
~Tuhan bolehkah aku mengeluh, aku tidak ingin uang yang melimpah tapi aku ingin kasih sayang yang berlimpah~
— Bella Ainsley —
Prang...
"Kamu itu bisa ngurus suami gak sih, kerjaannya keluyuran gak jelas, mana kewajiban kamu sebagai seorang istri hah..."
"Mas, kamu kenapa gini sih, kan ada bi Ina yang ngurus kebutuhan kita, apa gunanya art kalau masih aku yang ngurusin semua keperluan rumah, aku ini kerja mas bukan keluyuran, masalah kecil gini aja kamu permasalahin banget..."
"Aku kerja itu buat nafkahin kamu sama Bella, kamu gak usah kerja, sok mandiri, ngurus suami aja gak bener..."
"Terserah mas mau ngomong apa, aku cape mas baru pulang kerja udah diajak ribut kaya gini..."
Plak...
"Berani kamu ya ngelawan suami..."
"Kamu jangan kurang ajar ya mas, jangan sampai aku laporin kamu kepolisi dengan tuduhan KDRT..."
"Terserah, aku gak takut..."
Bella menghembuskan napasnya kasar, setiap harinya tak ada keharmonisan dalam keluarganya. Selalu pertengkaran dan kekerasan yang menyelimuti keluarganya. Sejak Bella menginjak usia 12 tahun, Bella tidak pernah lagi merasakan kasih sayang yang cukup, apalagi kepedulian orang tua. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bella sering menangis dalam kamarnya, meratapi ketidakberuntungan nya. Ia sering iri dengan teman-temannya yang merasakan kehangatan sebuah keluarga.
"Ya Allah Bella cape, Bella juga pengen kaya temen-temen Bella yang disayang sama mama papa, kenapa Bella beda sama mereka, maafin Bella ya Allah, Bella sering ngeluh, hiks, tapi Bella gak kuat, Bella pengen ngerasain kaya waktu Bella kecil, dimanjain sama mama papah..."lirih Bella ditengah isakannya.
Setelah banyak menangis Bella terlelap dalam tidurnya.
Kring...
Jam beker milik Bella berbunyi, Bella perlahan membuka matanya yang sembab akibat terlalu banyak menangis. Bella bangkit dari tempat tidurnya dan masuk kekamar mandi. Sekitar 15 menit Bella sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ia mengambil wudhu dan menunaikan kewajiban sholat subuhnya.
"Ya Allah, maafin Bella yang selalu ngeluh, Bella gak pengen ngeluh lagi kali ini, Bella cuman minta diberi kekuatan dan ketabahan, biar Bella kuat mengajalanin takdir yang sudah Engkau gariskan untuk Bella..."terdengar isakan kecil disela doanya.
Saat selesai sholat, Bella sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Kepalanya terasa sedikit pusing. Bella berjalan menuju meja makan. Terlihat kedua orangtuanya sedang menikmati sarapan.
"Pagi mah pah..."sapa Bella lalu ikut duduk bergabung.
Tak ada sahutan sama sekali, semuanya sibuk dengan makanan masing-masing.
"Buruan sarapan Bella, nanti kamu telat..."jawab Luna sang ibu.
"Mah kepala Bella pusing, Bella gak enak badan, boleh gak kalau pagi ini Bella pengen minta anterin kesekolah..."lirih Bella pelan.
"Kamu itu udah besar Bella, jangan manja, kalau kamu mau tuh minta anterin sama papa kamu, mamah sibuk hari ini, mama berangkat duluan..."jawab Luna lalu pergi.
"Papa juga gak bisa, papa ada meeting pagi ini, kamu mandiri dong, jangan manja, papa berangkat dulu..."Sambung Albert sang ayah.
Bella tersenyum getir melihat kepergian kedua orangtuanya. Bella melanjutkan sarapannya dengan susah payah.
"Gue harus makan, pura-pura bahagia kan butuh tenaga..."Bella membatin.
Selesai makan Bella buru-buru menuju halamannya, memakai helm full face kesayangannya lalu mulai melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang tinggi menuju sekolah. Pikirannya lagi-lagi kacau sekali pagi ini.
