BELLA

BELLA
~Bella 3~



~Apa yang lebih indah selain kasih sayang dari orang tua?~


–Bella Ainsley–



Tanpa terasa Ray sudah memarkirkan motornya diparkiran rumahnya. Ia meraih tangan Bella untuk mengajaknya masuk.


"Ayo Bel masuk..."


Bella melepas pegangan tangan Ray pada tangannya.


"Gue bisa sendiri..."jawabnya ketus.


Ray tersenyum melihat penolakan Bella


"Gak salah gue pilih lo Bel, lo beda dari cewek-cewek lain yang dengan gak tau malunya ngemis-ngemis ke gue, sedangkan lo ibarat berlian mahal Bel dan akan gue jaga dengan baik..."gumam Ray.


"Ngapain sih lo senyum-senyum gitu, jadi masuk gak sih..."gerutu Bella.


Ray tertawa kecil lalu melangkahkan kakinya masuk dengan diiringi Bella dibelakangnya.


Rumah yang luas dan menenangkan. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan keadaan rumah Raymond.


"Bel lo tunggu gue disofa, gue mau kekamar dulu ganti baju..."


Bella hanya menganggukkan kepalanya bersamaan dengan Ray yang meninggalkan Bella menuju kamarnya.


Bella perlahan duduk di sofa, rasanya tubuhnya sangat sakit dengan darah yang sudah mulai mengering dibagian lengan dan sikunya.


"Sstt sakit juga ternyata semoga aja gak infeksi..."lirih Bella pelan.


"Wahh ada tamu nih ternyata, cantik banget sih kamu sayang..."Seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik diusianya yang sudah tak muda lagi menghampiri Bella yang tengah duduk disofa.


Bella dengan cepat bangkit dari sofa dan meraih tangan wanita paruh baya itu lalu mencium punggung tangannya.


"Saya Bella tante, tante mamanya Ray ya?..."tanya Bella sopan.


Ghina yang merupakan ibu dari Raymond itu nampak terpaku melihat perlakuan Bella padanya disusul dengan senyuman manis,


"Kamu ini udah cantik, baik, sopan lagi. Kamu pacarnya anak tante ya?..."tanya Ghina antusias.


Bella nampak gelagapan mendengar pertanyaan dari ibunya Ray.


"Enggak tante, Bella temennya Ray..."


Ghina memasang raut wajah kecewa


"Yah tante kira pacarnya Ray, padahal tante setuju ko kalau kamu sama Ray..."goda Ghina.


Bella tersenyum kikuk, ia sangat bingung harus menjawab apa. Beruntung Ray tiba-tiba datang dari belakang


"Ngomongin apa sih nih, kayanya seru banget..."ucap Ray lalu dengan sigap duduk disamping Bella.


"Ini mamah cuman tanya-tanya aja, cantik banget sih ni temen kamu..."puji Bella.


Ray tertawa renyah


"Ray kan jago mah milihnya, calon menantu mamah nih..."ucap Ray dengan nada candaan.


Bella membelalakkan matanya mendengar jawaban Ray. Ia sontak memukul pelan lengan Ray.


"Kamu apa-apaan sih Ray, becanda mulu..."ucap Bella malu.


"Bi Ira tolong buatin minuman nih buat calonnya Ray, sama kotak P3K juga bi..."teriak Ray.


"Baik den..."jawab bi Ira yang tak lain adalah art dirumah Ray.


Tak bisa dipungkiri pipi Bella sudah merah seperti kepiting rebus menahan malunya.


"Ray cukup dong becandanya..."kesal Bella.


"Loh buat apa kotak P3K sayang?..."tanya Ghina khawatir.


"Ini mah tadi Bella jatuh dari motor jadi Ray mau ngobatin luka Bella dulu, takut infeksi..."jawab Ray.


"Ciee anak mamah khawatir banget kayanya, kamu cewek pertama loh Bel yang pernah Ray ajak kerumah..."jujur Ghina.


Bella sedikit terkejut


"Emm gitu ya tante, tapi Ray cuman nolongin Bella kok..."


Ray tertawa kecil


"Gak usah jujur-jujur banget dong mah..."


Ghina tertawa melihat Bella yang malu-malu kucing


"Ya udah mamah tinggal kekamar dulu ya, mama kan peka jadi gak mau ganggu-ganggu kalian. Ray pepet terus Ray, jangan kasih kendor, mamah mendukung mu..."ucap Ghina dengan semangat seperti seorang supporter.


Ray tertawa kencang


"Doa in Ray yah mah..."jawab Ray.


Bella hanya geleng-geleng kepala melihat keakraban ibu dan anak dihadapannya ini.


"Andai Bella bisa seberuntung kamu Ray, punya keluarga seramah ini, mungkin Bella gak akan kesepian..."gumam Bella.


Tiba-tiba bi Ira datang dengan minuman dan kotak P3K


"Ini den, bibi permisi dulu..."


"Oh iya makasih bi..."jawab Ray sopan.


"Sini tangan lo Bel, gue obatin..."pinta Ray.


"Gak usah gue bisa sendiri..."jawab Bella sekenanya.


Ray menghembuskan nafasnya pelan


"Gue gak suka penolakan Bella..."


Bella dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ray


"Mungkin sedikit perih nih Bel, tahan ya..."


