
*
*
Hardi merebahkan punggungnya di sandaran kursi. Mereka tengah berada diruang tunggu sebuah rumahsakit untuk memeriksakan kandungan Alena.
Tautan tangan mereka tak pernah terlepas. Sesekali Hardi mengelus perut buncit istrinya dengan lembut. Dan merasakan gerakan dari dalam sana. Respon si bayi. Membuat dirinya tersenyum bahagia.
Beberapa orang memandang dengan tatapan iri dan juga kagum.
"Anak pertama?" tanya seorang ibu di samping Alena.
"Kedua," jawab Hardi.
Perempuan itu tersenyum penuh kekaguman.
"Ibu Alena." seorang suster memanggil.
Hardi lebih dulu berdiri, menarik lengan Alena perlahan. Memapah istrinya tersebut kedalam ruang pemeriksaaan.
Seorang dokter cantik menyambut mereka dengan senyuman yang manis.
"Selamat sore, silahkan."
Keduanya duduk di kursi di depan dokter tersebut.
"Baik, silahkan ibu, kita periksa dulu ya." dokter tersebut mempersilahkan Alena untuk berbaring di blankar pemeriksaan. Alena menurut.
Perlahan, perempuan itu menaiki blankar dibantu Hardi. Kemudian membaringkan dirinya.
Pemeriksaan dimulai. Detak jantung, tekanan darah, dan beberapa pertanyaan seputar keluhan kehamilan pada umumnya.
Kini tiba saatnya untuk memeriksa detak jantung si bayi. Sebuah alat diletakkan di perut buncitnya Alena setelah sebelumnya dokter tersebut mengoleskan cairan gel bening. Menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Keatas dan kebawah, mencari detak jantung.
Sebuah detakan halus terdengar ketika alat itu berhenti di bagian kiri perut, dokter itu menghentikan gerakan alat yang di pegang ya. Menekannya sedikit kencang.
Suara detakan terdengar lebih jelas. Detak jantung si bayi.
Alena mendongak, menatap wajah suaminya yang tengah serius menatap kegiatan itu.
Hardi mengatupkan bibirnya agak kencang, mendengarkan suara detak jantung mahluk kecil yang sedang tumbuh di perut istrinya. Segala rasa membuncah dalam dada. Bahagia, kagum, terharu. Walaupun ini bukan kali pertama dia mendengar detak jantung bayi dalam kandungan Alena, namun tetap saja, rasanya selalu sama ketika dia mendengarnya saat pertama kali.
Hardi meraih tangan Alena. Menautkan jari-jari mereka dengan kencang.
"Baik, sekali lagi kita USG ya Bu?" kata-kata dokter menyadarkan Hardi dari lamunan.
Alena mengangguk pelan.
Lagi, sebuah alat diletakkan di perut buncitnya Alena. Kembali digerakkan seperti tadi. Mata mereka tertuju pada layar besar di ujung blankar.
Tampak sebuah gumpalan berwarna hitam dan abu-abu, kemudian semuanya terlihat makin jelas.
Ada bulatan besar dan bulatan kecil, sepertinya itu wajah si bayi yang sedang menghadap ke depan. Karena USG nya 4 dimensi menjadikan semuanya terlihat sangat jelas.
Wajah bulat sibayi yang tengah mengemut ibu jarinya, sementara tangan yang satunya memegang tali ari-ari dengan kencang.
Lagi, Hardi dibuat terpesona dengan ciptaan Tuhan yang satu itu. Walaupun ini bukan pertama kalinya Alena menjalani USG, namun tetap saja selalu membuatnya tak mampu berkata-kata.
Setetes air lolos dari sudut matanya yang langsung di usapnya dengan segera.
"Kandungan sudah memasuki usia 34 Minggu ya Bu. Kalau perkiraan nya tepat ibu akan melahirkan dua atau tiga Minggu kedepan. Sejauh ini semuanya baik, ibu dan janin sehat. Tinggal jaga kondisi saja." dokter mengakhiri sesi pemeriksaan hari itu.
Hardi manggut-manggut kala mendengarkan segala penjelasannya dokter di depannya. Tak ada yang dia lewatkan.
