BELLA

BELLA
~Bella 9~




Sepulang dari rumah Amel, Bella langsung kembali kerumahnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Bella nampak duduk di kasurnya.


"Uang gue udah lumayan menipis nih, mana masih banyak lagi yang harus gue tanggung. Ya Allah permudahkan lah segala langkah Bella dalam membantu orang yang membutuhkan bantuan Bella..."lirih Bella pelan.


Tok...tok...tok


Ada yang yang mengetuk pintu kamar Bella.


"Non Bella, bisa keluar kamar sebentar. Tuan dan nyonya ada dibawah non..."ucap bi Ina.


"Iya bi bentar..."jawab Bella.


Bella nampak bingung


"Tumben mamah papah udah pulang, ini kan masih sore..."gumam Bella.


Tak ingin dihantui rasa penasaran Bella memutuskan keluar dari kamarnya.


"Mah pah, kenapa?..."tanya Bella.


"Mama duluan ya yang ngomong, mama mau liburan sama teman-teman mama ke Paris, mungkin seminggu baru pulang, jadi kamu baik-baik ya dirumah..."ucap Luna tersenyum senang.


Bella tersenyum getir,


"Kenapa Bella gak diajak mah?..."tanya Bella lemah.


Luna tersenyum sinis,


"Ngapain sih ikut-ikutan, kamu dirumah aja. Ini khusus buat mamah sama temen-temen mamah aja, kamu gak usah ngerepotin mama..."jawab Luna sewot.


Senyum Bella hilang seketika,


"Jadi selama ini Bella ngerepotin mamah..."


Luna melirik Bella malas,


"Ga usah cengeng ya kamu, kamu itu udah besar harus mandiri. Ya udah mama kekamar dulu, mau siap-siap buat berangkat besok..."ucap Luna bergegas ke kamar.


Hanya tersisa Bella dan sang ayah yaitu Albert.


"Kalau papah? Mau ninggalin Bella juga, liburan kaya mamah..."ucap Bella mencoba memaksakan senyumannya.


"Papa mungkin akan mengurus bisnis papa yang ada di Malaysia, jadi papa akan berangkat kesana..."jawab Albert.


Bella meratapi takdir hidupnya sekarang,


"Uang buat kamu udah papa transfer ke rekening kamu..."sambung Albert lagi.


"Bella butuh kalian pa, bukan uang..."ucap Bella melemah.


"Alah semua orang perlu uang Bella, jangan munafik kamu. Ya sudah papa mau nerusin kerjaan papa dulu..."ucap Albert lalu meninggalkan Bella.


Bella dengan cepat berlari ke kamar dan menutup cepat pintu kamarnya.


Bella bersandar dibalik pintu hingga kakinya merosot ke lantai.


Bella menangis sejadi-jadinya. Meluapkan semua emosi dan rasa kesalnya.


"Ya Allah, Bella gak kuat, Bella cape hikss hiks, tolong bantu Bella..."lirih Bella pelan ditengah tangisnya.


Cukup lama Bella menangis dikamarnya, hingga ia merasa lelah dan tertidur.



Jam menunjukkan pukul 20.00 malam, Bella yang sedang halangan jadi tidak bisa menunaikan ibadah.


Bella berniat ingin menenangkan pikirannya.


Ia tak berniat tidur dirumah malam ini, Bella membawa satu lembar baju dan seragam sekolahnya dalam tas miliknya. Entah kemana ia akan tidur tapi tidak dirumah.


Ia bergegas meninggalkan rumah dan melajukan motornya.


Bella menghentikan motornya disebuah taman yang indah. Penuh dengan lampu-lampu warna-warni.


Bella duduk di kursi tangan melamun.


"Cewe cantik ko malam-malam sendiri sih..."ucap seseorang dari belakang Bella.


Bella yang kaget langsung menatap kearah belakangnya.


"Ray, lo ngikutin gue?..."ucap Bella.


Ray tersenyum manis


"Gue cuman ngikutin hidup gue..."jawabnya singkat.


Bella hanya diam tak merespon.


Ray pun memberanikan diri duduk disebelah Bella.


"Lo ada masalah kan Bel..."tanya Ray pelan.


"Gue gak papa ko, btw thanks udah bayarin makan gue sama temen-temen gue..."jawab Bella seraya menatap Ray.


"Udah kewajiban gue, gue kan kalah sama lo..."jawab Ray disertai dengan tawa kecil.


"Bisa aja lo Ray..."ucap Bella.


"Nah kalau senyum gini kan cantik banget..."goda Ray.


Bella menepuk pundak Ray pelan,


"Gombal..."