Keberuntungan memihak pada Bella, pagar sekolah masih terbuka, artinya dia tidak terlambat pagi ini.
Bella dengan cepat menuju parkiran dan memarkirkan motornya disana.
Bella menghembuskan nafasnya pelan lalu mulai berjalan melewati koridor sekolah dengan wajah ceria lagi. Ia berhasil menyembunyikan kesedihannya.
"Gue tuh udah lama sayang sama lo Mel, lo mau gak jadi pacar gue, gue janji bakal jagain lo..."
"Bukannya lo pacaran sama Bella ya Al, kok lo malah nembak gue sih..."
"Gue tuh cuman sayang sama lo Mel..."
"Gue sebenernya juga udah lama sayang sama lo Al, tapi gimana sama Bella..."
Terdengar suara yang sangat familiar bagi Bella, Bella menghentikan langkahnya sejenak lalu memutuskan untuk menuju sumber suara tersebut.
Bella menuju kelas yang bersebelahan dengan kelasnya.
Bella terkejut melihat kekasihnya memegang erat tangan sahabatnya Amelia. Hatinya terasa sakit mendengar semua penuturan Aldi yang sudah menjadi kekasihnya selama 5 bulan terakhir.
"Lo harus kuat Bel, gak papa, semuanya bakal baik-baik aja, tenang Bel tenang..."Bella nampak berusaha mengontrol emosinya.
Perlahan Bella masuk kekelas tersebut.
"Woy apa-apaan nih pegang-pegangan tangan, katanya temen kok kaya demen..."ucap Bella disertai dengan tertawa kecil. Bohong saja jika Bella biasa saja saat melihat kejadian itu, hatinya sangat sakit tapi ia berusaha menutupinya.
Kedua insan yang ada dihadapan Bella nampak gelagapan.
"Bel ini gak seperti yang lo liat ko, gue sama Aldi cuman temenan aja..."jelas Amelia panik.
"Temen tapi sayang, gitu gak sih..."ucap Bella dengan santainya.
"Kalo udah gak sayang bilang Aldi, jangan ngilang lalu bilang sayang ke orang lain, punya hati kan lo..."ucap Bella dengan suara cukup tinggi.
"Maafin gue Bel, gue gak bermaksud nyakitin lo, tapi gue sayang sama Amel..."Sahut Aldi penuh keyakinan.
Bella tersenyum getir nampak seperti senyuman penuh paksaan,
"Santai aja kali Al, oh iya jagain nih temen gue, jangan disakitin kaya lo nyakitin gue, kita putus Al..."
"Maafin gue Bel, maaf udah nyakitin lo..."ucap Aldi merasa bersalah.
Bella tertawa kecil.
"Cowok brengsek kaya lo gak pantes dapetin maaf dari gue Al, basi tau nggak..."
"Bel semuanya tuh gak seperti yang lo liat, gue sama Aldi cuman temen kok, serius Bel..."jelas Amel getir.
"Gue bukan anak indigo Mel, tapi gue bisa bedain mana temen yang kaya setan..."ucap Bella lalu pergi meninggalkan kedua insan yang masih diliputi rasa bersalah.
Bella berlari menuju taman belakang sekolahnya.
"Hiks dasar brengsek..."lirih Bella.
Bohong saja jika ia tidak sakit hati dengan kenyataan ini. Ia sangat menyayangi Aldi, baginya hanya Aldi yang selalu ada untuknya selama beberapa bulan terakhir ini, tapi takdir berkata lain.
"Bella lo kuat, gak papa cowo masih banyak, ini semua salah lo yang terlalu berharap sama cowok, Bella kuat, gak papa, semuanya bakal baik-baik aja, senyum Bella senyum..."ucap Bella mencoba menguatkan hatinya kembali.
Bella menghembuskan nafasnya perlahan
"Huft...senyum Bel, lo kuat, masa gini aja nangis sih..."lirih Bella lalu mengusap air matanya dan mencoba tersenyum kembali. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju kelasnya.