*
*
Alena tengah berdiri di depan cermin ketika Hardi barusaja selesai membersihkan diri. Memungut stelan kerjanya yang telah disiapkan perempuan yang tengah mengandung sembilan bulan itu diatas tempat tidur, Kemudian memakainya.
Hingga setelah dia selesai berpakaian, istrinya itu masih betah menatap cermin besar di hadapannya.
"Kamu lagi lihat apa sih?" Hardi menghampiri Alena, berdiri di belakang perempuan itu.
Alena memegangi perut buncitnya dengan kedua tangannya. "Aku gendut." katanya, tiba-tiba, membuat kening Hardi berkerut.
"Kamu lagi hamil, bukannya gendut." Hardi menghibur, dia yakin sebentar lagi istrinya tersebut akan merajuk, dengan keluhan tentang bentuk badannya yang memang membesar di usia kehamilan yang kedua ini.
Alena mencebik. "Kakak nggak ilfeel gitu lihat badan aku yang sebesar ini sekarang?" lagi-lagi Alena membahas bentuk badannya.
Hardi menghela napas pelan, kemudian tersenyum. Walau dalam hati dia agak merasa serba salah. Karena jawaban apapun yang keluar dari mulutnya takan bisa memuaskan perasaan Alena yang memang sedang dalam masa sensitif. Gugup, takut, antusias dan bersemangat yang bercampur jadi satu dalam menghadapi kelahiran bayi yang dikandungnya yang tinggal menunggu hitungan hari.
Hardi merangkul tubuh istrinya dari belakang. Mengelus perut buncitnya yang makin hari terlihat makin menggemaskan dimatanya.
Alena mendongak. Kemudian sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya.
"Kamu ... seksi," sebuah senyuman terbit disudut bibir Hardi, membuat kening istrinya mengerut.
"Ish, ... kakak ini!!" katanya, memutar tubuhnya sehingga mereka kini berhadapan.
Hardi terkekeh. "Daripada mikirin berat badan, mendingan pasangin dasi aku, nih." menyodorkan dasi berwarna senada dengan jasnya.
Alena mengerucutkan bibir mungilnya, namun tak urung juga dia menuruti kemauan sang suami.
Dengan cekatan dia memasangkan dasi di kerah kemeja Hardi, membuat simpul melingkar dan mengikat. Kini dia sudah mampu melakukannya dengan cepat, karena telah terbiasa.
"Pinter, ..." Hardi tersenyum, " Ini hadiahnya karena kamu pintar hari ini." meraih tengkuk Alena, mendaratkan ciuman lembut di bibir mungil perempuan itu.
Kedua bola mata Alena membulat dengan sempurna, mendapat serangan tak diduga.
"Kakak, iihh ...!!" protesnya, menepuk pelan dada suaminya.
"Kalau kamu banyak protes, apalagi mengeluh seperti tadi, aku jamin pagi ini nggak akan berakhir dengan benar, dan aku nggak akan bisa pergi kerja tepat waktu." ancamnya, sedikit menyeringai.
"Memangnya kakak mau apa?" Alena mengerutkan dahinya.
Hardi kembali menyeringai, "Kamu mancing," mengendurkan ikatan dasi di lehernya, kemudian berusaha membuka beberapa kancing kemeja bagian atasnya.
"Eh ...??" Alena baru faham maksud perkataan suaminya barusan, "Mau ngapain? nggak, nggak. Aku nggak ngeluh lagi. Ayo kita sarapan, nanti kakak terlambat masuk kerja." katanya, yang kemudian segera kabur dari hadapan suaminya. Membuat Hardi tergelak.
Ancaman itu ternyata ampuh juga!!
*
*
*
*
Hardi menyelimuti tubuh polos istrinya sampai ke leher ketika perempuan itu telah jatuh terlelap tak lama setelah kegiatan malam mereka. Mengecup kening Alena yang agak masih menyisakan sedikit keringat, kemudian mengelus perut buncit istrinya itu agak lama.
Tiba-tiba saja pemuda itu ingin menempelkan telinganya di perut yang didalamnya tengah tumbuh makhluk kecil yang tak lama lagi akan segera lahir kedunia. Walaupun tak seorang pun tahu kapan waktunya.
