BELLA

BELLA
~Bella 2~




~Matahari sangat terik, tapi senyuman mu jauh lebih menarik~


—Raymond Zionathan–


"Woy Ray, ngelamun mulu lo! Kesambet apaan lo?..."Stefan menepuk pelan bahu temannya itu membuat Ray sedikit terkejut.


"Biasa bro, tuh lagi liatin adik kelas kita!..."Sahut William dengan nada mengejek.


Stefan mengikuti arah pandangan kedua sahabatnya itu


"Gila cantik banget! Pantesan si Ray naksir, setau kita kan nih anak jarang banget suka sama cewe! Tuh si Shintia yang udah lama ngejar-ngejar Ray aja tetep gak mau dia..."ucap Stefan sambil melirik kearah Raymond yang masih diam.


"Samperin bego, jangan jadi pengecut lo! Nanti keduluan si Stefan noh..."sambung William.


"Berani ngedeketin tuh cewe, gue pastiin besoknya lo tinggal nama..."jawab Raymond santai sambil meneguk minumannya.


"Gila sih! Santai Ray santai, gue cuman bercanda kali..."ucap William menenangkan.


Sedangkan Stefan nampak susah menelan salivanya saat mendengar penuturan Ray. Setaunya Ray tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Raymond adalah ketua geng motor Raystracck, geng motor yang cukup terkenal diluar sekolah. Tapi saat disekolah Ray dan teman-temannya termasuk siswa baik-baik. Ia bukan takut, hanya saja ia tak ingin mengecewakan orang tuanya jika dalam hal nilai dan attitude. Selain tangguh ia juga dikenal sangat pemberani dan pantang mundur. Ia sendiri yang membangun geng motor itu dengan solidaritas yang sangat tinggi.


Geng motor Raystraccks hanya beranggotakan 8 orang termasuk Raymond, William dan Stefan. Tidak banyak memang, geng itu bukan untuk perkelahian tapi mempererat persaudaraan saja. Sangat mudah untuk mengetahui siapa saja anggota Raystracck, bisa dilihat dari logo yang ada dijaket mereka.



—————


Bella nampak kaget saat seseorang tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral ke arahnya.


"Nih buat lo, gue liat lo kecapean, muka lo pucat banget..."sapa Ray.


Bella dengan ragu menyambut pemberian dari Ray.


"Lo siapa sih..."jawabnya singkat.


Raymond tersenyum simpul melihat wajah bingung Bella.


"Kenalin gue Raymond, kaka kelas lo..."Ray nampak mengulurkan tangannya.


Bella menghembuskan nafasnya pelan lalu menyambut uluran tangan Ray.


"Gue Bella kelas XI..."jawab Bella seperlunya.


"Jangan nunduk Bel, cantiknya gak keliatan..."ucap Ray berhasil membuat Bella tersenyum sinis, sedangkan Jeny nampak berteriak histeris disamping Bella.


"Ya udah gue kekelas dulu ya..."pamit Ray lalu dibalas anggukan oleh Bella.


Saat Ray nampak tak terlihat lagi Bella langsung mengusap dadanya pelan.


"Aaaaaaaa gue bener kan Bel, tuh kakel kayanya suka sama lo, astaga mana ganteng banget parah, baper gue bangsat..."


"Diam ah, biasa aja kali..."ucap Bella santai.


"Gue ngedukung banget sih lo sama dia Bel, cocok banget, gue ngeship lo berdua sumvah..."cerocos Jeny.


"Apa-apaan sih lo, berisik tau nggak, yuk ah kekelas cape gue denger bacotan lo..."Bella mendengus kesal.


Bella berjalan cepat menuju kelasnya disusul oleh Jeny yang berlarian dibelakangnya.


Tanpa terasa jam pulang sekolah sudah tiba. Semua siswa siswi nampak mulai meninggalkan sekolah begitu juga dengan Bella dan teman-temannya.


"Bell gue pulang duluan yah, udah dijemput bokap gue tuh..."ucap Jeny.


Bella tersenyum getir mendengar penuturan Jeny.


"Oke, lo duluan aja, hati-hati ya Jen..."ucap Bella.


Jeny nampak mengangguk lalu melambaikan tangannya.


"Gue duluan juga ya, ada urusan gue, biasalah pacar-pacar gue udah nunggu..."ucap Ethan sombong.


"Idih so mantep lo anjing..."sulut Rafael.


"Iri aja lo asu..."jawab Ethan melirik Rafael malas lalu beralih menatap Bella, "Cantik, Ethan duluan yah, hati-hati dijalan..."ucap Ethan.


Bella tersenyum manis lalu mengangguk pelan. Tersisa Rafael dan Bella. "Gue pengen banget Bel nganterin lo pulang, tapi lo bawa motor sendiri..."keluh Rafael.


Bella tertawa kecil menanggapi perkataan Rafael,


"Gue pengen mandiri Rafa, gue bisa sendiri ko, lo duluan aja..."jawab Bella.


