BELLA

BELLA
~Bella 6~




Hening...


Bella terdiam menatap indahnya taburan bintang-bintang di langit, perasaan nya sedikit lebih tenang dari biasanya. Entah karena moodnya yang sedang baik atau karena Ray yang ada disampingnya saat ini.


Raymond menatap wajah Bella dengan seksama membuat senyum dibibir nya terbit.


"Lo cantik banget Bel, bukan cuman wajah lo, tapi hati lo juga..."lirih Ray pelan tapi masih bisa didengar jelas oleh Bella.


Bella nampak salah tingkah tapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya


"Biasa aja kali Ray, banyak ko yang kaya gitu. Bahkan banyak yang lebih baik dari gue..."


Ray tertawa kecil


"Lo terlalu ngerendahin diri Bel, lo itu sempurna dimata gue..."ucap Ray sambil menatap Bella.


Bella mencoba mencari kebohongan dari mata Ray, tapi nihil. Hanya terdapat ketulusan dari matanya.


"Banyak cewe yang jauh lebih cantik dari gue kali Ray..."


"Tapi gue maunya lo..."jawab Ray singkat tapi mampu membuat Bella tertegun.


Bella nampak menetralkan nafasnya.


"Udah malam banget nih, gue balik duluan ya..."pamit Bella lalu berdiri.


Ray ikut bangkit juga


"Mau gue anterin?..."Belum sempat Bella menjawab Ray sudah mengangkat suaranya lagi."Kayanya lo bukan tipe cewe yang gampang dianterin pulang, gimana kalau gue tantang lo balapan, sampai depan rumah lo..."


Bella tersenyum


"Bilang aja lo mau sekalian nganter gue..."


Ray tertawa kecil


"Maksud yang sama, tapi dengan cara yang berbeda. Ayo berani gak?..."


Bella berjalan mendahului Ray


"Siapa takut..."jawabnya singkat.


Mendapat persetujuan Bella membuat senyum Ray tak luntur-luntur. Ray langsung berlari menyusul langkah Bella.


Bella sudah siap diatas motornya sambil memakai Helm.


"Yang kalah besok bayarin makan dikantin..."ucap Bella santai.


Ray tertawa mendengar itu,


"Seyakin itu bakal menang?..."Ray cukup menganggap Bella remeh.


"Jangan banyak ngomong, buruan..."ucap Bella dengan lantang.


Ray dengan cepat naik ke motornya, lalu memasang helmnya.


Keduanya sudah mulai melajukan motor masing-masing dengan kecepatan yang tinggi. Bella tersenyum melihat Ray nampak jauh ketinggalan. Ray bisa dibilang jago dalam hal motor. Ia sudah sering ikut serta dalam balapan liar. Tapi karena saat ini ia melawan Bella, dipikirnya ia tak perlu terlalu serius. Ternyata Ray salah, Bella bukan lah musuh yang mudah, terlihat dari cara Bella mengendarai motornya, sangat lihai.


Citt...


Bella melepaskan helmnya. Tak lama setelah itu Ray nampak berhenti disamping motor Bella.


"Heh, gimana? Besok bayarin gue makan..."ejek Bella.


Ray melepaskan helmnya.


"Hebat juga lo Bel, oke gampang besok gue traktir lo sama teman-teman lo sekalian..."


Bella tertawa kecil


"Songong amat..."


"Hahaha, udah sekarang lo masuk..."ucap Ray.


Bella pun langsung memarkirkan motornya dan masuk kerumahnya.


Berbeda dengan Ray, setelah memastikan Bella aman. Ray baru melajukan motornya untuk pulang.



Klek...


Bella membuka pintu rumahnya, menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 22.00.


"Udah malam banget, papa sama mama udah pulang belum ya?..."lirih Bella.


Bella merasa sangat haus, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil minuman ke dapur. Ternyata disana ada ayah Bella yang sedang makan tapi masih dengan layar laptop yang menyala di hadapannya.


"Gak ada waktu lagi ya pah sampai makan sambil kerja, ini udah malam..."ucap Bella.


Albert menoleh kearah Bella yang sedang menuang minuman ke gelasnya.