"Terkadang masalah itu selalu datang tanpa henti Bel, seakan gak ngasih waktu buat kita istirahat..."Ray mengembuskan napasnya pelan. "Keadaan menuntut kita untuk dewasa sebelum waktunya, kita dipaksa kuat oleh keadaan Bel, itu yang bikin kita terbiasa..."sambung Ray lagi.


Bella masih diam mendengarkan perkataan Ray,


"Tapi kalau kita nyerah, berarti kita kalah dong sama keadaan, kita harus buktiin pada dunia, kalau kita bisa. Kita gak sendiri Bella..."sambung Ray lagi.


Bella tertegun mendengar perkataan Ray,


"Lo bener Ray, gue cuman lelah aja..."jawab Bella.


Ray menggenggam tangan Bella erat,


"Lo punya gue Bella, jangan pernah merasa sendiri. Gue mungkin terlambat masuk ke kehidupan lo, tapi gue gak akan ninggalin lo, gue akan selalu ada buat lo..."ucap Ray.


Bella tersenyum melihat ketulusan Ray padanya,


"Itu adalah kalimat penenang buat gue Ray, setidaknya masih ada yang peduli sama gue, makasih udah ada buat gue..."


"Masih banyak yang peduli sama lo, ada gue, temen-temen lo, jangan pernah ngerasa sendiri..."ucap Ray.


Bella memang baru mengenal Ray beberapa hari yang lalu, tapi Ray terlihat sangat tulus padanya. Tidak ada salahnya jika Bella berteman dengan Ray, lagi pula Ray anak yang baik didalam dan diluar sekolah.


"Iya Ray..."jawab Bella.


"Mau nggak ikut gue, gue gak macam-macam ko, cuman ngajakin lo ke suatu tempat aja..."ajak Ray nampak ragu-ragu.


Bella tertawa kecil,


"Santai aja kali, gue percaya ko sama lo, ayo kemana..."tanya Bella.


Ray bernafas lega


"Gue takut aja lo mikir macem-macem tentang gue, gue gak bakal nyakitin lo ko, malahan gue pengen jagain lo terus..."goda Ray.


"Udah ah ayo..."ajak Bella.


"Lo ikutin motor gue, gue gak ngebut-ngebut ko..."pesan Ray yang dibalas anggukan oleh Bella.


Bella dan Ray melajukan motor mereka.


Selama kurang lebih 15 menit, mereka sudah sampai disebuah Villa sederhana yang sangat indah dengan suasana yang masih asri.


"Ini Villa siapa Ray?..."tanya Bella penasaran.


"Ini Villa gue, setiap uang bulanan yang dikasih nyokap sama bokap gue, selalu gue kumpulin. Dan gue beli Villa ini..."jawab Ray seadanya.


Bella nampak kagum pada sosok Ray,


"Kenapa lo beli Villa ini?..."tanya Bella lagi.


"Ya kalau gue lagi males pulang kerumah, gue kesini. Buat nenangin pikiran gue, yuk masuk. Didalam ada bi Ratna ko, buat bersih-bersih Villa ini..."jelas Ray lalu melangkah memasuki Villa itu diiringi oleh Bella dibelakangnya.


"Bi Ratna, ini Ray datang..."teriak Ray.


Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah bi Ratna nampak berlari kecil menghampiri Ray dan Bella.


"Ia den?..."tanya bi Ratna.


"Bi tolong ajakin Bella ke dapur bentar, takutnya dia haus atau lapar, Ray mau ganti baju bentar kekamar..."ucap Ray.


"Baik den..."jawab bi Ratna.


"Ayo non ikut saya ke dapur, saya buatin minuman sama makanan juga..."ucap bi Ratna sopan.


Bella tersenyum lalu mengangguk.


"Bibi udah lama kerja disini?..."tanya Bella.


"Sekitar 3 tahun lah non..."jawab bi Ratna.


"Emm gitu ya..."ucap Bella mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Non mau minum apa, biar bibi buatkan..."tanya bi Ratna.


"Gak usah bi, Bella gak haus. Bella boleh tanya-tanya gak bi?..."ucap Bella sedikit ragu.


Ratna tersenyum lalu mengangguk.


"Ray sering kesini?..."tanya Bella penasaran.


"Sering non, tapi baru kali ini ajak cewe, non pacarnya ya?..."goda bi Ratna.


Bella nampak malu,


"Bella temennya Ray bi, yaudah bi Bella mau kembali keruang tamu tadi aja, makasih ya bi..."ucap Bella sopan


"Ia non..."jawab bi Ratna.


Bella lalu berjalan menuju ruang tamu, dan duduk disofa itu. Sambil meletakkan tasnya diatas meja.