"Hey, are you ok?" kembali mengelus dengan lembut. Ada pergerakan di bagian tengah, membuat pria itu terperanjat. Lalu tersenyum.
"Cepat lah lahir, kami sudah menunggu kamu." bisiknya lagi, kemudian direspon dengan gerakan lagi di bagian kiri. Hardi terkekeh lagi.
"Jangan menyusahkan mama mu lebih lama ok?" katanya, kemudian menciumi perut yang sedang bergerak gerak itu.
Alena mengerang, merasakan pergerakan intens di dalam rahimnya. Namun tak membuatnya terbangun sedikitpun, hanya menggeliat perlahan kemudian tertidur lagi.
Hardi menyudahi interaksinya dengan bayi yang belum lahir itu, kemudian memutuskan untuk segera tidur menyusul Alena ke alam mimpi.
*
*
*
Guncangan pada tubuh Hardi terasa begitu keras hingga membuat pria itu segera terbangun dari mimpinya. Didapatinya Alena yang sudah terduduk di sisinya.
"Apa sih?" meraih ponsel di nakas di samping tempat tidur, melihat jam. "Jam 3 subuh lho, Al!!" katanya, agak kesal.
"Aku ngompol!!" Alena merengek.
"Hah, apa?"
Alena menunjuk pangkal pahanya yang terlihat basah, beberapa menit lalu dalam tidurnya dia merasakan sesuatu yang memancar dari ***********.
"Kayaknya aku ngompol, kak." ulangnya lagi.
"Kok bisa?" Hardi segera bangkit.
Perempuan itu turun dari ranjangnya, setelah sebelumnya memakai daster tidurnya terlebih dahulu, dia kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun kemudian teriakan nyaring terdengar dari dalam.
"Kakak!!"
Hardi bergegas menghampiri. Membuka pintu kamar mandi yang tak dikunci.
"Kenapa?"
"Aku berdarah!!" katanya, dengan wajah memucat. Dia mencoba berdiri, berpegangan ke tembok. Menyentuh pangkal pahanya, menunjukkan cairan yang tengah mengalir darisana.
"Apa?" tentu saja membuat suaminya terkejut setengah mati. Menatap ke paha Alena yang terlihat mengalirkan cairan berwarna agak kemerahan.
Seketika jantungnya berdegup kencang.
"Aku harus apa? ... Kamu mau melahirkan? Terus aku harus apa?" katanya, mulai panik.
"Sakit," keluh Alena,emegangi perut bagian bawahnya yang terasa tengah dikoyak. Perempuan itu hampir terisak.
*
*
Hardi mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan, setelah sebelumnya menelfon Hana yang tempat tinggalnya tak jauh dari apartemen. Memberitahu keadaan Alena dan memintanya datang untuk menemani putra mereka yang tengah tertidur pulas.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di UGD sebuah rumah sakit. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya yang tengah merintih kesakitan. Mengabaikan keadaan rumah sakit yang begitu sepi, berteriak minta bantuan.
Beberapa orang petugas jaga langsung datang menghampiri, dua orang diantaranya mendorong sebuah blankar. Hardi kemudian membaringkan tubuh lemah Alena diatasnya.
Beberapa kali Alena menarik napasnya, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar di sekitar perut, pinggang dan area pangkal pahanya. Setidaknya itu yang dia ingat saat pertama kali mengalaminya ketika akan melahirkan Dilan.
"Kakak!!" rengeknya, hampir menangis.
"Bertahan, sayang." Hardi menguatkan. Menggenggam tangan istrinya yang lunglai menahan sakit.
"Maaf, pak. mohon tunggu diluar dulu." ucap seorang perawat ketika mereka tiba di depan pintu ruang bersalin.
"Tapi, istri saya, ..."
"Tunggu dulu pak, nanti kami panggil jika bapak dibutuhkan." jawab perawat tersebut yang kemudian meninggalkan Hardi sendirian di luar.
Hardi mengacak rambutnya frustasi, panik dan bingung menguasai dirinya.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit, belum ada tanda-tanda seorangpun keluar dari ruang bersalin, membuat pria tinggi itu kalut setengah mati.
