama Rafa, mental apaan lo hah?..."sewot Jeny.
"Eh Jen lo diam ya, lo punya dendam apa sih sama gue, cinta lo gue tolak ya? makanya lo frustasi gini..."Ejek Ethan.
Jeny mendengus kesal
"Ngomong lagi gue tampar muka lo..."
"Udah dong, gue laper tau. Ayo makan..."ajak Bella.
Mereka berempat pun akhirnya memutuskan untuk makan.
Bella dan Rafael mulai menengadahkan kedua tangannya berdoa. Begitu juga dengan Jeny dan Ethan yang menggenggam tangan mereka didepan dadanya.
Mereka tetap berdoa bersama, walaupun dengan cara yang berbeda.