Rafael mengusap kepala Bella pelan,


"Hati-hati ya cantik, jangan ngebut-ngebutan dijalan, kalau perlu apa-apa langsung telpon gue ya..."pesan Rafael.


"Siap bos..."jawab Bella cepat.


Ya, Ethan dan Rafael adalah teman baik Bella, mereka memperlakukan Bella dengan sangat baik. Ethan menganggap Bella sama seperti adiknya sendiri, berbeda dengan Rafael, Ia mengagumi Bella dalam diam sejak kelas X, itulah yang membuatnya memperlakukan Bella dengan sangat spesial.


"Gila tuh Bella keren banget njir, udah cantik, mandiri, jago naik motor lagi..."puji William tanpa henti.


"Langka banget bro..."sahut Stefan tak mau kalah.


"Cewe gue..."ucap Raymond singkat tapi berhasil membuat kedua temannya bungkam.



Cittt...


Bella berhenti tepat dihalaman rumahnya. Ia mulai melangkahkan kaki memasuki rumahnya.


"Bi mama papa belum pulang?..."tanya Bella.


"Belum non, biasanya kan larut malam..."jawab bi Ina sopan.


Bella tersenyum getir, apa yang lebih penting dari pada pekerjaan mereka.


"Yaudah Bella kekamar dulu..."


Bella melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Melepaskan seragam sekolahnya dan merendam tubuhnya di bath up kamar mandi miliknya.


Setelah selesai Bella nampak mengenakan celana jeans hitam dan kaos polos lalu mengambil jaketnya diatas meja sambil tangannya meraih kunci motornya.


"Bi Ina Bella keluar bentar ada urusan..."pamit Bella.


"Baik non..."jawab bi Ina sopan.


Brum...


Bella mulai menjalankan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, ia ingin menenangkan pikirannya sejenak tentang masalah hidupnya.


Ditengah lamunan Bella tiba-tiba ada sebuah motor yang hampir menabraknya tapi Bella dengan cepat menghindar. Karena panik Bella kehilangan keseimbangannya.


Brukh...


Tubuh Bella tersungkur kepinggir jalan, motornya hampir saja menabrak sebuah pohon besar.


Bella nampak meringis kesakitan, dapat dilihat dari beberapa luka di sikunya dan lengan bagian bawahnya. Jika saja Bella memakai jaketnya mungkin tidak akan separah itu, tapi Bella hanya mengikat jaketnya di pinggangnya hingga tangannya terhantam aspal cukup keras.


Bella meringis menahan sakit, darah segar mengalir di bagian tangan Bella. Ia perlahan bangun dan berjalan tertatih-tatih menggapai motornya.


Jalanan yang cukup sepi membuat Bella bingung harus meminta tolong pada siapa. Tiba-tiba


Brumm...


Sebuah motor berhenti tepat didepan Bella.


"Eh Bella, lo kenapa?..."tanya nya tampak khawatir.


"Eh Ray, ngapain lo disini..."lirih Bella pelan.


Ya itu adalah Raymond yang tidak sengaja melewati kawasan itu.


"Gue dari tongkrongan, gak tau tiba-tiba aja pengen lewat sini, ternyata karena ini! Lo jatuh?..."


"Iya nih gak sengaja, tadi ada yang mau nabrak gue, terus gue nyoba ngehindar dan kehilangan keseimbangan deh pas jatuh..."jawab Bella sekenanya.


Raymond nampak khawatir


"Shitt!!!Mau gue bawa kerumah sakit gak Bel, luka lo lumayan nih..."Ray memegang tangan Bella sambil melihat-lihat lukanya.


"Gak papa kali!santai aja, luka dikit doang!udah biasa..."sahut Bella santai lalu melepaskan pegangan tangan Ray pada tangannya.


Raymond tersenyum simpul


"Iya gue tau lo cewek kuat Bel, kalau gitu lo ikut kerumah gue aja! Gue obatin luka lo ya!..."


"Gak usah deh, gue gak suka ngerepotin..."Bella merasa jengah.


"Gue gak terima penolakan..."ucap Ray lalu tersenyum pada Bella.


"Ayo naik..."


"Loh Ray motor gue gimana?..."tanya Bella bingung.


"Gampang nanti gue suruh temen-temen gue ngambilin terus nganter kerumah lo..."jawab Ray santai.


"Tapi Ray..."ucapan Bella terputus saat Ray langsung menarik tangannya, menuntunnya menaiki motornya.


"Pegangan Bel..."Bella nampak ragu, ia hanya berani memegang tas Raymond.


"Di tas aja Bel, gak mau meluk gitu! Kaya cewek-cewek biasanya, suka nyosor kalau nebeng sama gue..."ejek Raymond.


"Dih ngarep lo, gue bukan cewek biasa..."jawab Bella acuh.


Raymond tersenyum melihat sikap acuh tak acuh Bella, wajar saja, ia baru saja kenalan hari ini disekolah. Tentu saja Bella tak terlalu yakin padanya. Raymond lalu mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.