Terdengar langkah kaki yang tergesa dari arah belakang. Hardi menoleh, mendapati Arya yang setengah berlari kearahnya.
Pintu terbuka dari dalam, seorang perawat keluar.
"Suami ibu Alena diminta masuk keruangan, pak." ucap perawat, melirik wajah kedua pria di depannya secara bergantian.
"Saya saja, suster." Arya mendahului. Membuat dahi perawat itu menjengit.
"Bapak suaminya?" sekilas melirik ke arah Hardi.
"Saya kakaknya." jawab Arya, lemah.
"Lebih baik suaminya yang menemani." jawab sang perawat.
Arya menoleh ke arah Hardi yang masih diliputi kepanikan. Namun tak urung juga suami dari adik bungsunya tersebut maju untuk mengikuti perintah si perawat.
Arya meraih lengan Hardi, menahannya sebentar.
"Kamu bisa?" tanya nya, yang di jawab anggukan lemah dari adik iparnya tersebut. "Kamu yakin?" tanya nya lagi. Dan Hardi pun kembali mengangguk.
Dengan berat, Arya terpaksa melepaskan lengan yang barusan di genggamnya. Menyerahkan sepenuhnya tanggungjawab itu kepada sang adik ipar. Menatap punggung yang berlalu itu hingga dia menghilang dibalik pintu.
*
*
Hardi menghampiri istrinya yang tengah berjuang menahan rasa sakit. Terlihat kening dan wajahnya yang dipenuhi keringat.
"Hey, sayang. Kamu kuat, kamu pasti bisa!" katanya menyemangati. Walaupun tak dipungkirinya, hatinya terasa disayat sembilu melihat keadaan Alena yang kesakitan.
"Sakit." Alena merintih.
"Aku tahu, maafkan aku." katanya, seolah tengah menyesali perbuatannya.
Hardi meraih tangan Alena, menautkan jari mereka dengan eratnya.
"Maaf pak, ibu Alena harus di beri infusan." seorang perawat menyeka percakapan suami istri yang sedang saling menguatkan itu.
"Kenapa?" dahi Hardi mengernyit.
"Ibu Alena kehilangan banyak cairan karena air ketuban nya pecah di awal tadi. Membuat jalan lahirnya kering. Hal itu akan menyulitkan proses kelahiran bayinya, pak." jelas sang perawat sambil menggantungkan satu kantong cairan infus di tiang besi di samping blankar, kemudian menusukkan jarum yang terhubung dengan slang infusnya ke urat nadi di sekitar pergelangan tangan Alena.
Perempuan itu meringis, rasa sakit menusuk ditangannya.
"Saya juga akan memberikan obat induksi untuk mempercepat kontraksi di rahimnya ibu, pak." perawat tersebut kemudian menyuntikkan sesuatu ke kantung infus berwarna bening itu.
Hardi tak mampu berkata-kata, serumit inikan proses yang harus dijalani setiap perempuan untuk melahirkan keturunan? Apa dulu saat melahirkan Dilan juga ini yang dialami Alena? Dia tak mampu berpikir lagi. Hanya dengan membayangkannya saja membuat Hardi merasakan perih di ulu hatinya. Mengingat dulu Alena menjalani semua sendirian, tanpa dirinya.
Tetesan air lolos dari kedua sudut mata pria tinggi berkemeja hitam itu. Dia mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudahnya sempat meminta Alena untuk menggugurkan kandungannya dulu.
Sepuluh menit kemudian Alena mulai merintih, tubuhnya bergerak dengan gelisah. Keringat terus membanjiri kening hingga lehernya.
"Aaa .... sakit!!" racaunya, Alena merasakan bagian bawah perutnya seperti tengah di koyak. Pinggangnya serasa akan patah, membuat Hardi tambah panik. Pria itu bergegas memanggil dokter yang kemudian segera datang menghampiri.
"Kita periksa dulu, ya."
Dokter itu menekukkan kaki Alena, kemudian membukanya lebar-lebar, memeriksa keadaan perempuan tersebut.
