
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Suara bariton menggema, memecah kesunyian ruang ijab kabul pagi itu. Semua orang terhenyak.
Pandangan mereka beralih ke belakang, ke arah suara itu berasal.
Seorang pria tinggi berwajah tegas berdiri di ambang pintu. Diikuti gadis semampai di belakangnya.
"Abang?? ..." Alena berbisik dalam diam. Dia memutar badannya. Matanya tertuju pada sosok di ambang pintu yang kini mulai melangkah memasuki ruangan.
Arya berhenti tepat beberapa langkah di depan Alena. Sorot matanya tegas namun lembut. Menatap wajah adiknya yang berdampingan dengan pemuda yang paling dia benci di dunia.
Sebentar dia mengalihkan pandangan kepada sosok disamping Alena, pemuda yang hampir menjadi suami dari adiknya tersebut. Menatapnya lekat.
"Begitu tak sabarnya kalian, hingga tak mau menunggu aku." Akhirnya kata-kata keluar dari mulut Arya.
Dua orang dihadapannya menghela napas dalam. Mencerna ucapan Arya.
Airmata lolos dari kedua netra bulat Alena. Menatap wajah sang kakak yang beberapa bulan ini dirindukannya.
🍃 Flashback On 🍃
Sepasang suami istri berdiri di teras rumah mungil bercat putih itu, menanti sang penghuni rumah membukakan pintu.
Terdengar langkah dari dalam, kemudian pintu pun terbuka. Tampak seorang gadis berwajah manis muncul dari balik pintu.
"Iya?" Katanya.
"Kami ... Orangtua Hardi." Linda mengenalkan diri.
Anna tertegun, menatap suami istri di depannya.
Arya muncul beberapa menit kemudian.
*
*
"Kami tidak meminta demi anak kami,..." Linda memulai percakapan saat mereka telah berada di ruang tamu. "Kami melakukannya untuk Alena." Katanya, dengan mata berkaca-kaca.
"Yang paling diinginkannya adalah kakaknya sendiri yang menikahkan dia." Suaminya menimpali.
"Tanpa aku pun dia bisa tetap menikah, bukan? Ada kalian yang bisa mewujudkan apapun yang diinginkannya." Jawab Arya, dengan suara datar.
Linda menghela napas dalam.
"Tahukah kamu, sesedih apa dia saat ini?" Suaranya bergetar. Teringat beberapa kali dia memergoki calon menantunya sedang melamun. Kadang ada airmata yang mengalir di pipinya. Dia tahu, Alena sedang merindukan kakaknya. Namun tak mampu berbuat apapun karena merasa telah dibuang dari keluarganya.
"Cih!! Bukankan dia sudah dapat yang diinginkannya? Hidup bersama anak kalian.? Lantas apa lagi yang bisa membuat dia bersedih?" Arya masih dengan sikap dinginnya.
"Kamu tahu, bagi seorang anak perempuan, selain ayahnya, kakak laki-laki merupakan pria pertama dalam hidupnya. Menjadi cinta pertamanya." Linda terdiam sebentar.
"Maka, tak ada hal lain yang mampu membuat dia bahagia ketika dia didampingi kakak laki-lakinya di hari paling bersejarah dalam hidupnya."
Arya kembali terdiam.
"Kami mohon, dengan sangat." Linda mengiba. "Datanglah, restui mereka. Nikahkan mereka. Setelah ini, kami tidak akan meminta apa-apa lagi." Katanya.
Kemudian suami istri itu berpamitan, setengah kecewa karena tak mendapat jawaban apapun dari Arya.
*
*
*
Anna telah bersiap dengan pakaian terbaiknya. Hari ini dia akan menghadiri pernikahan adik bungsunya.
Gadis itu membuka pintu kamarnya pelan. Dengan ragu dia mengendap melewati ruang tengah. Berharap kakak laki-lakinya tak mengetahui niatnya untuk pergi ke pernikahan adiknya.
"Kamu juga mau meninggalkan Abang?" Suara Arya terdengar dari arah ruang tengah.
Deg!!
Anna menghirup napas dalam. Mengumpulkan keberanian dalam hatinya.
"Adikku hari ini akan menikah." Katanya.
"Dan kamu akan meninggalkan kakakmu?" Arya kembali bertanya. Dingin.
"Dia sendirian disana, ditengah orang asing yang nggak dia kenal. Setidaknya aku menemani dia untuk yang terakhir kalinya, mungkin.
Arya menatap sendu Anna.
"Ijinkan aku membatah sekali ini saja. Setelah ini, aku nggak akan membantah Abang lagi." Anna terisak. "Adikku mau menikah, bang!!" katanya, airmata berderai di pipinya.
Arya terdiam.
Tak mendapatkan jawaban apapun, Anna kemudian memberanikan diri untuk segera pergi dari sana, sebelum akhirnya suara Arya menghentikannya lagi.
"Kamu tidak mau menunggu Abang sebentar saja untuk berganti pakaian??" katanya, tetesan air lolos juga dari kedua sudut matanya.
Anna terdiam, namun sedetik kemudian sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.
🍃 Flashback Off 🍃
Kedua kakak beradik itu saling tatap dalam kesenduan. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.
Arya mengusap sudut matanya yang mulai basah. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya.
Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Alena yang menengadah menatap wajahnya.
"Bisa dimulai sekarang?" katanya, mengalihkan perhatian kepada penghulu di depan.
Sang penghulu tersenyum dan menganggukan kepalanya. Semua orang menghela napas lega.
Sejenak Arya menatap wajah Hardi, kali ini tak ada kilat kemarahan di matanya. Pria 37 tahun itu kemudian berpindah tempat ke samping kiri penghulu.
Mengulangi adegan yang sempat terjeda beberapa menit yang lalu.
"Hardi Pradipta, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan adik saya Alena Prameswari Binti Suryapradja, dengan mas kawin 20 gram emas dibayar tu-nai."
Hardi menghirup napasnya dalam, "Saya terima nikah dan kawinnya Alena Prameswari Binti Suryapradja dengan mas kawin tersebut tunai."
Semua orang berteriak "Sah!!!!" dengan tepuk tangan yang riuh memenuhi ruang ijab kabul itu.
Kembali air mata mengalir bersama doa yang dipanjatkan. Tangis Alena pecah.
Arya segera menghampirinya, merangkul tubuh mungil adiknya dalam pelukan.
"Abang sudah menunaikan tugas berat ini, sekarang giliran kamu untuk hidup lebih baik. Berbahagia lah." bisiknya di telinga Alena.
Kemudian tangan kanannya terulur ke arah Hardi.
pemuda itu terdiam, menatap wajah Kaka iparnya dengan heran dan terkejut. Namun sedetik kemudian, dia menyambut uluran tangan itu, bersalaman.
Arya merangkul keduanya, mereka bertiga berpelukan.
"Sekarang tanggung jawab ini kuserahkan padamu. Jaga dia seperti aku menjaganya dulu." bisiknya kepada Hardi.
Yang dimaksud menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih." jawab Hardi.
Tangis haru menyelimuti ruangan itu, terutama pada wajah orang tua Hardi yang merasa usaha mereka kini berarti.
💐💐💐💐💐💐
Bersambung...
Heleh... gak cukup ternyata..😂😂
Masih mau like koment sama vote nya dong...😍😍😍
I love you full😘😘