Sesekali Bella meringis menahan sakit ditangannya.


"Thanks ya Ray..."ucap Bella singkat.


Ray tersenyum senang


"Gue pengen temenan sama lo Bel, gue tulus ko, tenang aja lo..."


Bella mengerutkan keningnya


"Cuman temenan kan, no problem..."jawabnya cuek.


"Mau lebih dari itu juga gak papa sih..."goda Ray.


"Ngarep banget lo, udah ah anterin gue pulang! Takut kemaleman gue..."


"Gaslahh..."jawab Ray lalu meraih kunci motornya diatas meja dan berjalan keluar rumah diiringi Bella dibelakangnya.


Ray memakai helm full face nya menuntun Bella menaiki motornya dan perlahan melajukan motornya.



Ray berhenti tepat didepan rumah Bella. Bella nampak bingung saat melihat motornya sudah terparkir indah di halaman rumahnya.


"Wih udah disini aja motor gue, siapa yang nganterin nih?..."


"Ada temen gue..."jawab Ray sekenanya.


"Yaudah lo pulang deh! Thanks udah bantuin gue..."ucap Bella sambil turun dari motor Ray.


"Jadi ceritanya gue diusir nih..."goda Ray.


Bella tersenyum singkat


"Ya anggap aja gitu, gue masuk dulu..."


Bella berlari kecil memasuki rumahnya tanpa menunggu jawaban dari Ray, sedangkan Ray tertawa kecil melihat kelakuan Bella.


"Lo emang susah ditaklukin Bel, tapi gue bakal perjuangin lo..."gumam Ray sebelum melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi.



Bella berjalan santai memasuki kamarnya.


"Gue mandi dulu deh, gerah banget..."lirih Bella lalu menuju kamar mandinya.


Selang beberapa menit Bella sudah selesai dengan ritual mandinya masih dengan perban yang melilit ditangannya.


Bella tersenyum singkat mengingat kelakuan Ray. Namun dengan cepat lamunannya buyar saat ponselnya tiba-tiba berdering, tertera nama Jeny sahabatnya disana.


Bella meraih ponsel dimeja samping kasurnya


"Ngapain lo nelpon malem-malem gini, gak ada kerjaan lo ya..."


"Lah ko ngamok, gue mau ngajakin lo nongkrong malam ini dicafe biasa, gue juga udah ajak Ethan sama Rafael. Gimana lo mau gak?..."


"Jam berapa emang?..."


"Jam 8 malam deh, nanti gue tunggu ditempat biasa. Babay Bel muachh..."


"Jijik gue ******..."


Panggilan terputus.


Bella melirik jam yang ada diatas mejanya,


"Masih jam 7, gue masih punya waktu satu jam lagi..."lirih Bella pelan.


Bella berjalan ke balkon kamarnya, meraih sebuah gitar yang ada disamping lemarinya.


Bella bisa dibilang cukup jago dalam bermain gitar, dapat dilihat dari sejak ia menginjakkan kakinya di bangku SMP. Bella selalu ikut les bermain gitar, itulah yang membuatnya bisa sampai sekarang. Suara yang masuk kategori bagus membuat Bella hampir bisa disebut paket komplit.


Bella duduk di balkon kamarnya, tangan mulus Bella mulai memetik satu-persatu senar gitarnya hingga menghasilkan nada-nada yang indah.


Bella menghembuskan nafasnya pelan, memejamkan matanya dan mulai membuka suaranya


Wajar bila saat ini


Ku iri pada kalian


Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah


Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam


Tiada harga diri untuk hidupku terus bertahan


(Seperti lirik lagu Diary Depresi ku~Last child)


Bulir bening menetes di pipi cantik Bella tanpa permisi.


Bella menghapus air matanya, berjalan menuju kasurnya. Ia meletakkan kembali gitarnya dan meraih foto yang ada dimeja disamping kasurnya.


Difoto itu terdapat Bella yang tengah tersenyum bahagia dipelukan kedua orangtuanya. Bella mengusap foto itu dengan jari-jari lentiknya


"Mah pah Bella kangen. Bella pengen kaya dulu lagi, disayang, dimanjain, diperhatiin sama mamah papah. Bukan kaya sekarang, Bella butuh kalian mah pah. Bella cape, hikss hikss..."keluh Bella ditengah isakannya.


Cukup lama Bella menangis hingga ia memutuskan meletakkan kembali foto itu.


Jam menunjukkan pukul 07.40 menit,


"Masih ada 20 menit lagi, gue sholat isya dulu deh..."lirih Bella.


Dengan cepat Bella mengambil air wudhu dan menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Setelah selesai Bella mulai bersiap-siap untuk pergi.


Bella hanya mengenakan celana jeans dan kaos lengan pendek. Bella bukan tipe cewek feminim. Sebut saja dia tomboy.


Bella mengenakan jaketnya untuk menutupi luka ditangannya. Mengikat rambutnya lalu mengambil kunci motornya dan bergegas meninggalkan kamar nya.


Suasana rumah masih sangat sepi menunjukkan orang tuanya masih belum pulang.


"Sekarang udah hampir jam delapan malam, dan kalian masih belum pulang juga..."gumam Bella.


Tak ingin ambil pusing Bella langsung menuju halaman rumahnya, memakai helm dan dengan cepat mengendarai motornya menuju cafe yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.