"Pembukaannya sudah sempurna," menoleh ke belakang. "Suster, siapkan semuanya," perintahnya kepada perawat yang mendampinginya.
"Siap-siap ya Bu." katanya, "Kalau ibu merasa ingin BAB bilang, ya." katanya, mengingatkan Alena pada kejadian yang sama lebih dari dua tahun yang lalu. Perempuan itu mengangguk lemah. Sementara Hardi makin mengeratkan tautan jari mereka berdua.
"Tarik napas, buang lewat mulut, begitu terus ya Bu sampai terasa mules nya." Alena menurut. Dilakukannya instruksi sang dokter yang membimbingnya untuk menarik dan menghembuskan napasnya. Hingga tiba-tiba rasa mulas yang begitu hebat menyerangnya, kemudian disusul rasa ingin buang air besar.
"Aahh ... aku mau BAB!!"
"Ok, tunggu sebentar lagi." jawab dokter.
"Aku nggak tahan, dokter!! aku mau BAB!!" Alena berteriak kencang. Rasanya dia akan meledak.
"Baik, tarik napas, buang, tarik napas, buang ..." diikuti oleh Alena, "ngeden Bu!" Alena dengan reflek mengejan berapa kali, namun belum bisa mengeluarkan janin dari rahimnya.
"Tarik napas lagi, buang, tarik lagi, buang. ngeden." yang langsung diikuti lagi oleh Alena hingga beberapa kali.
Perempuan itu mengejan sekuat tenaga untuk ke sekian kalinya, berharap bayi di rahimnya segera keluar agar siksaan ini cepat berakhir. Namun belum juga berhasil.
"Aa-aku nggak bisa." Alena menjatuhkan punggungnya di blankar. Rasanya tenaganya sudah terkuras habis. Dia ingin menyerah.
"Kamu pasti bisa, sayang!!" Hardi menyemangati. Mengusap puncak kepala istrinya yang kini telah dibasahi oleh keringat.
"Ayo Bu, sekali lagi." ucap dokter, mengingatkan, sambil menatap jam yang menempel di dinding di sampingnya.
Alena kembali mengumpulkan tenaga dan keberaniannya. Mengingat saat pertama kali dia mengalami hal ini.
Aku bisa!! Dulu aku bisa, sekarang juga aku harus bisa!! gumamnya dalam hati.
Alena mengangguk, kemudian bersiap lagi.
Menarik napas, membuang nya lewat mulut, menarik napas lagi hingga beberapa kali, hingga rasa mulas dan ingin BAB kembali menyerangnya.
Kemudian dia mengejan sekuat tenaga, hingga terasa ada sesuatu yang robek di bawah sana, dirinya bahkan seolah-olah mendengar suara 'krak' yang begitu jelas di telinganya.
Dan sedetik kemudian, "Blepp!!".
Makhluk kecil yang selama sembilan bulan tumbuh di rahimnya kini keluar, dibantu dengan tarikan lembut dari sang dokter yang menanganinya. Suara tangisan bayi segera menggema di ruang bersalin itu. Diikuti suara tangisan Alena yang meraung merasakan kelegaan yang luar biasa.
Hardi segera meraih kepala istrinya dan membenamkannya diperlukan.
"Kamu berhasil! Kamu hebat!!" menciumi puncak kepala Alena dengan air mata yang berderai.
*
*
Hardi tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mendampingi kelahiran bayi mungil dalam pelukannya. Pandangannya tak lepas dari bayi perempuan yang terus di dekapnya seolah takut kehilangan.
Setelah perawat membersihkannya dari kotoran, Hardi segera mengadzaninya persis seperti yang dia lihat di situs berbagi video. Dengan berderai air mata, pria itu terus melafalkan doa-doa dan kata-kata indah menyambut kelahiran bayi cantik itu.
Sesekali dia melirik ke arah Alena yang tengah terlelap. Istrinya itu tampak sangat kelelahan setelah menjalani proses menyakitkan beberapa jam yang lalu.
Arya dan kedua orang tua Hardi yang barusaja tiba dari Jakarta segera masuk kedalam ruang perawatan. Segera menghampiri bayi cantik yang tak lepas dari pelukan ayahnya.