"Baru pulang..."tanya Albert.


Bella menghabiskan minumannya dengan cepat.


"Ia pah, tadi Bela pergi ke..."


Belum sempat Bella menyelesaikan perkataannya, Albert sudah kembali mengeluarkan suaranya.


"Terserah kamu, papa nggak peduli kamu kemana. Asal jangan bikin malu orang tua..."jawabnya ketus.


Bella tersenyum miris. Hatinya seolah tertawa mendengar penuturan Albert. Setidak penting itulah dia sampai tak ada yang peduli.


Bella memutuskan meninggalkan Albert menuju kamarnya tanpa menghiraukan perkataan sang ayahnya itu.


Bella menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya. Hari ini cukup menguras tenaga. Tanpa sadar senyum terbit dibibir Bella kala mengingat sosok Ray. Pria itu punya cara berbeda untuk lebih dekat dengan Bella. Tanpa paksaan dan tanpa cara yang membuat Bella ilfil padanya.


Bella meraih ponsel diatas mejanya, masih mencoba menghubungi Amel namun tak kunjung diangkat.


Tok.. tok


Bella kaget saat mendengar pintu jendelanya ada yang mengetuk.


Bella dengan cepat bangkit menuju jendelanya, tanpa rasa takut sedikit pun. Bella membuka jendelanya pelan, setelahnya ia merasa bingung, tak ada siapapun disana.


Tatapannya beralih pada sebuah bingkisan yang tergeletak dihalaman rumahnya, lebih tepatnya dibawah jendela Bella. Karena penasaran Bella langsung keluar mengambil kotak itu lalu kembali lagi ke kamarnya.


Bella membuka bingkisan itu itu perlahan. Terdapat kotak kecil tapi terlihat sangat elegan. Bella membuka kotak itu, terdapat kalung yang sangat indah.



Disamping kotak itu terdapat sebuah kertas kecil. Bella meraih kertas kecil itu.


“Kalung yang cantik untuk wanita yang cantik pula, Jangan senyum-senyum gue gak rela nyamuk-nyamuk kecil malam ini menyaksikan manisnya senyuman mu, Good night Bella! Have a nice dream!” –Raymond Zionathan–



Tanpa sadar Bella tersenyum senang.


"Ada-ada aja lo Ray..."lirihnya pelan.


Bella memutuskan untuk memakai kalung itu. Kalung itu sangat cantik menurutnya dan dia sangat menyukainya. Dengan senang hati Bella memakainya.


Bella berjalan menuju meja hiasnya.


"Cantik banget kalungnya..."pujinya.


"Gue mandi dulu deh, gerah banget..."lirih Bella lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Bella menyiapkan air hangat untuk dirinya berendam malam ini.


Bella mulai berendam didalam bath up, melepas rasa lelahnya. Cukup lama ia berendam sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyelesaikan ritual mandinya.


Selesai mandi Bella mengenakan baju tidurnya, lalu memutuskan untuk segera tidur.



Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Bella mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasanya tidurnya sangat nyenyak malam ini.


Bella memutuskan untuk bangun. Ia segera mandi dan menunaikan kewajiban sholat subuhnya.


Setelah selesai Bella sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Mengambil tasnya dan meraih jaketnya.


Bella turun menuju meja makan. Seperti biasa orang tuanya sudah duduk terlebih dahulu.


Bella langsung duduk tanpa menyapa.


"Jangan keluyuran terus kamu Bella, tugas kamu tuh sekolah bukan keluyuran gak jelas..."ucap Luna sang ibu.


Bella memutar bola matanya malas,


"Masih peduli mah..."jawabnya singkat.


Brak


Luna berdiri sambil memukul meja cukup keras,


"Jangan kurang ajar ya kamu Bella, papah sama mama udah capek-capek kerja buat sekolahin kamu..."


Bella yang sudah lelah dengan semua itu bangkit dari duduknya. Meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan panggilan ibunya itu.


Ia memutuskan untuk berangkat kesekolah tanpa sarapan,


"Gue sarapan disekolah aja deh..."lirih Bella.


Ia pun mengendarai motornya meninggalkan halaman rumahnya.