"Cucu nenek mana ..." Linda yang langsung meraih bayi perempuan itu, tak menghiraukan raut wajah khawatir anaknya.
"Hati-hati, ma!! Dia masih bayi!" Hardi mengingatkan.
"Kamu pikir mama ini anak-anak?" Linda menatapnya dengan tajam.
Hardi mencebik.
"Ssssttt!! jangan berisik! Alena lagi istirahat." Papanya menyela.
Namun tak urung, perempuan yang tengah terbaring itu terbangun juga.
Mereka langsung menghampirinya dengan raut wajah sumringah.
"Hey ... kamu berhasil lagi?!" Arya merangkul tubuh lemah adiknya. Disusul Linda dan suaminya.
Alena tersenyum.
Beberapa orang mulai berdatangan. Vania dan ibunya, juga Raja yang membawa kado besar untuk si bayi yang disambut hangat oleh semua orang.
Beberapa menit kemudian Hana dan suami beserta anaknya yang juga membawa Dilan juga tiba. Membuat keadaan makin riuh di dalam ruangan tersebut.
Peluk dan cium bertubi-tubi di terima Alena. Ucapan selamat terus mengalir dari mulut setia orang.
"Namanya siapa?" celetuk Vania yang tengah menggendong bayi mungil di dekapannya.
Semua orang terdiam.
"Aku ...
"Jangan Milea, yah!!" jawab Arya dengan wajah ketus.
"Eh?? Milea juga bagus kok." tukas Vania.
"Ck!! Masa kakaknya Dilan, adiknya dikasih nama Milea, nggak lucu." Arya lagi. "Kelihatan niru filmnya!!"
"Ihh... menurut aku lucu-lucu aja. Abang mah kuno!!" Vania dengan polosnya. Memulai lagi perdebatan yang sempat tak terlihat beberapa lama.
"Kamu, ..." Arya melotot.
"Alea!!" Alena setengah berteriak, menghentikan perdebatan antara kakak laki-laki dan sahabatnya.
"Namanya Alea, seperti aku!!"
Semua orang terdiam, namun kemudian tersenyum.
"Alea nama yang bagus kan.." Linda menyela. Semua orang tampak mengangguk.
"Terus, kapan elu nyusul, Ja?" Hardi tiba-tiba, membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arah sahabatnya.
"Apaan?" Raja terhenyak.
"Sampai kapan mau jomblo terus? umur lu udah cukup." ucap Hardi lagi.
"Lah, gue mah nyantai. Pak Arya aja masih nyantai, apalagi gue. Emangnya elu?!" sindirnya, kepada Hardi.
Kemudian semua orang tiba-tiba mengalihkan perhatian pada Arya yang terdiam entah memikirkan apa.
"Oh iya. Gimana kelanjutannya Abang sama Vania?" Alena yang juga tiba-tiba berujar, sontak membuat semua orang terhenyak. Terutama dua tokoh yang sedang dia bicarakan.
"Apaan sih?" Vania langsung bereaksi.
"Kamu ngaco!!" sambung Arya, dengan pipi semerah tomat, sama seperti Vania.
"Cieeeee ..." Hardi menggoda kakak ipar dan sahabat istrinya.
"Jadi kapan, bang?" tanyanya, kepada Arya yang langsung di jawab dengan gelengan.
"Kalian ngaco!!" Arya memilih keluar dari ruangan yang terasa panas baginya. Meninggalkan gelak tawa yang memenuhi kamar rawat tersebut.
Sementara di sisi lain ada hati yang berdenyut.
Tubuh raja menegang begitu saja menyimak adegan di depan matanya. Menatap wajah polos Vania yang merona menahan malu.
*
*
*
Yes, ini benar-bena akhirnya ya gaess
terimakasih buat kalian yang selalu hadir untuk membaca tulisan receh ini.
like dan komentar kalian sangat berarti, apalagi kalau di tambah vote, makin uwwuw deh akunya.
Sampai ketemu lagi di karya aku selanjutnya, SUGAR yang udah tayang juga.
sekali lagi terimakasih.
I love you full😘😘